KHAMENEI.ID – Ada jenis kekhusyukan yang mudah dikenali mata, tetapi tidak selalu sampai ke hati. Kepala tertunduk, gerakan tubuh tenang, suara dilirihkan, wajah tampak penuh penghayatan. Di hadapan orang lain, seseorang bisa terlihat begitu dekat dengan Tuhan. Namun ketika pandangan manusia tidak lagi tertuju kepadanya, yang tersisa belum tentu ketundukan yang sama.
Di situlah sebuah nasihat Nabi Muhammad saw terasa seperti teguran yang melampaui zamannya:
إیّاکم وتخشّع النّفاق وهو أن یُری الجسد خاشعاً والقلب لیس بخاشع
“Jauhilah kekhusyukan kemunafikan, yaitu ketika tubuh terlihat khusyuk, sementara hati tidak khusyuk”
Nasihat itu tidak sedang memperdebatkan bagaimana seseorang harus berdiri dalam shalat, bagaimana ia menundukkan kepala ketika berdoa, atau seperti apa ekspresi wajah yang dianggap saleh. Yang disentuh justru sesuatu yang jauh lebih sulit diperiksa: hubungan antara apa yang tampak dan apa yang sesungguhnya hidup di dalam diri.
Khusyuk, dalam pengertian ini, bukan sekadar sikap tubuh ketika shalat, doa, atau zikir. Ia adalah keadaan hati di hadapan Tuhan. Karena itu, tubuh bisa saja menjalankan seluruh tanda ketundukan, sementara hati diam-diam berjalan ke arah yang berbeda.
Persoalannya menjadi rumit karena manusia memang mudah tertipu oleh penampilan termasuk oleh penampilannya sendiri.
Kita dapat mengatur cara berdiri, nada suara, gerak mata, bahkan ekspresi wajah. Tetapi hati tidak selalu tunduk hanya karena tubuh diperintahkan untuk tunduk. Bibir dapat mengucapkan zikir sementara pikiran sibuk menghitung keuntungan. Dahi dapat menyentuh tempat sujud, sementara batin masih menggenggam ambisi, pujian, dan keinginan untuk dilihat sebagai orang saleh.
Di titik ini, kekhusyukan berubah menjadi semacam pertunjukan yang bahkan mungkin tidak disadari oleh pelakunya.
Ada perbedaan antara seseorang yang berusaha mencapai khusyuk dan seseorang yang berusaha terlihat khusyuk. Yang pertama sedang berjuang menata batin. Yang kedua sibuk mengelola kesan. Dari luar, keduanya mungkin sulit dibedakan. Namun di hadapan Tuhan, jarak di antara keduanya tentu tidak kecil.
Gagasan ini mengingatkan pada sebuah doa dalam Shahifah Sajjadiyah yang memohon kepada Tuhan agar manusia dianugerahi akal yang sempurna dan lubb yang kuat. Istilah lubb menarik karena menunjuk pada inti, sari, atau bagian terdalam dari sesuatu. Jika sesuatu memiliki kulit dan isi, lubb adalah bagian yang berada di balik kulit itu.
Manusia pun demikian. Ada lapisan yang terlihat dan ada bagian yang hanya diketahui oleh dirinya dan Tuhannya. Tubuh adalah bagian luar; hati adalah bagian dalam. Perilaku adalah kulit; niat dan kesadaran adalah inti.
Karena itu, masalahnya bukan pada penampilan yang baik. Penampilan yang baik tentu bukan sesuatu yang harus dicurigai. Masalah muncul ketika kulit tumbuh lebih indah daripada isinya.
Bayangkan sebuah buah yang kulitnya mengilap, tetapi bagian dalamnya telah mengering. Dari kejauhan ia tampak segar. Namun ketika dibelah, barulah terlihat apa yang sebenarnya terjadi. Begitu pula kehidupan spiritual manusia. Seseorang bisa membangun citra kesalehan dengan begitu rapi, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh merawat ruang batinnya.
Dalam konteks yang lebih luas, keadaan semacam itu tidak hanya muncul dalam shalat. Ia bisa menyusup ke dalam hampir setiap bentuk keberagamaan. Kita bisa tampak peduli kepada sesama, tetapi sebenarnya sedang mencari pengakuan. Kita bisa berbicara tentang keikhlasan sambil berharap dipuji. Kita bisa memperlihatkan ketenangan di hadapan orang lain, sementara di dalam diri masih berkecamuk keserakahan dan kecemasan terhadap dunia.
Yang berbahaya bukan sekadar bahwa orang lain tertipu. Lebih jauh dari itu, seseorang dapat mulai tertipu oleh citra yang ia bangun sendiri.
Ia terlalu lama memainkan peran sebagai orang yang khusyuk hingga lupa bertanya apakah hatinya benar-benar telah tunduk.
Karena itulah nasihat tentang khusyuk munafik terasa relevan di zaman ketika penampilan semakin mudah diproduksi. Dunia digital membuat manusia terbiasa memilih apa yang ingin diperlihatkan dan menyembunyikan apa yang ingin dirahasiakan. Kesalehan pun dapat berubah menjadi sesuatu yang dikurasi: sudut pengambilan gambar, kalimat yang dipilih, momen yang dibagikan.
Namun hati tidak memiliki tombol penyuntingan.
Di hadapan Tuhan, seseorang tidak dapat memilih hanya sisi dirinya yang ingin ditampilkan. Yang terlihat bukan hanya apa yang dilakukan tangan dan lidah, tetapi juga apa yang dikerjakan hati ketika tidak ada seorang pun yang menyaksikan.
Maka barangkali pertanyaan paling penting setelah nasihat tentang khusyuk bukanlah, “Apakah aku sudah terlihat khusyuk?” Melainkan, “Apa yang terjadi pada hatiku ketika tidak ada yang melihat?”
Sebab ibadah pada akhirnya bukan perlombaan memperindah kulit. Ia adalah perjalanan menuju inti diri. Tubuh memang perlu tunduk, tetapi ketundukan itu baru menemukan maknanya ketika hati perlahan ikut merendah.
Ada orang yang sedikit terlihat, tetapi dalam dirinya tumbuh keheningan yang panjang. Ada pula yang tampak begitu khusyuk, tetapi batinnya terus berlari mengejar dunia.
Kita tidak pernah benar-benar tahu keadaan hati orang lain. Bahkan keadaan hati sendiri pun sering luput dari pengamatan. Maka doa yang paling jujur mungkin bukan agar kita selalu tampak saleh di mata manusia, melainkan agar Tuhan memperbaiki bagian diri yang tidak pernah terlihat oleh mereka.
Agar yang luar tidak lebih indah daripada yang dalam.
Agar tubuh yang tunduk tidak berdiri sendirian.
Dan agar hati, perlahan-lahan, benar-benar belajar bersujud.







