KHAMENEI.ID– Ada satu pertanyaan yang jarang disadari manusia ketika ia menangis di tengah malam, menyesali hidupnya, lalu perlahan mengangkat tangan untuk berdoa: dari mana sebenarnya datang keinginan untuk bertobat itu?
Apakah murni lahir dari dirinya sendiri? Atau justru ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang diam-diam menariknya pulang?
Dalam kehidupan modern yang penuh kebisingan, manusia sering membayangkan hubungan dengan Tuhan sebagai hubungan yang jauh dan kaku. Tuhan terasa seperti hakim yang hanya menunggu kesalahan manusia. Karena itu banyak orang merasa terlalu kotor untuk kembali. Terlalu penuh dosa untuk mengetuk pintu langit.
Padahal dalam spiritualitas Islam, jarak antara manusia dan Tuhan sesungguhnya tidak sejauh yang dibayangkan manusia sendiri.
Dalam doa Abu Hamzah ats-Tsumali; doa panjang yang biasa dibaca pada malam-malam Ramadan ada kalimat yang sangat menyentuh:
وَ أَنَّ الرَّاحِلَ إِلَيْكَ قَرِيبُ الْمَسَافَةِ
“Sesungguhnya orang yang berjalan menuju-Mu, jaraknya begitu dekat.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menghantam satu ilusi besar manusia modern: bahwa pulang kepada Tuhan adalah perjalanan yang mustahil.
Tidak. Yang jauh sebenarnya bukan Tuhan. Yang membuat jarak justru manusia sendiri.
Doa itu melanjutkan:
وَ أَنَّكَ لَا تَحْتَجِبُ عَنْ خَلْقِكَ إِلَّا أَنْ تَحْجُبَهُمُ الْأَعْمَالُ دُونَكَ
“Engkau tidak pernah bersembunyi dari hamba-hamba-Mu, kecuali perbuatan mereka sendiri yang menjadi penghalang.”
Di titik ini, taubat bukan lagi sekadar ritual agama. Ia berubah menjadi proses eksistensial: manusia membersihkan dinding-dinding gelap yang ia bangun sendiri antara dirinya dan cahaya Tuhan.
Dan menariknya, teks-teks spiritual Islam tidak menggambarkan taubat sebagai gerakan sepihak manusia. Justru sering kali Al-Qur’an menggambarkan bahwa perhatian Tuhan lebih dahulu datang sebelum manusia kembali.
Dalam Surah At-Taubah disebutkan:
ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا
“Kemudian Allah memberikan perhatian dan rahmat-Nya kepada mereka agar mereka bertobat” (QS. At-Taubah: 118)
Ayat ini mengandung makna yang sangat dalam. Taubat manusia ternyata sering kali merupakan akibat dari “panggilan” Tuhan terlebih dahulu. Ada kasih sayang ilahi yang diam-diam menarik hati manusia agar ingin kembali.
Mungkin itu sebabnya sebagian orang tiba-tiba merasa ingin berubah setelah bertahun-tahun tenggelam dalam dosa. Ada yang mendadak ingin shalat setelah sekian lama lalai. Ada yang tiba-tiba menangis ketika mendengar ayat suci. Ada pula yang hatinya mendadak terasa kosong di tengah pesta dunia yang selama ini dianggap membahagiakan.
Dalam bahasa spiritual, itu bukan semata kesadaran psikologis. Itu adalah bentuk “tarikan” rahmat.
Penyair Persia menggambarkannya dengan sangat indah:
“Jika tidak ada tarikan dari Sang Kekasih,
usaha si pecinta tak akan pernah sampai”
Artinya, bahkan kerinduan manusia kepada Allah pun sebenarnya merupakan tanda bahwa Allah sedang memperhatikannya.
Sudut pandang ini penting di tengah dunia modern yang penuh rasa putus asa. Banyak orang merasa hidup mereka terlalu rusak untuk diperbaiki. Mereka menganggap agama hanya milik orang-orang suci. Akibatnya, dosa tidak lagi melahirkan penyesalan, tetapi justru rasa putus asa.
Padahal Islam membedakan jelas antara sadar berdosa dan putus asa dari rahmat Tuhan. Yang pertama adalah awal keselamatan. Yang kedua justru jebakan paling berbahaya.
Karena itu doa Abu Hamzah terasa begitu manusiawi. Ia tidak berbicara dengan nada sok suci. Ia justru lahir dari pengakuan rapuh seorang manusia di hadapan Tuhannya:
أَدْعُوكَ بِلِسَانٍ قَدْ أَخْرَسَهُ ذَنْبُهُ
“Aku memanggil-Mu dengan lidah yang telah dibungkam dosa”
Ada kejujuran yang sangat dalam di sana. Bahwa manusia memang sering jatuh. Sering kalah oleh dirinya sendiri. Tetapi justru dari pengakuan itulah pintu kedekatan mulai terbuka.
Mungkin sebab itu suasana Ramadan selalu terasa berbeda. Masjid penuh. Anak-anak muda mengangkat tangan sambil berulang kali mengucapkan العفو… العفو…ampuni kami… ampuni kami…
Secara lahiriah, itu tampak hanya sebagai ritual tahunan. Tetapi dalam pandangan spiritual, itu adalah tanda bahwa hati manusia masih hidup. Masih ada ruang yang belum mati oleh dunia.
Dan ketika sebuah masyarakat mulai kembali menangis di hadapan Tuhan, itu sesungguhnya pertanda harapan belum hilang.
Karena perubahan sosial besar hampir selalu dimulai dari perubahan batin manusia. Peradaban tidak runtuh pertama-tama karena ekonomi atau politik, tetapi karena hati manusia kehilangan arah pulang.
Itulah mengapa konteks doa tersebut sebetulnya tidak hanya berbicara tentang istighfar pribadi, melainkan juga “istighfar sosial”. Sebuah masyarakat perlu memperbaiki orientasi hidupnya secara bersama-sama. Ada kesalahan kolektif yang kadang harus diakui bersama: kerakusan, ketidakadilan, kemunafikan sosial, atau hilangnya empati terhadap sesama.
Dan semua perbaikan itu bermula dari satu hal sederhana: keberanian untuk mengakui bahwa kita membutuhkan Tuhan.
Ironisnya, manusia modern justru semakin sulit mengakui kebutuhan itu. Teknologi membuat manusia merasa mandiri. Kemajuan membuat manusia merasa kuat. Tetapi diam-diam jiwa mereka lelah.
Mereka punya hiburan, tetapi kehilangan ketenangan. Punya koneksi digital, tetapi kesepian. Punya kebebasan, tetapi kehilangan makna hidup.
Maka ketika seseorang tiba-tiba ingin kembali berdoa, ingin memperbaiki diri, ingin menangis di hadapan Tuhan, jangan buru-buru menganggap itu kelemahan.
Barangkali itu justru tanda bahwa Allah sedang memanggilnya pulang.
Sebab dalam spiritualitas Islam, taubat bukan sekadar manusia mencari Tuhan. Taubat adalah ketika Tuhan, dengan kasih sayang-Nya, membuka jalan agar manusia mau kembali menemukan dirinya sendiri.







