Hidup yang Perlahan Jauh dari Teladan 

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika perubahan sebuah masyarakat tidak dimulai dari gedung parlemen, pidato politik, atau pergantian penguasa. Ia justru tumbuh diam-diam dari hal yang paling dekat dengan manusia: cara makan, cara berpakaian, cara bekerja, cara menggunakan uang, cara memperlakukan keluarga, bahkan cara seseorang menghabiskan waktunya.

Di sanalah persoalan gaya hidup Islam menemukan maknanya. Ia bukan sekadar perkara aturan tentang apa yang boleh dan tidak boleh. Ia adalah pertanyaan yang lebih dalam: kehidupan seperti apa yang hendak kita jalani, dan siapa yang menjadi teladan ketika kita menjalani kehidupan itu?

Dalam sebuah pertemuan dengan para pelantun syair Ahlulbait, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs mengingatkan bahwa majelis keagamaan semestinya tidak berhenti pada suasana haru dan pujian. Ada pekerjaan kebudayaan yang jauh lebih panjang: menghidupkan kembali gaya hidup Islam di tengah masyarakat.

Seruan itu berangkat dari sebuah doa yang akrab di telinga banyak orang:

اللَهُمَّ اجعَل مَحیایَ مَحیا مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّد وَ مَماتی مَماتَ مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّد

“Ya Allah, jadikanlah kehidupanku seperti kehidupan Muhammad dan keluarga Muhammad, dan kematianku seperti kematian Muhammad dan keluarga Muhammad”

Doa itu sering melintas di bibir sebagai rangkaian kalimat yang indah. Tetapi kata mahya kehidupan, menyimpan tuntutan yang tidak sederhana. Meminta agar hidup menyerupai kehidupan Rasulullah Muhammad saw dan keluarganya berarti meminta agar cara kita menjalani hidup perlahan mengambil arah yang sama: bagaimana mereka menggunakan harta, memperlakukan manusia, menghadapi kesulitan, menikmati kenikmatan, memegang prinsip, dan menempatkan diri di hadapan Tuhan.

Dengan kata lain, doa itu sesungguhnya sedang berbicara tentang gaya hidup.

Di titik ini, agama menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Islam tidak hanya hadir ketika seseorang berada di masjid, majelis, atau sedang membaca kitab. Ia juga diuji di pasar, kantor, rumah, jalan raya, dan ruang-ruang kecil tempat keputusan pribadi dibuat. Seberapa jauh seseorang mampu menahan keinginan membeli sesuatu yang tidak diperlukan? Seberapa jujur ia ketika tidak ada yang mengawasi? Bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak memiliki kekuasaan? Apa yang dilakukan terhadap waktu yang dimiliki?

Baca Juga  Ketika Kebaikan Menjadi Fondasi Sebuah Negara

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tampak sederhana. Namun justru dari sanalah sebuah kebudayaan terbentuk.

Sebab masyarakat pada akhirnya tidak dibangun hanya oleh hukum, melainkan oleh kebiasaan. Apa yang terus-menerus dilakukan akan menjadi sesuatu yang dianggap wajar. Apa yang berulang kali dilihat akan perlahan diterima sebagai norma. Karena itu, perubahan gaya hidup tidak cukup dilakukan dengan larangan dan perintah. Ia membutuhkan pembudayaan.

Gagasan inilah yang menjadi perhatian penting dalam seruan tersebut. Ketika sebuah masyarakat telah terbiasa dengan pola hidup yang berlebihan, konsumtif, abai, atau jauh dari etika, mengembalikannya kepada nilai Islam tidak dapat dilakukan dalam semalam. Dibutuhkan cerita, teladan, bahasa, seni, dan ingatan kolektif.

Karena itu pula syair memiliki tempat yang istimewa. Puisi dapat membawa gagasan yang berat masuk ke dalam ingatan tanpa terasa seperti ceramah. Sebuah bait yang dinyanyikan berulang-ulang bisa tinggal lebih lama di kepala seseorang daripada nasihat yang disampaikan sekali. Dari sanalah kebudayaan bekerja: perlahan, melalui pengulangan, emosi, dan keteladanan.

Namun jika ditarik lebih jauh, persoalannya bukan hanya bagaimana agama disampaikan, melainkan nilai apa yang sedang berkompetisi untuk mengisi kehidupan manusia.

Setiap zaman mempunyai gaya hidup yang ditawarkan kepadanya. Iklan mengajarkan apa yang layak diinginkan. Media sosial menentukan apa yang dianggap berhasil. Industri membentuk selera. Budaya populer memberi gambaran tentang kebahagiaan. Bahkan ukuran keberhasilan seseorang kerap dipersempit menjadi jumlah harta, penampilan, tempat yang dikunjungi, atau barang yang dimiliki.

Tanpa disadari, manusia dapat menghabiskan hidup dengan mengejar sesuatu yang sejak awal bukan pilihannya sendiri.

Di sinilah kritik terhadap gaya hidup menjadi relevan. Masalahnya bukan sekadar bahwa manusia menjadi boros. Yang lebih mendasar adalah ketika keinginan mengambil alih kehidupan. Seseorang tidak lagi menggunakan benda untuk memenuhi kebutuhan, melainkan bekerja tanpa henti untuk membeli benda yang kemudian menentukan bagaimana ia hidup.

Baca Juga  Ketika Kampus Tak Lagi Sekadar Mencetak Gelar

Peringatan tentang pemborosan dan ketidakpedulian, karena itu, bukan sekadar persoalan moral individual. Ia berkaitan dengan arah sebuah masyarakat. Ketika berlebihan dianggap biasa, kesederhanaan terlihat aneh. Ketika pamer dianggap keberhasilan, hidup secukupnya terasa seperti kegagalan. Ketika keuntungan menjadi ukuran utama, kepedulian kepada sesama mudah dianggap sebagai hambatan.

Dalam konteks yang lebih luas, gaya hidup Islam menawarkan ukuran yang berbeda. Ia tidak memusuhi dunia, tetapi menolak ketika dunia menjadi tujuan terakhir. Ia tidak mengharamkan kenikmatan, tetapi mengajarkan batas. Ia tidak meminta manusia meninggalkan kehidupan, melainkan menjalaninya dengan kesadaran bahwa manusia bukan pemilik mutlak atas segala yang berada di tangannya.

Karena itu, membangun gaya hidup Islam pada akhirnya bukan proyek untuk menjadikan masyarakat tampak lebih religius dari luar. Ia adalah usaha mengubah cara manusia memandang kehidupan dari dalam.

Mungkin pekerjaan itu dimulai dari sesuatu yang kecil: membeli seperlunya, bekerja dengan jujur, menghormati orang lain, tidak menjadikan kemewahan sebagai ukuran harga diri, menyisihkan sesuatu untuk mereka yang membutuhkan, dan belajar kembali menikmati hidup tanpa harus mempertontonkannya kepada dunia.

Sebab kebudayaan tidak selalu lahir dari keputusan besar. Ia tumbuh dari jutaan kebiasaan kecil yang dilakukan manusia setiap hari.

Dan mungkin itulah makna paling dalam dari doa agar kehidupan kita menyerupai kehidupan nabi Muhammad saw dan keluarganya. Kita tidak sekadar meminta akhir yang baik. Kita meminta agar perjalanan menuju akhir itu juga memiliki bentuk yang baik.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang gaya hidup Islam bukanlah pertanyaan tentang apa yang tampak pada diri kita. Ia adalah pertanyaan tentang siapa yang diam-diam sedang kita tiru ketika menjalani hidup.

Bagikan:
Terkait
Komentar