Ketika Setan Tidak Takut pada Orang yang Rajin Ibadah

KHAMENEI.ID— Ada satu ironi yang jarang disadari manusia religius: semakin banyak berbuat baik, semakin besar pula kemungkinan terjebak dalam rasa aman palsu. Orang rajin beribadah bisa merasa dirinya sudah cukup dekat dengan Tuhan. Mereka yang aktif membantu sesama mulai diam-diam percaya bahwa dirinya lebih baik dari orang lain. Di titik itulah, kebaikan berubah menjadi jebakan yang paling halus.

Sebuah riwayat dari Imam Ja’far ash-Shadiq a.s menggambarkan hal itu dengan sangat tajam. Dalam riwayat tersebut, setan berkata kepada bala tentaranya:

“Jika aku berhasil menguasai anak Adam dalam tiga perkara, aku tidak lagi peduli apa pun amal yang ia lakukan, karena amal itu tidak akan diterima: ketika ia menganggap amalnya besar, melupakan dosanya, dan rasa kagum terhadap dirinya masuk ke dalam hatinya.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi justru di situlah bahayanya. Tiga hal ini bukan dosa besar yang tampak mencolok seperti kezaliman atau kemaksiatan terbuka. Ia adalah penyakit batin yang tumbuh perlahan di balik aktivitas saleh. Ia hidup di balik doa, sedekah, ceramah, bahkan pengabdian sosial.

Yang pertama adalah merasa amal diri sudah besar

Ini mungkin penyakit spiritual paling umum di zaman modern. Kita hidup di era pencitraan, ketika hampir semua hal bisa dipamerkan: sedekah diunggah ke media sosial, ibadah dipertontonkan dalam potongan video, bahkan kepedulian sosial kadang berubah menjadi identitas moral. Tanpa sadar, manusia mulai menghitung-hitung kebaikannya sendiri.

“Bukankah saya sudah banyak berbuat?”
“Bukankah saya sudah berjuang?”
“Bukankah saya lebih baik daripada kebanyakan orang?”

Perasaan semacam ini pelan-pelan mengikis keikhlasan. Amal yang seharusnya menjadi jalan mendekat kepada Allah Ta’ala  justru berubah menjadi alat untuk memuaskan ego.

Baca Juga  Tawakal dan Keberanian Moral: Mengapa Pertolongan Tuhan Datang kepada Mereka yang Berani Berjalan

Padahal para manusia saleh sepanjang sejarah justru merasa amal mereka terlalu kecil. Semakin dekat seseorang kepada Tuhan, semakin ia sadar betapa kurang dirinya. Mereka tidak sibuk menghitung kebaikan sendiri, karena yang mereka lihat justru luasnya tanggung jawab yang belum tertunaikan.

Di sinilah jebakan pertama setan bekerja: membuat manusia puas terhadap dirinya sendiri.

Penyakit kedua lebih halus lagi: melupakan dosa-dosa sendiri

Manusia punya kemampuan aneh untuk mengingat kesalahan orang lain sambil menghapus kesalahannya sendiri. Kita masih ingat penghinaan yang dilakukan orang kepada kita lima tahun lalu, tetapi lupa berapa banyak kebohongan kecil yang pernah kita ucapkan. Kita mudah tersinggung oleh kesalahan orang lain, tetapi sangat toleran terhadap dosa diri sendiri.

Karena itu dalam banyak doa, terutama dalam doa Kumail, permohonan ampun diulang terus-menerus:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيَ الذُّنُوبَ الَّتِي تَهْتِكُ الْعِصَمَ
“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa yang merobek perlindungan diriku”

Lalu disebut lagi dosa yang mengundang bencana, dosa yang mengubah nikmat menjadi musibah, dosa yang menghalangi doa. Pengulangan itu bukan tanpa alasan. Manusia mudah lupa. Dan ketika lupa terhadap dosa, ia kehilangan kewaspadaan terhadap dirinya sendiri.

Tradisi spiritual Islam mengenal apa yang disebut muhasabah yakni menghisab diri sebelum dihisab. Para ulama menganjurkan agar setiap malam seseorang duduk sejenak, mengingat apa yang telah ia lakukan sepanjang hari: siapa yang disakiti, ucapan apa yang melukai, kewajiban apa yang diabaikan.

Bukan untuk tenggelam dalam rasa bersalah, melainkan agar hati tetap hidup.

Sebab hati yang masih bisa menyesali dosa adalah hati yang belum mati.

Dalam sebuah riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah bersabda, siapa yang menangisi dosanya hingga air matanya mengalir, maka wajahnya dijauhkan dari api neraka. Menangisi dosa di sini bukan sekadar air mata literal, tetapi kesadaran mendalam bahwa manusia selalu punya cacat yang harus diperbaiki.

Baca Juga  Di Tengah Putus Asa, Nabi Mengajarkan Mengapa Hidup Masih Layak Diperjuangkan 

Dan penyakit ketiga adalah ujub yaitu kagum pada diri sendiri

Ini lebih dalam daripada sekadar bangga terhadap amal. Ujub adalah ketika seseorang jatuh cinta pada citra dirinya sendiri. Ia merasa dirinya lebih alim, lebih sabar, lebih bijak, lebih bertakwa dibanding orang lain. Bahkan kadang ia kecewa karena orang-orang tidak cukup menghargai “kelebihan”-nya.

Fenomena ini sangat dekat dengan budaya modern yang mendorong manusia terus membangun personal branding. Semua orang berlomba tampil paling benar, paling bijaksana, paling moral. Media sosial membuat manusia terus-menerus bercermin pada dirinya sendiri.

Akibatnya, banyak orang tampak religius tetapi kehilangan kerendahan hati.

Padahal kesombongan spiritual jauh lebih berbahaya daripada kesalahan biasa. Orang yang berdosa masih mungkin bertobat karena sadar dirinya salah. Tetapi orang yang kagum pada dirinya sendiri merasa tidak ada lagi yang perlu diperbaiki.

Di situlah setan merasa tenang.

Ia tidak perlu lagi menggoda manusia menuju dosa besar. Cukup membuat manusia merasa dirinya sudah baik. Karena ketika seseorang sudah mabuk oleh citra kesalehannya sendiri, amalnya kehilangan ruh.

Mungkin itulah sebabnya mengapa para nabi dan orang saleh justru dikenal paling rendah hati. Semakin tinggi kualitas ruhani seseorang, semakin kecil ia memandang dirinya. Mereka takut amalnya tidak diterima, bukan sibuk memastikan orang lain mengakui kesalehannya.

Hari ini, tantangan spiritual manusia bukan hanya meninggalkan ibadah. Kadang justru tantangannya adalah tetap rendah hati di tengah banyaknya ibadah. Tetap merasa fakir di hadapan Tuhan saat manusia lain mulai memuji. Tetap mengingat dosa ketika dunia sibuk menghitung prestasi.

Karena barangkali yang paling menghancurkan amal bukanlah kemalasan berbuat baik, melainkan rasa bangga bahwa kita sudah terlalu banyak berbuat baik.

Baca Juga  Membersihkan Hati dengan Istighfar: Ketika Dosa Tak Lagi Terlihat, Tapi Terasa

Dan mungkin, di situlah setan paling sering menang, bukan ketika manusia jatuh ke dalam maksiat yang kasar, tetapi ketika ia berhasil membuat manusia memuja dirinya sendiri secara halus.

Bagikan:
Terkait
Komentar