KHAMENEI.ID– Sebuah negara tidak selalu kehilangan kekuatannya ketika persenjataannya berkurang. Ada kalanya sebuah bangsa mulai rapuh justru ketika rakyatnya kehilangan sesuatu yang tidak kasatmata: kepercayaan, harapan, keyakinan pada masa depan, dan rasa bahwa mereka masih berjalan di jalan yang sama.
Kekuatan nasional karena itu tidak semata-mata dapat dihitung dari jumlah tentara, senjata, gedung pemerintahan, atau besarnya anggaran negara. Ada kekuatan lain yang lebih sunyi, tetapi menentukan: apa yang hidup di dalam kesadaran rakyat. Persatuan nasional, kepercayaan publik, harapan bersama, kepercayaan diri sebagai bangsa, dan keyakinan terhadap nilai-nilai yang mereka pegang adalah modal yang sering kali baru terasa nilainya ketika mulai hilang.
Seorang pemimpin mungkin memiliki keyakinan besar terhadap program yang hendak dijalankannya. Ia bisa memiliki keberanian, pengetahuan, bahkan kewenangan untuk mengambil keputusan. Namun semua itu mempunyai batas. Ketika sebuah pekerjaan membutuhkan partisipasi masyarakat, kepercayaan diri seorang pemimpin tidak cukup. Ia membutuhkan kepercayaan diri masyarakat yang dipimpinnya.
Di titik ini, kekuatan bangsa berubah menjadi sesuatu yang bersifat kolektif. Negara tidak lagi berdiri sebagai pemerintah yang berhadapan dengan rakyat, melainkan sebagai satu tubuh yang hanya dapat bergerak jika bagian-bagiannya masih saling percaya.
Sejarah menunjukkan betapa besar daya sebuah keyakinan yang hidup di tengah masyarakat. Pada masa Revolusi Iran, misalnya, rakyat pernah berdiri menghadapi kekuasaan bersenjata dalam keadaan yang secara material nyaris mustahil. Banyak dari mereka tidak memiliki senjata. Bahkan dalam banyak keadaan, batu pun tidak tersedia untuk dijadikan alat perlawanan. Tetapi sebuah rezim akhirnya tumbang.
Yang membuat perlawanan itu mungkin bukan semata-mata kekuatan fisik. Ada keyakinan yang membuat manusia berani berdiri ketika secara kasatmata mereka tidak memiliki banyak alasan untuk menang. Iman, dalam pengertian yang luas sebagai keyakinan terhadap prinsip yang dianggap benar dan layak diperjuangkan, dapat menjadi tenaga sosial yang luar biasa.
Karena itu, kepercayaan masyarakat bukan perkara kecil yang bisa diperlakukan sebagai ornamen politik. Ia adalah modal kekuasaan yang sesungguhnya. Ketika rakyat percaya bahwa perjuangan mereka mempunyai makna, kesulitan dapat ditanggung. Ketika mereka masih memiliki harapan, krisis tidak dengan mudah berubah menjadi keputusasaan. Dan ketika mereka merasa menjadi bagian dari sebuah tujuan bersama, perbedaan tidak otomatis berubah menjadi perpecahan.
Namun persoalannya justru terletak di sini: kepercayaan adalah sesuatu yang mudah dirusak dan sulit dipulihkan.
Masyarakat modern hidup dalam banjir informasi. Satu kabar dapat melintasi batas negara dalam hitungan detik. Kebohongan dapat tampil seperti fakta, sementara fakta dapat dibuat tampak meragukan. Sebuah potongan video dapat dipisahkan dari konteksnya, sebuah tuduhan dapat diulang ribuan kali, dan sesuatu yang keliru dapat dipoles sedemikian rupa hingga terlihat masuk akal.
Teknologi komunikasi memang membuat dunia semakin terhubung. Tetapi keterhubungan tidak selalu berarti kedekatan. Dalam ruang digital, masyarakat dapat berada begitu dekat secara informasi sekaligus begitu jauh secara emosional. Orang-orang menerima pesan yang berbeda, hidup dalam ruang informasi yang berbeda, dan akhirnya membangun kenyataan yang berbeda pula.
Gagasan tentang godaan dan penyesatan dalam tradisi keagamaan menemukan bentuk yang menarik dalam situasi semacam ini. Al-Qur’an menggambarkan tekad Iblis untuk menyesatkan manusia:
لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
“Sungguh, aku akan menyesatkan mereka semuanya”
(QS. Al-Hijr: 39)
Ayat itu bukan alasan untuk mencurigai setiap informasi sebagai bagian dari sebuah konspirasi. Maknanya justru dapat dibaca lebih dalam: manusia selalu berhadapan dengan sesuatu yang berusaha membelokkan penilaiannya dari keyakinan menuju keraguan, dari harapan menuju keputusasaan, dari kepercayaan menuju kecurigaan, dan dari persatuan menuju perpecahan.
Dalam konteks yang lebih luas, perang terhadap sebuah bangsa tidak selalu harus dilakukan dengan menyerang wilayahnya. Ada perang yang berlangsung di dalam pikiran. Ia bekerja perlahan melalui rumor, kebohongan, manipulasi emosi, penghinaan, dan pengulangan pesan yang sama sampai masyarakat kehilangan kemampuan membedakan antara kenyataan dan persepsi.
Tujuannya bukan selalu membuat rakyat percaya kepada sebuah kebohongan tertentu. Kadang tujuannya lebih sederhana dan lebih berbahaya: membuat rakyat tidak percaya kepada apa pun.
Jika kepercayaan kepada pemerintah hilang, masyarakat menjadi curiga. Jika kepercayaan antarkelompok melemah, persatuan nasional retak. Jika harapan terhadap masa depan lenyap, energi sosial berubah menjadi apatisme. Jika kepercayaan diri sebagai bangsa runtuh, setiap persoalan domestik akan tampak seperti bukti bahwa bangsa itu memang tidak mampu berdiri sendiri.
Di situlah kekuatan nasional dapat mengalami erosi tanpa satu pun tembakan dilepaskan.
Karena itu, menjaga persatuan nasional bukan hanya urusan slogan tentang kebangsaan. Ia berkaitan dengan bagaimana masyarakat diperlakukan setiap hari. Kepercayaan publik tidak dapat dibangun hanya melalui pidato. Ia tumbuh dari pengalaman: apakah hukum terasa adil, apakah pemerintah dapat dipercaya, apakah kebutuhan dasar masyarakat diperhatikan, apakah urusan sosial berjalan dengan wajar, dan apakah rakyat merasa suara mereka mempunyai tempat dalam kehidupan bersama.
Harapan nasional pun tidak lahir dari optimisme yang dipaksakan. Ia lahir ketika masyarakat melihat alasan yang masuk akal untuk percaya bahwa masa depan masih layak diperjuangkan.
Di sinilah tanggung jawab negara dan masyarakat bertemu. Pemerintah berkewajiban merawat kepercayaan melalui tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan. Masyarakat pun memiliki tanggung jawab untuk tidak mudah menjadi penyebar kebohongan, kebencian, atau informasi yang belum teruji. Persatuan tidak hanya membutuhkan pemimpin yang dipercaya; ia juga membutuhkan warga yang mampu menjaga kewarasan bersama.
Sebab sebuah bangsa mungkin memiliki ekonomi besar, teknologi maju, dan kekuatan militer yang tangguh. Tetapi jika rakyatnya telah kehilangan harapan kepada masa depan dan kehilangan kepercayaan satu sama lain, kekuatan itu perlahan menjadi bangunan tanpa fondasi.
Pada akhirnya, kekuatan nasional mungkin memang bermula dari negara. Tetapi ia bertahan di dalam hati masyarakat. Di sana persatuan dijaga, kepercayaan dipelihara, dan harapan menemukan tempatnya.
Bangsa yang mampu menjaga ketiganya mungkin tidak selalu menjadi bangsa yang paling kuat secara kasatmata. Tetapi ia memiliki sesuatu yang lebih sulit ditaklukkan: rakyat yang masih percaya bahwa masa depan mereka adalah milik mereka sendiri.







