KHAMENEI.ID –
Mengapa Al-Qur’an mengajarkan kita mengikuti “jalan orang-orang yang diberi nikmat”, bukan sekadar mengikuti apa yang sedang populer?
Ada satu anggapan yang begitu kuat membentuk cara berpikir manusia modern: jika sesuatu dilakukan oleh mayoritas orang, berarti itulah pilihan yang benar. Cara berpakaian, pola hidup, ukuran keberhasilan, hingga nilai-nilai moral sering kali diterima bukan karena telah diuji kebenarannya, melainkan karena dianggap telah menjadi kebiasaan dunia.
Dalam pandangan Imam Ali Khamenei (qs), cara berpikir seperti ini justru bertentangan dengan logika Al-Qur’an. Ukuran kebenaran dalam Islam bukanlah banyaknya pengikut, melainkan kesesuaiannya dengan petunjuk Allah.
Pandangan ini beliau jelaskan ketika menguraikan makna ayat terakhir Surah Al-Fatihah. Menurut beliau, doa yang setiap hari dibaca seorang muslim mengandung pelajaran mendasar tentang bagaimana menentukan standar dalam kehidupan.
Setiap kali membaca Surah Al-Fatihah, seorang mukmin memohon:
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
“(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah [1]: 7).
Bagi Imam Khamenei, ayat ini bukan hanya doa agar memperoleh hidayah. Ayat ini juga mengajarkan bahwa seorang mukmin harus memiliki ukuran yang jelas tentang siapa yang layak diikuti. Jalan yang dijadikan rujukan bukanlah jalan yang paling ramai dilalui manusia, melainkan jalan orang-orang yang memperoleh petunjuk dan nikmat dari Allah.
Karena itu, beliau mengingatkan bahwa salah satu kelemahan yang pernah dialami sebagian masyarakat Islam adalah membiarkan budaya dan cara hidupnya dibentuk oleh pengaruh luar tanpa terlebih dahulu mengukurnya dengan nilai-nilai wahyu.
Menurut beliau, dalam perjalanan sejarah ada pihak-pihak yang dengan sengaja mendorong masyarakat untuk menjadikan peradaban lain sebagai ukuran utama kehidupan. Akibatnya, berbagai aspek kehidupan—mulai dari gaya hidup, cara berpakaian, pola pergaulan, hingga cara memandang kehidupan—perlahan diukur berdasarkan standar yang lahir dari masyarakat yang, menurut beliau, telah kehilangan orientasi spiritual.
Yang lebih berbahaya, keadaan itu sering dibenarkan dengan satu alasan sederhana: “Beginilah dunia sekarang.”
Dalam perspektif Imam Ali Khamenei, alasan semacam itu tidak cukup untuk menentukan benar atau salahnya suatu jalan hidup. Al-Qur’an justru memberikan peringatan yang tegas agar seorang mukmin tidak menjadikan mayoritas sebagai ukuran kebenaran.
Allah swt berfirman:
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
“Jika engkau menuruti kebanyakan orang yang ada di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.” (QS. Al-An’am [6]: 116).
Menurut Imam Khamenei, ayat ini menunjukkan bahwa banyaknya pengikut tidak pernah dijadikan Al-Qur’an sebagai bukti kebenaran. Mayoritas bisa saja benar, tetapi bisa pula keliru. Karena itu, ukuran yang harus dipakai seorang mukmin bukanlah jumlah orang yang mengikuti suatu jalan, melainkan apakah jalan tersebut sesuai dengan petunjuk Allah swt atau tidak.
Di sinilah hubungan ayat ini dengan Surah Al-Fatihah menjadi sangat erat.
Ketika seorang muslim memohon agar ditunjukkan “jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat”, ia sesungguhnya sedang meminta agar orientasi hidupnya dibangun di atas teladan yang telah dibimbing Allah swt, bukan di atas arus yang sedang mendominasi masyarakat.
Bagi Imam Khamenei, yang layak dipelajari dan diteladani adalah jalan hidayah, bukan sekadar jalan yang sedang populer. Jika ada sesuatu yang pantas diikuti atau bahkan ditiru, maka yang patut dijadikan rujukan adalah mereka yang memperoleh petunjuk Ilahi dan berjalan di atas nilai-nilai yang diridai Allah swt.
Pandangan ini melahirkan sebuah prinsip penting dalam kehidupan seorang mukmin.
Setiap gagasan, kebiasaan, atau budaya yang datang dari mana pun tidak diterima begitu saja hanya karena sedang menjadi tren atau dianut oleh banyak orang. Sebaliknya, semuanya harus dihadapkan terlebih dahulu kepada neraca Al-Qur’an dan petunjuk Allah swt. Dari sanalah ditentukan apakah sesuatu layak diterima atau justru harus ditinggalkan.
Dengan demikian, menurut Imam Khamenei, seorang muslim tidak hidup sebagai penolak segala hal yang datang dari luar, tetapi juga tidak menjadi pengikut yang kehilangan kemampuan menilai. Ia tetap terbuka untuk belajar, namun ukuran yang digunakannya bukanlah tekanan opini publik, melainkan nilai-nilai yang dibangun oleh wahyu.
Pada akhirnya, tafsir ini mengembalikan makna Surah Al-Fatihah kepada fungsi dasarnya. Permohonan “Ihdinash Shirathal Mustaqim” bukan hanya doa agar Allah swt menunjukkan jalan yang benar, tetapi juga doa agar seorang mukmin memiliki keberanian untuk tetap berjalan di atas jalan itu, sekalipun jalan tersebut tidak selalu menjadi pilihan mayoritas.
Sebab, menurut penjelasan Imam Khamenei, umat yang beriman adalah umat yang menjadikan Al-Qur’an sebagai standar penilaian. Mereka menimbang setiap pemikiran, budaya, dan cara hidup dengan ukuran petunjuk Ilahi. Bukan karena sesuatu diterima oleh banyak orang lalu otomatis dianggap benar, melainkan karena ia sesuai dengan jalan yang telah ditunjukkan Allah melalui wahyu-Nya.







