KHAMENEI.ID –
Tafsir Imam Khamenei surah Al-Baqarah ayat 21; Jika Hidup Bukan Sekadar Makan dan Mati, Untuk Apa Manusia Diciptakan?
Ada pertanyaan yang terus berulang dalam kehidupan manusia: untuk apa kita hidup? Al-Qur’an tidak membiarkan pertanyaan itu menggantung. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 21, manusia diarahkan kepada satu titik yang sekaligus menjadi jalan dan tujuan: penghambaan kepada Allah swt.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 21)
Seruan ayat ini tidak hanya ditujukan kepada orang-orang yang telah beriman. Ia dimulai dengan panggilan yang luas: يَا أَيُّهَا النَّاسُ — wahai manusia. Seolah-olah sebelum berbicara tentang iman, agama, atau kelompok tertentu, Al-Qur’an terlebih dahulu mengajak manusia kembali melihat dirinya sendiri: siapa yang menciptakannya, kepada siapa hidupnya seharusnya diarahkan, dan ke mana seluruh perjalanan hidup itu hendak dibawa.
Ada dua hal pokok dalam ayat ini. Pertama, perintah untuk mengabdi kepada Allah. Kedua, alasan mengapa pengabdian itu harus diarahkan kepada-Nya: karena Dia adalah Pencipta manusia dan generasi-generasi sebelum mereka.
Manusia, dalam kenyataan hidupnya, tidak pernah benar-benar terbebas dari penghambaan. Ia akan selalu menundukkan dirinya kepada sesuatu. Ada yang mengabdikan hidup kepada dirinya sendiri, kepada kekuasaan, harta, kedudukan, kenikmatan, pemikiran, atau bahkan kepada kekuatan yang dianggap lebih tinggi darinya. Persoalannya bukan apakah manusia akan mengabdi, melainkan kepada siapa pengabdian itu diarahkan.
Karena itu, ketika Al-Qur’an berkata, اعْبُدُوا رَبَّكُم — sembahlah Tuhanmu, yang ditunjukkan bukan sekadar bentuk ritual penghambaan. Yang diarahkan adalah pusat kehidupan manusia: kepada siapa ia tunduk, kepada siapa ia menaati, dan di atas kehendak siapa ia menyusun langkah-langkah hidupnya.
Kemudian ayat memberikan alasan yang sangat mendasar:
الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ
“Yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu.”
Allah swt adalah Pencipta manusia. Karena itu, manusia semestinya mengarahkan ketaatannya kepada-Nya. Di sini penciptaan tidak disebut sekadar sebagai informasi tentang asal-usul manusia. Penciptaan menjadi dasar bagi penghambaan.
Manusia tidak menciptakan dirinya sendiri. Ia tidak menentukan dari mana ia berasal, kapan ia dilahirkan, ataupun ke dalam dunia seperti apa ia dilahirkan. Kehidupan diterimanya sebagai sesuatu yang telah diberikan. Maka, kesadaran terhadap penciptaan semestinya membawa manusia kepada kesadaran tentang siapa yang menjadi sumber keberadaannya.
Namun ayat ini tidak berhenti pada perintah untuk menyembah Allah swt. Ada satu tujuan yang disebutkan di bagian akhir:
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“agar kamu bertakwa.”
Di sinilah hubungan antara penghambaan dan ketakwaan menjadi jelas. Penghambaan kepada Allah bukan sekadar aktivitas yang berdiri sendiri. Ia adalah jalan yang mengantarkan manusia kepada suatu keadaan batin dan kehidupan yang disebut takwa.
Pada awal Surah Al-Baqarah, takwa bahkan telah ditempatkan sebagai salah satu ciri penting manusia yang menerima petunjuk:
هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
“Sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 2)
Dengan demikian, rangkaian awal surah ini memiliki hubungan yang erat. Manusia diperkenalkan kepada petunjuk, kemudian diperlihatkan keadaan orang-orang yang menerima atau menolaknya. Pada ayat ke-21, manusia dipanggil untuk mengarahkan pengabdiannya kepada Allah swt agar sampai kepada ketakwaan.
Takwa, dalam pengertian ini, bukan sekadar rasa takut. Ia adalah keadaan ketika manusia menyadari kehadiran Allah dalam kehidupannya dan karena itu menjaga ucapan, tindakan, pilihan, serta arah langkahnya. Ia sadar bahwa dalam perjalanan hidup terdapat jalan-jalan yang mudah membuat manusia tergelincir.
Manusia tidak selalu memiliki kekuatan untuk berjalan tanpa kesalahan. Ada dorongan hawa nafsu, ada godaan, ada kelemahan, ada keadaan yang membuat seseorang mudah kehilangan keteguhan. Karena itu, ketakwaan menuntut kewaspadaan. Manusia perlu mengenali tempat-tempat yang dapat menjadi sumber kejatuhan dan memanfaatkan sarana yang telah disediakan Allah untuk melewatinya.
Takwa dengan demikian bukan sikap pasif. Ia adalah kesadaran untuk menjaga diri di tengah perjalanan.
Dalam kehidupan pribadi maupun sosial, manusia akan selalu berhadapan dengan pilihan. Ada jalan yang mendekatkannya kepada tujuan dan ada jalan yang justru menjauhkannya. Ada keputusan yang memperkuat dirinya dan ada keputusan yang perlahan merusak dirinya. Takwa berarti tidak berjalan secara serampangan di antara semua itu.
Karena itulah berbagai bentuk ibadah memiliki hubungan dengan pembentukan ketakwaan. Bulan Ramadan, misalnya, tidak hanya menghadirkan kewajiban berpuasa. Di dalamnya terdapat pembacaan Al-Qur’an, doa, munajat, dan terutama istighfar—permohonan ampun kepada Allah atas kekurangan, ketidaktahuan, dan kesalahan yang dilakukan manusia.
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Ayat ini menjadi salah satu kunci untuk memahami arah semua latihan tersebut. Manusia tidak sekadar diminta melakukan serangkaian amalan, tetapi dibentuk agar memiliki kemampuan untuk menjaga dirinya dalam perjalanan hidup.
Istighfar menjadi penting karena manusia adalah makhluk yang dapat tergelincir. Ia bisa salah karena keterbatasan, karena ketidaktahuan, bahkan karena kelalaian dan kesengajaan. Dengan istighfar, manusia tidak membiarkan kesalahan menjadi sesuatu yang menetap dalam dirinya. Ia kembali kepada Allah swt dan memohon agar dirinya memperoleh kesempatan untuk memperbaiki jalan.
Pada akhirnya, takwa adalah persoalan hubungan manusia dengan perjalanan hidupnya sendiri. Ia adalah kesadaran bahwa hidup bukan ruang tanpa arah. Ada Pencipta, ada jalan, ada tujuan, dan ada berbagai rintangan yang dapat membuat manusia menjauh dari tujuan itu.
Surah Al-Baqarah ayat 21 karena itu menghadirkan sebuah rangkaian yang sederhana tetapi mendalam: manusia diciptakan, karena itu ia dipanggil untuk mengabdi kepada Penciptanya; dan melalui pengabdian itu, ia diarahkan menuju ketakwaan.
Takwa bukan sekadar tujuan yang menunggu di ujung perjalanan. Ia justru harus hadir dalam setiap langkah. Sebab perjalanan manusia menuju tujuan tidak ditentukan hanya oleh tempat ia ingin sampai, tetapi oleh bagaimana ia menjaga dirinya selama berjalan.
Dan mungkin di situlah salah satu makna penting dari seruan لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ: agar manusia tidak sekadar hidup karena telah diciptakan, tetapi belajar menjalani kehidupan dengan kesadaran kepada Sang Pencipta.







