KHAMENEI.ID— Ada ironi besar dalam kehidupan modern: semakin banyak manusia memiliki sesuatu, semakin besar pula rasa takut kehilangannya. Rumah diperluas, rekening ditambah, jabatan diperebutkan, tetapi kegelisahan justru tumbuh seperti bayangan yang tak pernah pergi. Dunia hari ini dipenuhi orang-orang yang tampak berhasil, tetapi diam-diam hidup dalam kecemasan yang panjang. Mereka mengejar banyak hal, namun lupa bertanya: sebenarnya manusia membutuhkan apa untuk bisa hidup tenang?
Di tengah hiruk-pikuk itu, sebuah sabda Nabi Muhammad saw terasa mengejutkan karena kesederhanaannya. Nabi berkata:
مَن اَصبَحَ مُعافًى فی جَسَدِهِ آمِناً فی سَربِهِ عِندَهُ قوتُ یَومِهِ فَکَأَنَّما حیزَت لَهُ الدُّنیا
“Siapa yang pagi harinya berada dalam keadaan sehat badannya, aman dalam kehidupannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia telah dikumpulkan untuknya.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Bahkan terlalu sederhana untuk zaman yang mengukur kebahagiaan dengan angka, aset, dan pengaruh. Namun justru di situlah kedalamannya. Nabi tidak sedang mengajak manusia meninggalkan dunia atau membenci kekayaan. Islam tidak pernah memusuhi ilmu, kemajuan, ataupun kemakmuran. Yang disentuh hadis ini adalah sesuatu yang lebih mendasar: manusia sering kehilangan ukuran tentang apa yang sebenarnya paling penting.
Coba perhatikan hidup manusia sehari-hari. Banyak orang bekerja mati-matian demi kenyamanan hidup, tetapi mereka lupa bahwa inti kenyamanan itu sesungguhnya sangat sedikit. Tubuh sehat, rasa aman, dan tidak kelaparan. Selebihnya sering kali hanyalah tambahan yang terus membesar menjadi ambisi tanpa batas.
Kesehatan, misalnya, baru terasa berharga ketika hilang. Selama tubuh bekerja normal, manusia jarang menyadarinya. Kita makan tanpa rasa sakit, menelan tanpa hambatan, tidur tanpa gangguan, berjalan tanpa nyeri. Semuanya tampak biasa karena terlalu akrab. Padahal tubuh manusia adalah rangkaian keajaiban yang nyaris tak pernah disyukuri.
Bayangkan betapa kecil bagian tubuh yang terganggu dapat mengubah seluruh suasana hidup. Bibir yang terluka membuat makan terasa menyiksa. Sakit gigi bisa menghancurkan ketenangan satu malam penuh. Tenggorokan yang meradang menjadikan aktivitas sederhana seperti menelan air terasa berat. Dari mulut hingga proses pencernaan paling akhir, begitu banyak kemungkinan rasa sakit yang dapat membuat hidup pahit dalam sekejap.
Namun ketika semua itu berjalan normal, manusia merasa itu hal biasa. Ia baru menyadari nilai kesehatan ketika rumah sakit mulai terasa lebih akrab daripada ruang tamu rumahnya sendiri.
Hal yang sama berlaku pada rasa aman. Banyak orang hidup di lingkungan damai sehingga menganggap keamanan sebagai sesuatu yang otomatis. Padahal di banyak tempat di dunia, manusia bangun pagi dengan suara ledakan, ancaman perang, ketakutan politik, atau kecemasan kehilangan pekerjaan. Rasa aman adalah nikmat yang sering tidak terlihat justru karena ia bekerja diam-diam.
Begitu pula soal makanan. Nabi tidak berbicara tentang meja mewah atau kemewahan tanpa batas. Beliau hanya menyebut “makanan hari ini”. Sebab kegelisahan terbesar manusia sering lahir dari ketakutan bahwa apa yang dimiliki belum cukup. Dari sanalah kerakusan tumbuh.
Dalam dunia modern, rasa “tidak cukup” telah berubah menjadi industri besar. Media sosial memproduksi iri hati setiap hari. Orang membandingkan hidupnya dengan orang lain yang bahkan tidak benar-benar ia kenal. Standar kebahagiaan terus dinaikkan. Rumah harus lebih besar. Kendaraan harus lebih mahal. Liburan harus lebih mewah. Akibatnya, manusia kehilangan kemampuan menikmati apa yang sudah ada di tangannya.
Padahal hadis Nabi itu seperti sedang menarik manusia kembali ke tanah: lihatlah fondasi hidupmu sebelum mengejar langit terlalu jauh. Jika tubuhmu masih sehat, jika engkau masih bisa berjalan dengan aman, dan jika hari ini engkau tidak tidur dalam kelaparan, maka sesungguhnya engkau sudah memiliki sesuatu yang sangat besar.
Masalahnya, manusia jarang berhenti pada batas kebutuhan. Ia sering berubah menjadi makhluk yang dikuasai kerakusan dan nafsu ingin terus menambah. Bukan sekadar ingin hidup layak, tetapi ingin selalu lebih dibanding orang lain.
Di titik inilah banyak kerusakan sosial bermula. Orang korupsi bukan karena tidak bisa makan. Banyak penguasa zalim tidak melakukan penindasan karena kekurangan harta. Sebagian besar ketidakadilan lahir dari hasrat berlebih yang tidak mampu dikendalikan. Ketika manusia tidak lagi mengenal batas “cukup”, maka dunia berubah menjadi arena perebutan tanpa akhir.
Hadis Nabi itu sesungguhnya sedang mendidik jiwa manusia agar tidak diperbudak oleh kerakusan. Bekerjalah, berkaryalah, carilah kekayaan, bangun ilmu, raih kehormatan, tetapi jangan sampai kehilangan kesadaran tentang fondasi hidup yang sebenarnya. Sebab ketika manusia lupa bersyukur atas hal-hal mendasar, ia akan terus lapar meski memiliki segalanya.
Kita hidup di zaman ketika banyak orang memiliki fasilitas lebih lengkap dibanding generasi mana pun sebelumnya, tetapi justru lebih mudah cemas. Barangkali karena manusia modern terlalu sibuk menghitung apa yang belum dimiliki, sampai lupa menikmati apa yang sudah diberikan.
Sabda Nabi itu akhirnya terasa bukan sekadar nasihat spiritual, melainkan kritik tajam terhadap peradaban yang memuja akumulasi tanpa henti. Dunia modern mengajarkan bahwa kebahagiaan terletak pada “lebih banyak”. Sementara Nabi justru menunjukkan bahwa ketenangan sering tersembunyi pada hal-hal yang paling dasar dan paling sering diabaikan.
Mungkin karena itu, ada orang yang rumahnya kecil tetapi tidurnya nyenyak. Ada yang makan sederhana tetapi hatinya ringan. Ada pula yang hartanya melimpah tetapi hidupnya dipenuhi ketakutan.
Pada akhirnya, manusia memang boleh mengejar dunia. Tetapi ia perlu tahu kapan harus berhenti diperbudak olehnya. Sebab kadang-kadang, seseorang baru sadar bahwa ia sebenarnya sudah “memiliki seluruh dunia” justru ketika ia berhenti merasa kurang terus-menerus.
keserakahan manusia modern, hadis tentang rasa cukup, makna kebahagiaan dalam Islam, gaya hidup konsumtif modern, kesehatan dan ketenangan hidup, perspektif Islam tentang kekayaan







