KHAMENEI.ID– Di medan perang, musuh yang jelas sering kali lebih mudah dihadapi daripada kawan yang berada di pihak yang sama tetapi berbeda arah. Sejarah Islam menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan selalu datang dari luar, melainkan dari dalam, ketika batas antara kebenaran dan kekeliruan menjadi samar, ketika orang-orang yang sama-sama mengaku beriman justru saling berhadapan dalam kebingungan.
Di sinilah pentingnya penjelasan, pencerahan, dan kemampuan membedakan hakikat dari penampilan. Sebab, propaganda, dakwah, atau upaya menerangkan kebenaran sesungguhnya paling dibutuhkan bukan ketika segala sesuatu tampak terang, melainkan ketika kabut fitnah menyelimuti pandangan.
Pada masa awal Islam, Nabi Muhammad saw menghadapi banyak kesulitan akibat kaum munafik. Mereka bukan musuh yang datang membawa bendera permusuhan secara terang-terangan. Mereka hidup di tengah masyarakat Islam, berbicara dengan bahasa yang sama, bahkan menampilkan identitas yang serupa. Karena itulah, tantangan menghadapi mereka jauh lebih rumit dibanding menghadapi musuh yang jelas-jelas menentang Islam.
Situasi serupa, bahkan dalam bentuk yang lebih kompleks, muncul pada masa pemerintahan Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Berbeda dengan Perang Badar atau berbagai pertempuran lain yang mempertemukan kaum Muslim dengan lawan yang identitasnya terang-benderang, Imam Ali justru berhadapan dengan kelompok-kelompok yang juga mengaku Muslim. Mereka tidak meninggalkan agama. Mereka tetap meyakini Islam. Namun, menurut pandangan Imam Ali a.s, mereka tersesat dalam memahami jalan yang benar, terseret kepentingan pribadi, ambisi politik, dan dorongan hawa nafsu.
Di titik inilah persoalan menjadi sangat rumit. Ketika seseorang berhadapan dengan musuh yang jelas, pilihan sikap relatif mudah ditentukan. Namun ketika dua kelompok sama-sama membawa simbol agama, sama-sama mengutip ajaran Islam, dan sama-sama mengklaim memperjuangkan kebenaran, masyarakat awam akan kesulitan menentukan posisi.
Kabut semacam itulah yang dalam tradisi Islam sering disebut sebagai fitnah. Bukan sekadar konflik, melainkan kondisi ketika batas antara benar dan salah menjadi buram. Dalam suasana seperti itu, keraguan tumbuh dengan cepat, bahkan di kalangan orang-orang yang saleh dan berilmu.
Salah satu kisah menarik terjadi menjelang Perang Shiffin. Sekelompok sahabat yang dikenal sebagai pengikut Abdullah bin Mas‘ud datang menemui Imam Ali a.s. Jumlah mereka sekitar empat ratus orang, dipimpin oleh Rabi‘ bin Khutsaim. Mereka mengakui keutamaan dan kedudukan Imam Ali a.s, tetapi tetap menyampaikan kegelisahan mereka.
Mereka berkata:
إِنَّا قَدْ شَكَكْنَا فِي هَذَا الْقِتَالِ
“Kami merasa ragu terhadap peperangan ini”
Kalimat itu mengejutkan. Mereka bukan penentang Imam Ali a.s. Mereka juga bukan pembelot. Bahkan mereka mengakui keunggulan dan keutamaan beliau. Namun, mereka tidak mampu melihat dengan jelas siapa yang berada di pihak yang benar dalam konflik tersebut.
Karena keraguan itu, mereka meminta agar ditempatkan di wilayah perbatasan untuk menjaga keamanan negeri Islam dari ancaman luar, alih-alih ikut terlibat dalam perang saudara yang menurut mereka masih menyisakan tanda tanya. Imam Ali a.s kemudian mengabulkan permintaan tersebut dan menugaskan mereka menjaga kawasan Rayy, sebuah wilayah strategis pada masa itu.
Kisah ini menunjukkan satu kenyataan penting: keraguan tidak selalu lahir dari kebencian. Terkadang ia lahir dari kaburnya informasi dan rumitnya keadaan. Namun, keraguan yang berkembang di kalangan tokoh-tokoh berpengaruh dapat menimbulkan dampak besar bagi masyarakat.
Seperti rayap yang menggerogoti kayu dari dalam, keraguan para elite dapat mengikis fondasi gerakan sosial dan politik yang benar. Ketika orang-orang yang dianggap memiliki pemahaman mendalam mulai ragu terhadap hal-hal yang sebenarnya jelas, masyarakat luas pun akan kehilangan arah. Mereka tidak lagi bertanya mana yang benar, tetapi siapa yang harus dipercaya.
Pelajaran dari masa Imam Ali a.s terasa sangat gamblang bagi dunia modern. Kita hidup di zaman ketika informasi beredar tanpa batas. Ironisnya, kelimpahan informasi tidak selalu melahirkan kejernihan. Justru sebaliknya, manusia sering tenggelam dalam banjir narasi yang saling bertabrakan.
Di media sosial, setiap pihak dapat mengklaim dirinya berada di jalan kebenaran. Setiap kelompok memiliki argumen, data, kutipan, bahkan tokoh pendukung. Dalam situasi seperti ini, kebingungan publik menjadi sesuatu yang hampir tak terhindarkan.
Karena itu, kebutuhan terbesar masyarakat bukan hanya informasi, melainkan tabyin; penjelasan yang jernih dan bertanggung jawab. Menjelaskan bukan sekadar menyampaikan fakta, tetapi membantu orang memahami konteks, membedakan prinsip dari kepentingan, serta memisahkan nilai dari ambisi pribadi yang sering menyamar di balik slogan-slogan mulia.
Sejarah Imam Ali a.s mengajarkan bahwa tantangan terbesar sebuah komunitas bukan ketika berhadapan dengan lawan yang terang-terangan memusuhi. Tantangan sesungguhnya muncul ketika kebenaran tertutup debu kepentingan, ketika orang baik menjadi ragu, dan ketika suara yang paling nyaring belum tentu suara yang paling benar.
Di saat-saat seperti itulah, tugas menjelaskan menjadi sangat penting. Bukan untuk memenangkan perdebatan, melainkan untuk menjaga agar masyarakat tetap mampu melihat jalan di tengah kabut. Sebab sepanjang sejarah, keruntuhan sebuah peradaban sering kali tidak dimulai dari kekalahan di medan perang, melainkan dari hilangnya kemampuan membedakan mana yang hak dan mana yang sekadar tampak seperti hak.
Dan mungkin, itulah pelajaran paling berharga dari pergulatan Imam Ali a.s: bahwa memperjelas kebenaran di tengah kekaburan zaman sering kali jauh lebih berat daripada menghadapi musuh yang berdiri terang di depan mata.







