KHAMENEI.ID– Ada banyak hal yang membuat sebuah bangsa terlihat kuat. Sebagian mengandalkan kekayaan alam, sebagian membanggakan kekuatan militernya, dan sebagian lagi merasa aman karena besarnya jumlah penduduk. Namun sejarah berulang kali menunjukkan kenyataan yang berbeda: di balik hampir setiap kekuasaan besar, selalu ada satu faktor yang bekerja diam-diam tetapi menentukan arah segalanya ilmu pengetahuan.
Dunia modern memberi banyak contoh. Negara yang menguasai teknologi digital mampu memengaruhi ekonomi global. Mereka yang unggul dalam riset kesehatan dapat menentukan arah industri farmasi dunia. Bahkan dalam bidang pertahanan, kemenangan sering kali tidak lagi ditentukan oleh jumlah pasukan, melainkan oleh kecanggihan pengetahuan yang melahirkan teknologi.
Tetapi sebenarnya gagasan bahwa ilmu adalah sumber kekuatan bukanlah ide baru. Berabad-abad lalu, khazanah Islam telah menyampaikan pesan yang sama dengan bahasa yang sangat tegas. Sebuah riwayat terkenal menyebutkan:
العلم سلطان من وجده صال به ومن لم يجده صيل عليه
“Ilmu adalah kekuasaan. Siapa yang memilikinya akan mampu menguasai, dan siapa yang tidak memilikinya akan dikuasai”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi mengandung peringatan yang sangat dalam. Menariknya, hadis ini tidak memberikan ruang bagi posisi netral. Tidak ada pilihan untuk sekadar menjadi penonton. Dalam logika ilmu, seseorang hanya memiliki dua kemungkinan: menjadi pihak yang memegang kendali atau menjadi pihak yang dikendalikan.
Kata sultan dalam bahasa Arab tidak hanya berarti kekuasaan politik. Ia juga bermakna otoritas, kemampuan memengaruhi, dan daya untuk menentukan arah. Karena itu, ketika ilmu disebut sebagai sultan, maknanya jauh lebih luas daripada sekadar gelar akademik atau tumpukan informasi. Ilmu adalah sumber pengaruh.
Lihatlah bagaimana dunia bekerja hari ini. Perusahaan-perusahaan teknologi terbesar tidak memiliki tambang emas yang luas atau ladang minyak yang tak terbatas. Kekuatan mereka lahir dari pengetahuan. Algoritma yang mereka ciptakan mampu mengarahkan perilaku miliaran manusia. Data yang mereka kumpulkan dapat memengaruhi ekonomi, politik, bahkan budaya suatu bangsa.
Di sinilah makna sabda tersebut menjadi sangat relevan. Orang yang memiliki ilmu bukan hanya mengetahui lebih banyak. Ia memiliki kemampuan untuk menentukan keputusan, mengendalikan keadaan, dan memengaruhi masa depan. Sebaliknya, mereka yang tertinggal dalam pengetahuan sering kali hanya menjadi pengguna, pembeli, atau pengikut dari apa yang diproduksi pihak lain.
Sejarah umat manusia sebenarnya adalah sejarah perebutan ilmu. Pada masa kejayaan peradaban Islam, kota-kota seperti Baghdad dan Cordoba menjadi pusat pengetahuan dunia. Para ilmuwan Muslim menerjemahkan, mengembangkan, dan melahirkan berbagai cabang ilmu baru. Saat itu, dunia datang belajar kepada mereka. Peradaban Islam bukan hanya dihormati karena kekuatan militernya, tetapi karena otoritas intelektualnya.
Namun ketika tradisi ilmu mulai melemah, keadaan berbalik. Bangsa-bangsa lain mengambil alih kepemimpinan ilmu pengetahuan. Mereka menjadi produsen teknologi, sementara banyak negeri Muslim berubah menjadi konsumen. Gambaran yang pernah diingatkan dalam hadis itu tampak nyata: ketika ilmu tidak dimiliki, pihak lain akan memiliki “tangan yang lebih tinggi” dalam menentukan nasib kita.
Yang menarik, ilmu tetap menjadi sumber kekuatan meskipun belum menghasilkan teknologi. Ini adalah poin yang sering dilupakan. Kita kerap mengukur manfaat ilmu hanya dari produk akhirnya: mesin, aplikasi, atau industri. Padahal pengetahuan itu sendiri sudah merupakan modal kekuatan.
Seseorang yang memahami persoalan dengan benar akan mengambil keputusan lebih baik daripada mereka yang bertindak berdasarkan dugaan. Sebuah masyarakat yang berilmu lebih sulit diprovokasi oleh informasi palsu. Sebuah bangsa yang memiliki tradisi berpikir kritis akan lebih siap menghadapi perubahan zaman. Dengan kata lain, ilmu tidak hanya menciptakan teknologi; ia juga membentuk cara pandang yang melahirkan ketahanan.
Dalam kehidupan sehari-hari, pelajaran ini terasa semakin penting. Di era media sosial, informasi beredar begitu cepat, tetapi pengetahuan yang mendalam justru sering kali semakin langka. Banyak orang merasa tahu karena membaca judul, padahal belum memahami substansinya. Akibatnya, opini mudah digiring, emosi mudah dimainkan, dan keputusan sering diambil tanpa dasar yang kuat.
Di tengah situasi seperti itu, mencari ilmu bukan lagi sekadar aktivitas akademik. Ia adalah upaya mempertahankan kemerdekaan berpikir. Orang yang memiliki pengetahuan dapat menilai informasi secara kritis. Ia tidak mudah diseret arus. Sebaliknya, mereka yang miskin pengetahuan akan lebih mudah dipengaruhi oleh siapa saja yang menguasai informasi.
Karena itu, pesan hadis tentang ilmu sebagai kekuasaan sesungguhnya bukan hanya berbicara tentang individu. Ia berbicara tentang masa depan sebuah masyarakat dan bangsa. Kekuatan ekonomi, politik, dan militer pada akhirnya selalu bertumpu pada kualitas pengetahuan yang dimiliki.
Mungkin itulah sebabnya khazanah Islam berulang kali menempatkan ilmu pada posisi yang begitu tinggi. Bukan karena ilmu sekadar menambah wawasan, melainkan karena ia menentukan siapa yang memegang kendali atas masa depan.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan apakah ilmu penting atau tidak. Sejarah sudah menjawabnya. Pertanyaan yang lebih mendesak adalah: apakah kita sedang membangun tradisi ilmu yang membuat kita mampu menentukan nasib sendiri, atau justru membiarkan diri terus bergantung pada pengetahuan yang diciptakan orang lain?
Sebab sebagaimana peringatan yang telah disampaikan berabad-abad lalu, ilmu tidak pernah netral. Ia selalu melahirkan kekuasaan. Dan dalam dunia yang bergerak semakin cepat, siapa yang menguasai ilmu akan memiliki suara yang menentukan. Sedangkan siapa yang mengabaikannya, cepat atau lambat, akan hidup di bawah keputusan orang lain.







