Zikir Tanpa Batas: Mengapa Manusia Modern Semakin Mudah Tenggelam dalam Kegelapan?

KHAMENEI.ID– Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, manusia sering merasa dirinya sibuk tetapi kosong. Hari-hari dipenuhi rapat, target, notifikasi, dan berita yang datang tanpa jeda. Kita mengetahui banyak hal, tetapi sering kehilangan sesuatu yang paling mendasar: kesadaran tentang tujuan hidup. Dalam bahasa Al-Qur’an, keadaan itu disebut ghaflah kelalaian yang membuat manusia lupa pada hal yang paling penting.

Karena itulah Al-Qur’an memberikan sebuah perintah yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendasar:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

“Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan zikir yang banyak” (QS. Al-Ahzab: 41)

Lalu ayat berikutnya melanjutkan:

وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang” (QS. Al-Ahzab: 42)

Menariknya, ayat ini tidak turun pada masa awal Islam ketika umat masih lemah dan jumlahnya sedikit. Ayat tersebut hadir setelah masyarakat Muslim terbentuk, setelah mereka melewati berbagai ujian besar, mulai dari Perang Badar, Uhud, hingga Ahzab. Dengan kata lain, ketika sebuah komunitas telah memiliki kekuatan, organisasi, dan agenda besar, Al-Qur’an justru mengingatkan mereka tentang sesuatu yang sering dianggap sepele: jangan sampai lupa mengingat Allah.

Pesan ini terasa sangat relevan hari ini. Sebab manusia modern sering mengira bahwa masalah terbesar adalah kurangnya informasi, teknologi, atau strategi. Padahal tidak jarang akar persoalannya adalah hilangnya orientasi batin. Kita tahu ke mana harus pergi, tetapi lupa mengapa harus pergi ke sana.

Dalam tradisi Islam, zikir berarti mengingat. Ia adalah lawan dari lupa dan lalai. Namun yang dimaksud bukan sekadar mengucapkan kalimat-kalimat tertentu dengan lisan. Zikir adalah menjaga kesadaran agar hati tidak tenggelam dalam arus peristiwa yang terus berubah. Ia menjadi kompas yang membuat manusia tidak kehilangan arah ketika menghadapi keberhasilan maupun kegagalan.

Baca Juga  Shalat atau Perjuangan? Mengapa Dakwah Pertama Nabi Justru Bukan Jihad

Yang menarik, para ulama menjelaskan bahwa hampir semua kewajiban agama memiliki batas. Puasa berakhir ketika Ramadan usai. Haji selesai setelah rangkaian manasiknya ditunaikan. Zakat memiliki kadar tertentu. Namun ada satu amalan yang tidak memiliki batas: zikir.

Dalam sebuah riwayat dari Imam Ja’far ash-Shadiq a.s disebutkan bahwa setiap kewajiban memiliki ukuran yang jelas, kecuali zikir kepada Allah. Allah tidak menetapkan batas akhirnya dan tidak ridha dengan zikir yang sedikit. Karena itulah Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan untuk berzikir, melainkan “berzikir dengan zikir yang banyak.”

Makna “banyak” di sini bukan semata-mata soal jumlah hitungan. Ia menunjuk pada keluasan kehadiran Allah dalam kesadaran manusia. Seseorang bisa bekerja, berbicara, memimpin organisasi, mengurus keluarga, bahkan mengelola negara, tetapi tetap berada dalam keadaan berzikir karena hatinya tidak terputus dari nilai-nilai ilahi.

Riwayat menggambarkan bagaimana para tokoh saleh terdahulu menjadikan zikir sebagai napas kehidupan. Mereka berzikir ketika berjalan, ketika makan, ketika berbincang dengan orang lain, bahkan ketika menjalankan aktivitas sehari-hari. Zikir bukan aktivitas yang terpisah dari kehidupan, melainkan ruh yang menghidupkan seluruh aktivitas itu.

Di sinilah letak rahasia mengapa Al-Qur’an menempatkan zikir sebagai kebutuhan yang tidak pernah selesai. Sebab manusia tidak pernah berhenti menghadapi godaan untuk lupa. Setiap hari ada hal-hal yang berusaha merebut perhatian kita. Ambisi, ketakutan, kemarahan, kesenangan, bahkan kesuksesan sering kali membuat manusia kehilangan keseimbangan.

Setelah memerintahkan zikir, Al-Qur’an memberikan alasan yang sangat indah:

هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ

“Dialah yang melimpahkan rahmat kepada kalian, dan para malaikat-Nya pun mendoakan kalian, agar Dia mengeluarkan kalian dari berbagai kegelapan menuju cahaya” (QS. Al-Ahzab: 43)

Baca Juga  Ilmu Tanpa Spiritualitas: Ketika Pengetahuan Menjadi Alat Penindasan

Ayat ini menghadirkan sebuah gambaran yang menenangkan. Ketika seorang hamba berusaha mengingat Tuhannya, ia sesungguhnya tidak sedang berjalan sendirian. Rahmat Allah menyertainya, dan para malaikat memohonkan ampun untuknya. Tujuannya jelas: mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Kegelapan yang dimaksud bukan hanya kebodohan intelektual. Ia bisa berupa kerakusan yang menguasai hati, ambisi yang membutakan nurani, kemarahan yang menghancurkan akal sehat, atau kecintaan berlebihan kepada dunia yang membuat manusia kehilangan kemanusiaannya.

Sebaliknya, cahaya adalah ketika kejujuran mengalahkan kepentingan, ketika kasih sayang mengalahkan kebencian, ketika kebijaksanaan mengalahkan hawa nafsu. Cahaya muncul ketika seseorang tetap manusiawi di tengah persaingan, tetap jujur ketika memiliki kesempatan untuk curang, dan tetap rendah hati ketika memiliki kekuasaan.

Karena itu, zikir bukan sekadar ritual spiritual yang terpisah dari realitas sosial. Ia adalah energi moral yang menentukan arah hidup individu maupun masyarakat. Sebuah bangsa bisa maju secara ekonomi, tetapi tetap bergerak menuju kegelapan jika keserakahan, ketidakadilan, dan penyalahgunaan kekuasaan menjadi budaya. Sebaliknya, masyarakat yang menjaga nilai-nilai kebenaran dan kemanusiaan sedang bergerak menuju cahaya.

Mungkin inilah pesan yang paling mendalam dari konsep zikir katsir: zikir yang banyak. Yang diminta bukan hanya memperbanyak ucapan, melainkan memperluas kesadaran. Menghadirkan Allah dalam keputusan, dalam pekerjaan, dalam hubungan sosial, dan dalam cara memandang kehidupan.

Di zaman ketika manusia dibanjiri informasi tetapi kekurangan makna, perintah Al-Qur’an ini terasa semakin relevan. Sebab masalah terbesar kita bukanlah tidak tahu apa yang harus dilakukan, melainkan sering lupa siapa diri kita dan untuk apa kita hidup.

Dan mungkin, di tengah kebisingan dunia yang tak pernah berhenti, zikir adalah cara paling sederhana untuk tetap menemukan cahaya.

Baca Juga  Meneladani Akhlak Fatimah Az-Zahra as: Dari Doa untuk Tetangga hingga Etika Solidaritas Modern
Bagikan:
Terkait
Komentar