KHAMENEI.ID – Dalam berbagai kesempatannya, Imam Ali Khamenei qs selalu menegaskan salah satu prinsip mendasar dalam Islam: peran rakyat dalam kehidupan dan sistem Islam. Prinsip ini bukan sekadar konsep politik modern, melainkan bagian dari fondasi ajaran Islam sejak awal. Dalam pandangan Al-Qur’an dan warisan para Imam Maksum as, masyarakat bukan objek yang pasif, tetapi aktor utama dalam perjalanan umat.
Sejak awal, Islam memandang masyarakat sebagai kekuatan penggerak. Tanpa keterlibatan rakyat, kehidupan sosial Islam tidak akan bergerak. Islam tidak membayangkan masyarakat sebagai penonton yang hanya menerima keputusan elite. Sebaliknya, mereka adalah penentu arah sejarah. Dalam kerangka ini, keberhasilan atau kegagalan sebuah masyarakat tidak hanya ditentukan oleh pemimpin, tetapi oleh partisipasi kolektif seluruh rakyat.
Salah satu rujukan penting dalam pandangan ini adalah ucapan terkenal Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as:
«لَو لا حُضورُ الحاضِرِ وَ قِیامُ الحُجَّةِ بِوُجودِ النّاصِر … لَاَلقَیتُ حَبلَها عَلىٰ غارِبِها»
“Seandainya bukan karena kehadiran orang-orang dan tegaknya hujah dengan adanya para penolong, niscaya aku akan melepaskan tali kekhalifahan itu.” (Nahjul Balaghah Khutbah ke-3)
Kalimat ini menunjukkan sesuatu yang sangat kuat: bahkan seorang tokoh sebesar Imam Ali bin Abi Thalib as tidak menganggap kepemimpinan sebagai kewajiban tanpa dukungan rakyat. Tanpa kehadiran masyarakat yang menginginkan kepemimpinan itu, ia merasa tidak memiliki kewajiban untuk mengambil tanggung jawab tersebut. Dengan kata lain, legitimasi kepemimpinan dalam Islam bertumpu pada kehadiran dan dukungan rakyat.
Ketika masyarakat datang, mendesak, dan meminta beliau menerima kekhalifahan, barulah tanggung jawab itu menjadi wajib baginya. Ini menunjukkan bahwa dalam tradisi Islam, kepemimpinan bukanlah proyek individual, melainkan amanah kolektif yang lahir dari kehendak masyarakat.
Prinsip ini diperkuat oleh khutbah lain Imam Ali as yang menegaskan bahwa tidak ada seorang pun—betapapun tinggi kedudukan ilmiah dan spiritualnya—yang mampu menjalankan tanggung jawab tanpa bantuan masyarakat:
«وَ لَیسَ امرُؤٌ … بِفَوقِ اَن یُعانَ عَلىٰ ما حَمَّلَهُ اللَهُ مِن حَقِّه»
“Tidak ada seorang pun, betapapun tinggi kedudukannya, yang tidak membutuhkan bantuan untuk menunaikan tanggung jawab yang Allah bebankan kepadanya.” (Nahjul Balaghah, Khutbah ke-216)
Kalimat ini meruntuhkan mitos kepemimpinan yang berdiri sendiri. Dalam Islam, bahkan pemimpin paling saleh pun membutuhkan dukungan rakyat. Kepemimpinan bukanlah panggung heroisme individu, melainkan kerja kolektif yang memerlukan partisipasi masyarakat luas—baik kalangan elit, ulama, tokoh masyarakat, maupun rakyat biasa.
Al-Qur’an sendiri mengabadikan prinsip ini dalam ayat yang sangat kuat:
«هُوَ الَّذی أَیَّدَكَ بِنَصرِهِ وَ بِالمُؤمِنین»
“Dialah yang menguatkanmu dengan pertolongan-Nya dan dengan kaum mukmin.” (QS. Al-Anfal : 62)
Ayat ini menempatkan dukungan orang-orang beriman sejajar dengan pertolongan Ilahi. Maknanya sangat dalam: kemenangan Nabi tidak hanya karena pertolongan Tuhan secara langsung, tetapi juga karena dukungan masyarakat beriman. Tanpa mereka, misi kenabian tidak akan berhasil.
Karena itu, langkah pertama Nabi dalam membangun masyarakat Madinah bukanlah membangun institusi politik, melainkan membangun manusia beriman. Ia membentuk masyarakat sebelum membentuk negara. Ia menciptakan basis sosial sebelum membangun struktur kekuasaan. Dari sinilah terlihat bahwa peradaban Islam bertumpu pada pembangunan manusia dan kesadaran masyarakat.
Dari seluruh rangkaian argumentasi ini, lahirlah kesimpulan yang tegas: mencapai tujuan Islam—baik itu sistem Islam maupun peradaban Islam—tidak mungkin tanpa kehadiran rakyat. Mereka harus menginginkan, memahami, dan terlibat dalam perjalanan itu. Tanpa partisipasi masyarakat, tujuan besar hanya akan menjadi slogan kosong.
Pesan ini memiliki implikasi praktis bagi siapa pun yang memegang peran sosial: pejabat pemerintah, ulama, khatib Jumat, aktivis sosial, atau pendidik. Masing-masing memiliki cara berbeda untuk mengajak masyarakat terlibat, tetapi tujuan akhirnya sama: menghadirkan rakyat dalam panggung perubahan.
Sebagai penutup, ada satu kesimpulan yang sederhana namun fundamental: rakyat adalah prinsip Islam. Tanpa mereka, tidak ada gerakan, tidak ada kehidupan sosial, dan tidak ada peradaban. Dengan mereka, sejarah dapat berubah.







