KHAMENEI.ID– Ada satu penyakit yang diam-diam sedang menggerogoti kehidupan modern: manusia semakin banyak bicara, tetapi semakin sedikit merasa harus mempertanggungjawabkan ucapannya.
Orang bisa menyebar fitnah dalam hitungan detik lalu menghilang tanpa rasa bersalah. Pejabat bisa membuat keputusan besar yang menghancurkan hidup banyak orang, tetapi tetap tampil tenang di depan kamera. Tokoh publik dapat mengucapkan apa saja, lalu ketika keadaan memburuk, kesalahan dilempar ke pihak lain. Dunia hari ini bergerak sangat cepat, tetapi sering kehilangan satu hal paling mendasar dalam kehidupan moral: rasa tanggung jawab.
Menariknya, dalam banyak perdebatan modern, akuntabilitas atau “accountability” sering dianggap sebagai konsep Barat, seolah ia lahir dari demokrasi modern dan tata kelola kontemporer. Padahal dalam tradisi Islam, gagasan tentang tanggung jawab sudah hadir sejak awal sebagai inti dari kesadaran manusia.
Setiap manusia pertama-tama harus bertanya kepada dirinya sendiri: mengapa ia berbicara, mengapa ia bertindak, dan apa yang sebenarnya mendorong keputusan-keputusannya. Apakah lahir dari akal sehat dan ketakwaan, atau sekadar dari ego, hawa nafsu, dan kepentingan pribadi?
Di titik inilah tanggung jawab tidak lagi sekadar urusan hukum atau administrasi, tetapi menjadi urusan batin.
Al-Qur’an menggambarkannya dengan sangat tajam:
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban” (QS. Al-Isra: 36)
Ayat ini terasa sangat jelas maknanya di tengah dunia digital hari ini. Sebab manusia modern sebenarnya sedang dibanjiri informasi, tetapi belum tentu dibimbing oleh kesadaran moral.
Mata bukan lagi sekadar alat melihat. Ia kini menatap layar tanpa henti. Telinga bukan hanya mendengar suara, tetapi menyerap ribuan opini setiap hari. Dan hati, yang dalam tradisi Islam dipahami sebagai pusat kesadaran terdalam manusia, terus dipaksa mengambil keputusan di tengah kebisingan dunia.
Ayat tadi seperti sedang mengingatkan: bahkan cara kita melihat, mendengar, dan merespons dunia pun tidak pernah benar-benar bebas nilai. Semua memiliki konsekuensi moral.
Kita akan ditanya bukan hanya tentang apa yang kita lakukan, tetapi juga tentang apa yang sengaja kita abaikan.
Apakah kita benar-benar mau melihat kebenaran? Apakah kita sungguh ingin mendengar nasihat? Atau sebenarnya kita hanya mencari pembenaran untuk ego kita sendiri?
Karena itu tanggung jawab dalam Islam tidak dimulai dari pengawasan negara, melainkan dari pengawasan nurani.
Seseorang yang mampu menjawab pertanyaan batinnya sendiri akan lebih mudah bertanggung jawab di hadapan manusia lain. Tetapi ketika hati sudah mati rasa, aturan sebesar apa pun sering tak lagi berguna.
Itulah sebabnya Nabi Muhammad saw pernah mengatakan:
“Kalian semua adalah pemimpin, dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpin”
Kalimat ini sangat kuat karena memecahkan ilusi bahwa tanggung jawab hanya milik penguasa. Tidak. Setiap orang adalah pemimpin dalam lingkup tertentu. Orang tua terhadap anaknya. Guru terhadap muridnya. Penulis terhadap kata-katanya. Pemimpin terhadap rakyatnya. Bahkan seseorang bertanggung jawab atas dirinya sendiri.
Namun semakin besar pengaruh seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moralnya.
Di sinilah krisis modern menjadi terasa menakutkan. Banyak orang mengejar kekuasaan, tetapi tidak siap memikul beban moral di belakangnya. Jabatan dipahami sebagai hak istimewa, bukan amanah. Popularitas dianggap kemenangan, bukan tanggung jawab.
Padahal dalam tradisi moral Islam, kehormatan seorang pemimpin justru lahir dari beratnya pertanggungjawaban yang ia tanggung.
Mungkin itu sebabnya orang dulu begitu menghormati pemimpin yang sederhana dan berhati-hati dalam berbicara. Mereka tahu satu keputusan bisa menentukan nasib banyak manusia.
Hari ini situasinya sering terbalik. Banyak orang berbicara terlalu cepat karena merasa tidak akan dimintai pertanggungjawaban. Media sosial memperparah keadaan itu. Satu kalimat bisa memicu kebencian massal, tetapi setelah kekacauan terjadi, semua orang pura-pura lupa.
Manusia menjadi “mutlak” dalam ruang digitalnya sendiri: merasa bebas berkata apa saja tanpa konsekuensi.
Padahal seseorang yang sadar bahwa setiap kata akan dipertanyakan, akan berbicara dengan cara berbeda. Ia akan lebih hati-hati. Lebih jujur. Lebih sadar bahwa ucapan bisa melukai, mempengaruhi, bahkan menghancurkan hidup orang lain.
Begitu pula dengan keputusan.
Seseorang yang merasa bertanggung jawab akan berpikir panjang sebelum bertindak. Ia sadar bahwa setiap keputusan membawa dampak bagi manusia lain. Tetapi ketika seseorang merasa dirinya tak tersentuh, tak akan dikoreksi, dan tak akan dimintai jawaban, di situlah kerusakan sering bermula.
Karena itu problem terbesar masyarakat modern mungkin bukan kurangnya kecerdasan, melainkan hilangnya rasa diawasi oleh hati nurani.
Teknologi berkembang sangat cepat, tetapi kesadaran moral manusia tidak selalu tumbuh bersamanya. Kita mampu menciptakan sistem canggih untuk mengawasi orang lain, tetapi gagal mengawasi diri sendiri.
Padahal inti tanggung jawab justru ada di sana: keberanian manusia untuk mengoreksi dirinya sebelum dikoreksi dunia.
Dan mungkin itulah mengapa dalam tradisi Islam, tanggung jawab bukan dipahami sebagai ancaman, melainkan kemuliaan. Seorang pemimpin dihormati justru karena ia memikul beban yang berat. Seorang pejabat layak dihargai bila ia sadar bahwa setiap keputusan adalah amanah, bukan sekadar kekuasaan.
Tetapi ketika rasa tanggung jawab hilang, segala sesuatu mulai runtuh perlahan. Kepercayaan publik hancur. Kata-kata kehilangan makna. Jabatan berubah menjadi alat kepentingan. Dan manusia berhenti merasa bersalah.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh opini dan ambisi, mungkin yang paling dibutuhkan manusia hari ini bukan sekadar kebebasan berbicara, tetapi keberanian untuk mempertanggungjawabkan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Sebab pada akhirnya, peradaban tidak runtuh hanya karena kebohongan para penguasa, tetapi juga karena terlalu banyak manusia yang merasa tidak perlu lagi menjawab atas apa yang mereka lakukan.







