KHAMENEI.ID – Setiap musim haji, jutaan Muslim dari berbagai bangsa berkumpul di satu tempat. Mereka berbeda bahasa, budaya, warna kulit, dan mazhab, tetapi mengenakan pakaian yang sama dan menghadap kiblat yang sama. Di tengah lautan manusia itu, sering kali orang mengira dakwah hanya terjadi melalui ceramah, diskusi, atau khutbah. Padahal, menurut Imam Khamenei, salah satu bentuk dakwah paling efektif justru lahir dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: perilaku seorang jamaah haji.
Bagi Imam Khamenei, haji bukan sekadar perjalanan spiritual antara seorang hamba dan Tuhannya. Haji juga merupakan panggung besar tempat umat Islam memperlihatkan wajah Islam kepada dunia. Karena itu, setiap tindakan seorang jamaah memiliki makna yang jauh melampaui dirinya sendiri.
Seorang Muslim yang beribadah di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Baqi’, Mina, Arafah, atau tempat-tempat suci lainnya sesungguhnya sedang membawa nama Islam dan bangsanya di hadapan jutaan orang.
Akhlak Adalah Bahasa yang Dipahami Semua Orang
Imam Khamenei menggambarkan sosok jamaah haji ideal sebagai pribadi yang dibentuk oleh pendidikan Al-Qur’an. Ia rendah hati, santun, penuh kasih sayang, tidak gemar menghina orang lain, dan selalu berusaha mempererat persaudaraan, bukan memperuncing perbedaan.
Akhlak seperti ini, menurut beliau, merupakan bentuk dakwah yang paling mudah dipahami oleh siapa pun.
Seorang jamaah mungkin tidak menguasai bahasa Arab, Inggris, atau bahasa lain yang digunakan oleh jamaah dari berbagai negara. Ia mungkin tidak memiliki kesempatan berdiskusi panjang dengan mereka. Namun senyum yang tulus, sikap yang sopan, kebersihan diri, kesabaran saat berdesakan, dan penghormatan kepada sesama Muslim adalah bahasa universal yang tidak membutuhkan penerjemah.
Di situlah Islam tampil dalam bentuk yang paling nyata.
Menampilkan Persatuan, Bukan Perpecahan
Salah satu penekanan penting Imam Khamenei adalah pentingnya memperlihatkan persatuan umat Islam melalui tindakan nyata.
Beliau mengingatkan adanya banyak riwayat dari para Imam Ahlul Bait yang menganjurkan kaum Syiah untuk ikut melaksanakan salat berjamaah bersama kaum Sunni di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Bahkan terdapat riwayat yang menyebut bahwa pahala salat bersama mereka di tempat-tempat suci memiliki keutamaan yang sangat besar.
Menurut Imam Khamenei, pesan utama dari riwayat-riwayat tersebut bukanlah membandingkan kualitas imam salat dengan Rasulullah saw., melainkan menunjukkan betapa pentingnya menjaga persatuan umat Islam.
Dengan berdiri dalam satu saf, umat Islam memperlihatkan kepada dunia bahwa mereka memiliki lebih banyak persamaan daripada perbedaan.
Karena itulah Imam Khomeini, lanjut Imam Khamenei, selalu menasihati jamaah haji Iran agar menghadiri salat berjamaah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Kehadiran itu bukan sekadar memenuhi ibadah, tetapi juga menjadi simbol nyata ukhuwah Islamiyah.
Perilaku Kecil yang Mengirim Pesan Besar
Imam Khamenei juga mengingatkan bahwa tindakan-tindakan sederhana dapat membangun atau justru merusak citra Islam.
Beliau memberikan contoh, jangan sampai ketika ribuan jamaah sedang khusyuk melaksanakan salat berjamaah, justru terlihat ada jamaah yang sibuk membawa barang atau berjalan menuju penginapan tanpa menghormati suasana ibadah. Perilaku seperti ini mungkin tampak sepele, tetapi dapat memberikan kesan yang kurang baik kepada orang lain.
Dalam pandangan beliau, adab adalah bagian dari dakwah.
Menjaga ketertiban, menghormati waktu salat, memperhatikan kebersihan, bersikap santun kepada petugas maupun sesama jamaah, semuanya merupakan pesan diam yang berbicara lebih lantang daripada pidato panjang.
Dakwah yang Tidak Membutuhkan Mikrofon
Imam Khamenei menilai bahwa seorang jamaah haji yang dikenal karena kesopanannya, kebersihannya, ketekunannya dalam berzikir, dan kelembutannya dalam bergaul sesungguhnya sedang melakukan dakwah yang sangat efektif.
Orang-orang mungkin tidak mengenalnya secara pribadi. Mereka tidak mengetahui latar belakang pendidikannya. Namun mereka akan mengingat bagaimana seorang Muslim memperlakukan orang lain.
Beliau bahkan menyebut tradisi pembacaan Doa Kumail yang dilakukan dengan penuh kekhusyukan sebagai salah satu bentuk dakwah yang sangat berpengaruh. Ketika ribuan orang berkumpul, menangis di hadapan Allah, memohon ampunan, dan berdoa dengan penuh kerendahan hati, pemandangan itu sendiri telah menjadi pesan yang hidup tentang spiritualitas Islam.
Menurut Imam Khamenei, dakwah semacam ini sering kali lebih kuat daripada banyak ceramah.
Ketika Haji Menjadi Cermin Peradaban Islam
Pada akhirnya, Imam Khamenei mengajak umat Islam memahami bahwa haji bukan hanya ibadah individual, melainkan juga representasi peradaban Islam.
Jutaan pasang mata saling mengamati. Setiap jamaah menjadi duta yang mewakili agamanya, bangsanya, bahkan mazhabnya. Oleh sebab itu, cara berbicara, cara berjalan, cara menghormati orang lain, hingga cara beribadah memiliki makna yang jauh lebih besar daripada yang disadari.
Jika setiap jamaah mampu menghadirkan akhlak Al-Qur’an dalam dirinya, maka haji akan menjadi media dakwah terbesar di dunia—bukan melalui slogan, melainkan melalui keteladanan.
Sebab pada akhirnya, banyak hati tidak disentuh oleh perdebatan, tetapi luluh oleh akhlak yang baik. Dan di tanah suci, akhlak itulah yang menjadi wajah paling indah dari Islam.







