KHAMENEI.ID – Apa sebenarnya tujuan sebuah universitas? Apakah ia hanya tempat mencetak lulusan dan pemberi gelar akademik? Ataukah sekadar ruang bagi mahasiswa berdiskusi tentang isu-isu sosial dan politik?
Menurut Imam Ali Khamenei qs, pertanyaan itu harus dijawab dengan kembali kepada hakikat universitas. Baginya, universitas pertama-tama adalah rumah ilmu pengetahuan. Sebesar apa pun peran sosial dan politik yang dapat dimainkan kampus, fondasi utamanya tetap tidak berubah: menghasilkan ilmu, melahirkan ilmuwan, dan memastikan bahwa ilmu tersebut digunakan untuk kemaslahatan manusia.
Karena itu, Imam Khamenei menegaskan bahwa pembicaraan mengenai peran strategis universitas tidak boleh disalahpahami seolah-olah kampus hanya menjadi arena aktivisme politik. Politik mungkin memiliki tempatnya, tetapi ia bukan inti dari universitas. Pilar utama perguruan tinggi tetaplah pengembangan ilmu pengetahuan.
Dalam pandangannya, ada tiga misi besar yang harus diwujudkan oleh setiap universitas.
Pertama, melahirkan ilmuwan. Universitas bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran, melainkan membentuk manusia yang memiliki kapasitas intelektual, kemampuan berpikir kritis, integritas moral, dan kesiapan untuk memikul tanggung jawab ilmiah di tengah masyarakat.
Kedua, menghasilkan ilmu pengetahuan baru. Menurut Imam Khamenei, sebuah bangsa tidak boleh puas hanya menjadi konsumen hasil penelitian negara lain. Universitas harus berani menembus batas-batas ilmu pengetahuan, membuka wilayah-wilayah baru penelitian, dan menghadirkan inovasi yang memperluas cakrawala sains.
Beliau mengakui bahwa berbagai kemajuan ilmiah telah dicapai. Namun, menurutnya, perjalanan masih panjang. Dibandingkan dengan potensi yang dimiliki, dunia Islam—termasuk Iran—masih harus bekerja lebih keras agar mampu menjadi salah satu pusat produksi ilmu pengetahuan dunia.
Bagi Imam Khamenei, kemajuan ilmu bukanlah kebanggaan akademik semata. Ia memiliki dampak yang sangat nyata terhadap kehidupan bangsa.
Ketika ilmu berkembang, teknologi akan ikut berkembang. Ketika teknologi berkembang, kualitas hidup masyarakat meningkat. Dan ketika sebuah negara mampu menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi dunia, bangsa-bangsa lain akan mulai memandangnya sebagai mitra yang memiliki nilai strategis.
Dengan demikian, kemajuan ilmu pengetahuan bukan hanya persoalan prestise, melainkan fondasi bagi kemandirian, kemajuan ekonomi, dan pengaruh sebuah negara di tingkat global.
Namun Imam Khamenei menambahkan satu unsur yang menurutnya sama pentingnya dengan dua misi sebelumnya, yaitu memberikan arah yang benar kepada ilmu dan para ilmuwan.
Di sinilah letak perbedaan antara sekadar memiliki ilmu dan menggunakan ilmu secara bertanggung jawab.
Menurut beliau, sejarah modern menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dapat menjadi sarana kemajuan, tetapi juga dapat berubah menjadi alat penghancur jika kehilangan orientasi moral. Penemuan ilmiah yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia justru melahirkan bom atom, senjata kimia, serta berbagai teknologi yang dipakai untuk merusak kehidupan.
Karena itu Imam Khamenei menolak pandangan bahwa ilmu bersifat netral dalam praktiknya. Baginya, arah penggunaan ilmu sangat ditentukan oleh nilai-nilai yang membimbing para ilmuwan. Ilmu yang kehilangan dimensi etika dapat berubah menjadi ancaman bagi peradaban, sementara ilmu yang dipandu oleh nilai-nilai kemanusiaan akan menjadi sarana membangun kehidupan yang lebih baik.
Atas dasar itu, beliau menilai bahwa seluruh ekosistem perguruan tinggi harus bergerak menuju tujuan yang sama. Mulai dari kementerian, pimpinan universitas, dosen, mahasiswa, kurikulum, laboratorium, hingga proses pembelajaran, semuanya harus diarahkan untuk memperkuat tiga misi tersebut: melahirkan ilmuwan, menghasilkan ilmu pengetahuan, dan membimbing keduanya menuju kemaslahatan manusia.
Dalam berbagai kesempatan Imam Khamenei juga mengungkapkan optimismenya terhadap generasi ilmuwan muda. Berdasarkan pengamatannya, ribuan peneliti, akademisi, dan dosen di berbagai pusat penelitian terus bekerja dengan penuh dedikasi. Banyak di antara mereka masih berusia muda, memiliki komitmen keagamaan yang kuat, sekaligus membawa identitas nasional yang mereka banggakan.
Mereka tidak hanya mengajar di ruang kelas, tetapi juga melakukan penelitian, menciptakan inovasi, dan mengembangkan berbagai teknologi yang lahir dari hasil riset ilmiah.
Optimisme ini, menurut Imam Khamenei, tidak berarti menutup mata terhadap berbagai kekurangan yang masih ada. Beliau mengakui bahwa ketertinggalan yang telah berlangsung selama puluhan tahun tidak mungkin diatasi dalam waktu singkat. Karena itu, kemajuan ilmiah harus dipandang sebagai proses panjang yang menuntut kesinambungan, kesabaran, dan kerja keras.
Riset tidak boleh berhenti hanya karena hasilnya belum langsung terlihat. Sebaliknya, budaya ilmiah harus terus dipelihara agar fondasi kemajuan semakin kokoh dari waktu ke waktu.
Di tengah persaingan global yang semakin ketat, pesan Imam Khamenei mengandung pelajaran yang lebih luas daripada sekadar pengelolaan perguruan tinggi. Ia mengingatkan bahwa kekuatan suatu bangsa pada akhirnya ditentukan oleh kemampuannya membangun ilmu pengetahuan yang mandiri, melahirkan generasi ilmuwan yang berkualitas, serta memastikan bahwa seluruh kemajuan tersebut diarahkan untuk melayani kemanusiaan, bukan menghancurkannya.
Universitas, dengan demikian, bukan sekadar tempat memperoleh ijazah. Ia adalah laboratorium peradaban, tempat lahirnya gagasan, inovasi, dan karakter yang akan menentukan wajah masa depan sebuah bangsa.







