Islamofobia dan Pertanyaan yang Tak Bisa Dibungkam

KHAMENEI.ID– Ada paradoks dalam cara sebuah agama diserang. Semakin keras sebuah gagasan dipukul, semakin besar kemungkinan orang bertanya mengapa ia dianggap begitu berbahaya. Larangan dapat melahirkan rasa ingin tahu. Cemoohan bisa membuka percakapan. Bahkan Islamofobia jika terus dipertontonkan secara berlebihan, dapat berubah menjadi pintu bagi orang-orang yang sebelumnya tidak pernah tertarik kepada Islam untuk mulai bertanya tentangnya.

Pertanyaan, dalam sejarah manusia, sering lebih kuat daripada propaganda.

Gagasan itu muncul dalam sebuah pidato Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs di hadapan anggota Majelis Khubregān Rahbari Iran. Di tengah kritik terhadap kampanye anti-Islam di media dan ruang publik Barat, muncul satu pandangan yang menarik: serangan terhadap Islam justru dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan Islam secara lebih utuh. Bukan Islam yang telah direduksi menjadi citra kekerasan, fanatisme, atau keterbelakangan, melainkan Islam sebagai gagasan moral dan intelektual.

Di titik ini, persoalannya bergeser. Yang dipertaruhkan bukan sekadar bagaimana Islam membela diri dari tuduhan, melainkan Islam seperti apa yang ingin ditampilkan kepada dunia.

Sebab, ketika sebuah agama terus-menerus berbicara tentang dirinya hanya karena merasa diserang, ia berisiko terjebak dalam posisi defensif. Ia sibuk membantah tuduhan, tetapi lupa memperlihatkan apa yang sebenarnya ia tawarkan.

Islam, dalam gagasan yang dikemukakan itu, seharusnya diperkenalkan sebagai agama yang berdiri di sisi mereka yang tertindas. Ia bukan sekadar kumpulan ritual yang dipindahkan dari rumah ke masjid, lalu berhenti ketika seseorang kembali ke jalan raya. Islam justru dimaksudkan hadir dalam kehidupan: dalam cara manusia memperlakukan orang lemah, menghadapi ketidakadilan, menggunakan kekuasaan, mencari pengetahuan, dan mempertanggungjawabkan kebebasan.

Karena itu, perdebatan tentang Islamofobia sesungguhnya tidak cukup dijawab dengan kemarahan. Ada pekerjaan yang jauh lebih sulit: memperlihatkan wajah Islam yang selama ini sering tertutup oleh kebisingan politik.

Baca Juga  Keikhlasan dan Transparansi: Saat Amal Baik Tak Harus Disembunyikan

Salah satu wajah itu adalah rasionalitas.

Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia berpikir, menggunakan akal, memperhatikan tanda-tanda, dan tidak menyerahkan dirinya kepada prasangka. Dalam tradisi Islam, akal bukan musuh iman. Keduanya justru berkali-kali dipertemukan dalam pencarian manusia terhadap kebenaran.

Islam yang demikian tentu berbeda dari agama yang dipahami sebagai kepatuhan buta. Ia tidak membutuhkan manusia yang takut bertanya. Ia membutuhkan manusia yang mampu berpikir, sekaligus bersedia mempertanggungjawabkan pikirannya.

Namun dunia modern menghadirkan paradoks lain. Ketika agama dituduh sebagai sumber irasionalitas, sebagian orang beragama justru memberikan alasan bagi tuduhan itu dengan memusuhi pertanyaan. Ketika Islam hendak ditampilkan sebagai agama yang menghargai akal, pekerjaan pertama yang harus dilakukan bukan memenangkan perdebatan dengan pihak luar, melainkan membuka ruang berpikir di dalam tubuh umat sendiri.

Dalam konteks yang lebih luas, gagasan tentang Islam yang hadir di tengah kehidupan juga menarik untuk direnungkan. Ada kecenderungan memahami agama sebagai wilayah privat: urusan ibadah, kesalehan personal, dan hubungan seseorang dengan Tuhan. Setelah itu, agama dianggap sebaiknya berhenti di depan pintu ruang publik.

Pandangan tersebut disebut sebagai Islam yang terasing dari kehidupan. Padahal, jika agama berbicara tentang keadilan, kemiskinan, martabat manusia, kekuasaan, ilmu pengetahuan, dan tanggung jawab sosial, bagaimana mungkin ia sama sekali tidak bersentuhan dengan kehidupan bersama?

Islam yang hidup di tengah masyarakat tidak harus berarti agama yang berubah menjadi alat kekuasaan. Justru di sinilah persoalannya menjadi lebih rumit. Ketika agama masuk ke ruang publik, ia harus membawa etika, bukan sekadar simbol. Ia harus membela manusia, bukan sekadar bendera. Ia harus memperjuangkan keadilan, bukan hanya memenangkan identitas.

Sebab mudah sekali menggunakan bahasa agama untuk mengumpulkan massa. Jauh lebih sulit menggunakan nilai agama untuk membatasi keserakahan diri sendiri.

Baca Juga  Warisan Para Nabi: Mengapa Melawan Thaghut Bukan Pilihan, Melainkan Tugas

Gagasan tentang Islam sebagai agama pembela kaum lemah karena itu memiliki konsekuensi moral yang besar. Jika Islam mengaku berpihak kepada yang tertindas, keberpihakan itu tidak boleh berhenti pada slogan. Ia harus terlihat dalam cara kekuasaan bekerja, dalam bagaimana orang miskin diperlakukan, dalam bagaimana hukum ditegakkan, dan dalam bagaimana mereka yang tidak memiliki suara diberi tempat.

Di sinilah tudingan dan serangan dari luar seharusnya tidak membuat umat kehilangan kemampuan untuk melakukan introspeksi. Dunia memang dapat memiliki prasangka terhadap Islam. Media dapat membentuk citra yang tidak adil. Kelompok politik tertentu dapat memanfaatkan ketakutan terhadap agama untuk kepentingan mereka. Tetapi semua itu tidak menghapus pertanyaan yang lebih dekat: apakah umat Islam sendiri telah memperlihatkan Islam yang mereka klaim?

Pertanyaan itu mungkin lebih menyakitkan daripada tuduhan dari luar.

Serangan terhadap Islam, dalam pidato tersebut, juga dipandang sebagai kesempatan untuk memunculkan pertanyaan di benak generasi muda: mengapa Islam begitu sering menjadi sasaran? Pertanyaan semacam itu dapat membuka pintu pencarian. Tetapi kesempatan itu hanya akan berarti jika setelah pertanyaan muncul, yang tersedia adalah Islam yang dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan intelektual.

Bukan Islam yang sibuk membuktikan bahwa dirinya paling benar, melainkan Islam yang membuat kebenaran tampak dalam perilaku.

Di sinilah tanggung jawab ulama, lembaga pendidikan, ilmuwan, dan para pengelola dakwah menjadi penting. Tugas mereka bukan sekadar menjawab serangan dengan serangan. Mereka perlu menerjemahkan gagasan keagamaan ke dalam bahasa yang dapat dipahami manusia modern: bahasa keadilan, ilmu pengetahuan, martabat, kebebasan yang bertanggung jawab, dan kepedulian kepada mereka yang lemah.

Pada akhirnya, agama tidak akan dikenali terutama dari apa yang dikatakannya tentang dirinya sendiri. Ia akan dikenali dari jejak yang ditinggalkannya dalam kehidupan manusia.

Baca Juga  Menghidupkan Kembali Para Pahlawan yang Hampir Dilupakan

Islamofobia mungkin dapat melahirkan pertanyaan. Tetapi pertanyaan itu tidak otomatis menjadi kemenangan bagi Islam. Ia baru menjadi peluang jika umat mampu memberikan jawaban yang hidup: melalui ilmu, akal, keadilan, dan keberpihakan kepada manusia.

Sebab barangkali pertanyaan paling penting bukan lagi, mengapa dunia menyerang Islam?

Melainkan: ketika dunia akhirnya bertanya tentang Islam, wajah seperti apa yang akan kita tunjukkan?

Bagikan:
Terkait
Komentar