Guru: Profesi yang Dipilih Nabi, Martabat yang Kerap Kita Lupakan

KHAMENEI.ID– Ada satu ironi yang terus berulang dalam kehidupan modern. Kita mengagumi profesi yang menghasilkan kekuasaan, ketenaran, atau kekayaan. Namun, profesi yang membentuk semua itu sejak awal justru sering berada di pinggir penghargaan. Guru dihormati dalam pidato, tetapi tak selalu dimuliakan dalam kenyataan.

Padahal, jika ingin mengetahui seberapa beradab sebuah bangsa, lihatlah bagaimana mereka memperlakukan gurunya. Sebab di ruang kelas yang sederhana itulah masa depan perlahan ditulis, bukan dengan gegap gempita, melainkan dengan kesabaran yang nyaris tak terdengar.

Dalam tradisi Islam, penghormatan kepada guru memiliki landasan yang sangat dalam. Bahkan, Rasulullah saw sendiri memilih identitas yang begitu sederhana sekaligus agung: seorang pendidik.

Suatu hari beliau melihat dua kelompok orang. Satu kelompok larut dalam doa dan ibadah, sementara kelompok lainnya sibuk mengajarkan ilmu kepada masyarakat. Rasulullah saw kemudian bersabda:

أَمَّا هَؤُلَاءِ فَيَسْأَلُونَ اللَّهَ، إِنْ شَاءَ أَعْطَاهُمْ وَإِنْ شَاءَ مَنَعَهُمْ، وَأَمَّا هَؤُلَاءِ فَيُعَلِّمُونَ النَّاسَ، وَإِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّمًا

“Kelompok yang pertama sedang memohon kepada Allah. Jika Allah menghendaki, Dia akan mengabulkan, dan jika tidak, Dia tidak mengabulkannya. Adapun kelompok yang kedua sedang mengajarkan ilmu kepada manusia. Sesungguhnya aku diutus sebagai seorang guru”

Setelah mengatakan itu, Rasulullah saw tidak kembali kepada kelompok yang sedang berdoa. Beliau justru berjalan menuju kelompok yang sedang mengajar, lalu duduk bersama mereka.

Adegan sederhana itu menyimpan pesan yang sangat kuat. Nabi saw tidak sedang merendahkan doa. Beliau justru menunjukkan bahwa menyebarkan ilmu adalah salah satu bentuk ibadah yang dampaknya melampaui kepentingan pribadi. Doa bisa mengubah kehidupan seseorang, tetapi pendidikan mampu mengubah kehidupan banyak orang sekaligus.

Di titik ini, makna seorang guru menjadi jauh lebih luas daripada sekadar penyampai pelajaran. Guru adalah pembentuk cara berpikir, penjaga akhlak, sekaligus penyalur harapan antargenerasi. Apa yang dia tanam hari ini mungkin baru akan berbuah puluhan tahun kemudian, ketika murid-muridnya mengambil keputusan penting bagi keluarga, masyarakat, bahkan bangsa.

Baca Juga  Rahmat bagi Mereka yang Bekerja Tuntas: Mengapa Profesionalisme Adalah Nilai Spiritual

Namun jika ditarik lebih jauh, penghormatan kepada guru sebenarnya bukan terutama untuk kepentingan guru itu sendiri. Masyarakatlah yang paling diuntungkan ketika profesi pendidik memperoleh tempat yang tinggi. Sebab semakin tinggi martabat guru, semakin tinggi pula martabat ilmu pengetahuan dan pendidikan.

Sebaliknya, ketika guru dipandang sebagai profesi kelas dua, kerugiannya tidak berhenti pada rendahnya kesejahteraan atau penghargaan sosial. Yang sesungguhnya merugi adalah generasi yang tumbuh tanpa teladan bahwa ilmu adalah sesuatu yang mulia.

Hari ini kita hidup di zaman ketika berbagai profesi tampil dengan gemerlap citra. Media sosial memperlihatkan kesuksesan dalam hitungan detik. Popularitas sering lebih cepat dihargai daripada kebijaksanaan. Kekayaan lebih mudah dikagumi daripada ketekunan mendidik manusia. Di tengah arus semacam itu, profesi guru kerap tampak sunyi.

Padahal, hampir tidak ada satu pun profesi yang lahir tanpa sentuhan seorang guru. Dokter pernah duduk sebagai murid. Hakim pernah belajar mengeja. Insinyur, ilmuwan, pemimpin negara, bahkan para tokoh agama semuanya pernah menerima pelajaran dari seseorang yang bersedia menghabiskan waktunya untuk mengajar.

Ironisnya, masyarakat sering mengagumi hasil tanpa menghargai proses. Kita bangga kepada orang-orang hebat, tetapi lupa kepada mereka yang membentuk kehebatan itu sejak awal.

Gagasan ini kemudian menyentuh sesuatu yang lebih mendasar: rasa utang budi. Tidak ada manusia yang tumbuh sepenuhnya karena kemampuannya sendiri. Di belakang setiap keberhasilan selalu ada tangan-tangan yang sabar membimbing, mengoreksi, memberi semangat, bahkan memaafkan kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan muridnya.

Karena itu, menghormati guru bukanlah formalitas. Ia merupakan pengakuan bahwa pengetahuan adalah warisan yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui orang-orang yang memilih mengajar.

Lebih dari itu, seorang guru sesungguhnya sedang melakukan pekerjaan yang sangat mirip dengan misi para nabi: memperbaiki manusia. Tentu tingkat dan cakupannya berbeda, tetapi hakikatnya tetap sama. Pendidikan bukan sekadar memindahkan informasi dari kepala guru ke kepala murid. Pendidikan adalah proses menumbuhkan manusia agar mampu membedakan yang benar dan yang salah, yang bermanfaat dan yang merusak, yang mulia dan yang hina.

Baca Juga  Jalan yang Dipermudah: Kisah Nabi sebagai Guru Umat Manusia 

Itulah sebabnya Rasulullah a.s tidak mengatakan bahwa beliau hanya membawa ilmu. Beliau mengatakan bahwa beliau diutus sebagai seorang guru. Sebab mengajar bukan hanya soal menyampaikan pengetahuan, melainkan juga mendampingi manusia bertumbuh.

Dalam konteks yang lebih luas, penghormatan kepada guru menjadi investasi peradaban. Bangsa yang memuliakan guru sedang menanam masa depan. Sebaliknya, bangsa yang meremehkan guru mungkin masih mampu membangun gedung-gedung tinggi, tetapi akan kesulitan membangun manusia-manusia yang berkualitas.

Pada akhirnya, penghargaan terhadap guru bukanlah hadiah bagi profesi tertentu. Itu adalah cermin tentang apa yang benar-benar dihargai oleh sebuah masyarakat. Selama kita masih percaya bahwa ilmu adalah cahaya dan pendidikan adalah jalan menuju kemajuan, selama itu pula guru akan tetap menjadi salah satu pilar terpenting peradaban.

Dan mungkin, kita perlu sesekali mengingat kembali pilihan Rasulullah a.s pada hari itu. Di antara orang-orang yang sedang berdoa dan orang-orang yang sedang mengajar, beliau memilih duduk bersama para guru. Pilihan itu bukan sekadar sebuah tindakan, melainkan sebuah pesan yang terus melintasi zaman: membangun manusia adalah salah satu ibadah terbesar yang dapat dilakukan seorang hamba.

Bagikan:
Terkait
Komentar