KHAMENEI.ID – Ada sebuah pertanyaan yang terus berulang dalam sejarah dunia Islam: mengapa bangsa-bangsa Muslim, yang memiliki jumlah penduduk besar, sumber daya melimpah, serta warisan peradaban yang panjang, masih sering berada dalam posisi yang lemah?
Mengapa sebagian negara Muslim menghadapi tekanan ekonomi? Mengapa konflik internal terus muncul? Mengapa intervensi asing, perang, dan berbagai bentuk ketergantungan politik masih menjadi kenyataan yang sulit dilepaskan?
Dalam berbagai kesempatan, Imam Ali Khamenei qs mengajak melihat persoalan ini bukan hanya dari permukaan. Menurut beliau, penderitaan yang dialami umat Islam hari ini bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal. Ada banyak sebab yang saling berkaitan, mulai dari ketertinggalan ilmu pengetahuan, lemahnya kemandirian politik, hingga sejarah panjang dominasi kekuatan asing.
Namun di antara berbagai faktor tersebut, beliau menyoroti satu persoalan yang dianggap sangat mendasar: perpecahan umat Islam.
“Banyak masalah kita bermula karena kita tidak mengetahui nilai diri kita sendiri dan tidak memahami nilai satu sama lain,” demikian kira-kira inti kritik Imam Khamenei. Menurut beliau, umat Islam memiliki potensi besar, tetapi sering kali potensi itu tidak berubah menjadi kekuatan karena terpecah dan berjalan sendiri-sendiri.
Dalam sejarah, kekuatan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh jumlah atau sumber daya yang dimiliki. Ia juga ditentukan oleh kemampuan untuk bersatu dalam menghadapi tantangan bersama.
Perpecahan membuat kekuatan yang besar menjadi lemah.
Energi yang seharusnya digunakan untuk membangun justru habis dalam konflik internal.
Peluang yang seharusnya menjadi jalan kemajuan berubah menjadi ruang perselisihan.
Imam Khamenei melihat bahwa kondisi ini memiliki hubungan erat dengan pengalaman sejarah kolonialisme. Menurut beliau, pada masa penjajahan dan era kolonialisme modern, bangsa-bangsa Muslim sebenarnya memiliki berbagai potensi untuk melawan dominasi asing.
Namun ada dua hal penting yang belum mereka miliki secara memadai: kesadaran tentang siapa lawan sebenarnya dan tekad kolektif untuk menghadapi tekanan tersebut.
Kolonialisme, dalam pandangan beliau, tidak hanya bekerja melalui kekuatan militer. Ia juga bekerja melalui kelemahan internal sebuah masyarakat. Ketika sebuah bangsa tidak memahami kepentingannya sendiri, mudah terpecah, dan kehilangan arah perjuangan, maka kekuatan luar akan lebih mudah memengaruhinya.
Sejarah banyak mencatat bagaimana kekuatan kolonial mampu bertahan bukan hanya karena keunggulan senjata, tetapi juga karena kondisi sosial-politik masyarakat yang dikuasainya.
Namun Imam Khamenei menilai bahwa situasi dunia Islam hari ini berbeda dengan masa lalu.
Menurut beliau, ada perubahan besar yang terjadi. Kesadaran politik masyarakat meningkat. Banyak bangsa Muslim mulai memahami tantangan yang mereka hadapi. Para intelektual, aktivis, dan generasi muda di berbagai negara semakin aktif mencari jalan keluar dari keterbelakangan.
Jika dahulu umat Islam menghadapi dominasi asing tanpa persiapan yang cukup, hari ini menurut beliau terdapat modal yang lebih besar: kesadaran, pengalaman, dan kemauan untuk bangkit.
Akan tetapi, beliau juga memberikan catatan kritis.
Masih ada kelemahan yang terlihat.
Dan kelemahan itu, menurut beliau, bukan semata-mata karena kekuatan lawan, melainkan karena kurangnya usaha dari dalam diri sendiri.
Ada persoalan yang sebenarnya bisa diperbaiki jika ada kesungguhan bersama. Ada peluang yang bisa dimanfaatkan jika masyarakat dan para pemimpinnya mampu bekerja dengan visi yang lebih besar.
Di sinilah gagasan Imam Khamenei menyentuh persoalan yang lebih luas tentang kebangkitan sebuah peradaban.
Sebuah bangsa tidak akan bangkit hanya dengan menyalahkan pihak luar. Tekanan eksternal memang nyata, tetapi kekuatan internal adalah faktor yang menentukan apakah sebuah masyarakat mampu bertahan atau tidak.
Dalam konteks dunia Islam, beliau melihat bahwa persatuan bukan berarti menghapus perbedaan. Perbedaan pemikiran, budaya, dan tradisi adalah bagian dari kenyataan umat manusia. Namun perbedaan tidak seharusnya berubah menjadi alasan untuk saling melemahkan.
Sebab tantangan besar yang dihadapi umat Islam sering kali tidak mengenal batas mazhab, wilayah, atau kelompok.
Kemiskinan, keterbelakangan teknologi, tekanan ekonomi, dan ancaman politik adalah persoalan yang menyentuh banyak masyarakat Muslim secara bersama.
Karena itu, menurut Imam Khamenei, salah satu kunci perubahan adalah membangun kesadaran bersama bahwa umat Islam memiliki kepentingan yang lebih besar daripada sekadar perselisihan internal.
Pada akhirnya, pembahasan Imam Ali Khamenei bukan hanya tentang masa lalu umat Islam, tetapi juga tentang masa depannya.
Pertanyaan besarnya bukan sekadar mengapa umat Islam pernah mengalami kelemahan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah pengalaman sejarah itu akan menjadi pelajaran?
Sebab sebuah bangsa tidak ditentukan hanya oleh luka yang pernah dialaminya. Ia ditentukan oleh kemampuannya mengubah luka tersebut menjadi kesadaran, dan kesadaran menjadi kekuatan.
Mungkin di situlah inti pesan Imam Khamenei: dunia Islam tidak kekurangan potensi. Yang dibutuhkan adalah persatuan, ilmu, keberanian, dan kemauan untuk bergerak bersama.







