Ghadir Khum: Ketika Kepemimpinan Bukan Sekadar Kekuasaan

KHAMENEI.ID – Setiap masyarakat selalu bergulat dengan satu pertanyaan yang sama: siapa yang berhak memimpin dan untuk apa kekuasaan digunakan? Sejarah manusia dipenuhi pergantian raja, presiden, panglima, dan penguasa. Namun, di tengah panjangnya perjalanan sejarah itu, ada satu peristiwa yang dalam pandangan Islam memiliki makna jauh melampaui penunjukan seorang pemimpin. Peristiwa itu adalah Ghadir Khum.

Ketika banyak orang mengenang Ghadir hanya sebagai momentum pengangkatan Imam Ali bin Abi Thalib as sebagai penerus Rasulullah saw, Imam Ali Khamenei qs mengajak kita melihat dimensi yang lebih dalam. Menurut beliau, kemuliaan Ghadir bukan semata karena sosok yang ditunjuk adalah Imam Ali as—seorang manusia yang dalam pandangan Syiah memiliki kedudukan yang tak tertandingi setelah Rasulullah saw—melainkan karena Ghadir memperkenalkan sebuah prinsip besar yang menjadi fondasi kehidupan Islam: al-Wilayah.

Inilah pesan yang melampaui ruang dan waktu. Sosok-sosok datang dan pergi, tetapi sebuah gagasan dapat terus hidup selama berabad-abad. Karena itu, yang paling penting untuk dipahami dari Ghadir bukan hanya siapa yang ditunjuk, melainkan konsep kepemimpinan yang diperkenalkan melalui penunjukan tersebut.

Dalam pandangan Imam Khamenei, pesan Ghadir adalah sebuah pelajaran abadi yang dapat dijadikan pedoman oleh setiap generasi. Sebab, yang tersisa dari sebuah peristiwa sejarah bukan sekadar nama-nama yang tercatat di dalamnya, melainkan nilai dan makna yang terkandung di baliknya.

Peristiwa Ghadir berawal dari perintah langsung Allah kepada Nabi Muhammad saw untuk menyampaikan sesuatu yang sangat penting. Begitu pentingnya hingga Al-Qur’an memberikan penegasan yang luar biasa:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ

“Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau kerjakan (apa yang diperintahkan itu), berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya.”
(QS. Al-Ma’idah: 67)

Ayat ini menunjukkan bahwa pesan yang hendak disampaikan bukan perkara kecil. Imam Khamenei bahkan menyebut bahwa hakikat Ghadir begitu penting sehingga dapat dikatakan sebagai salah satu fondasi utama Islam. Sebab, di dalamnya terkandung konsep tentang bagaimana urusan manusia harus diarahkan dan dikelola.

Baca Juga  Ghadir, Kepemimpinan Islam, dan Perjuangan Menegakkan Pemerintahan Ilahi

Di sinilah muncul dimensi pertama dari Ghadir. Menurut beliau, pengelolaan kehidupan manusia bukan semata urusan manusiawi yang lepas dari petunjuk langit. Nasib masyarakat, arah peradaban, dan jalan kehidupan bersama memiliki keterkaitan dengan kehendak Ilahi. Dengan kata lain, persoalan kepemimpinan dalam Islam tidak dipandang sekadar sebagai hasil perebutan kekuasaan, kesepakatan politik, atau permainan mayoritas, melainkan memiliki hubungan dengan nilai-nilai yang bersumber dari Allah swt.

Tentu saja, sejarah juga menunjukkan bahwa gagasan suci sering kali disalahgunakan. Banyak orang mengatasnamakan agama demi kepentingan pribadi. Bahkan dalam sejarah kenabian, pernah muncul orang-orang yang mengaku nabi dan menyesatkan masyarakat. Namun, menurut Imam Khamenei, kemungkinan penyalahgunaan tidak boleh membuat manusia mengabaikan sebuah kebenaran yang agung. Fakta bahwa ada orang yang memalsukan emas tidak berarti emas kehilangan nilainya.

Tetapi inti pembahasan beliau tidak berhenti di sana. Ada satu kata yang menjadi pusat perhatian dalam peristiwa Ghadir: wilayah.

Ketika Nabi Muhammad saw berdiri di hadapan ribuan jamaah dan menyampaikan sabda terkenal:

مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَهَذَا عَلِيٌّ مَوْلَاهُ

“Barang siapa menjadikan aku sebagai maulanya, maka Ali adalah maulanya.”

Yang menarik, Nabi tidak menggunakan istilah yang lazim dipakai untuk menggambarkan kekuasaan. Beliau tidak berbicara tentang kerajaan, dominasi, atau penguasaan. Beliau memilih kata maula dan wilayah.

Pilihan kata ini bukan kebetulan.

Dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Arab dan Indonesia, terdapat banyak istilah untuk menggambarkan pemerintahan. Ada “kekuasaan”, “kerajaan”, “pemerintahan”, “penguasa”, atau “pengendali”. Masing-masing menyoroti aspek tertentu: kekuatan, dominasi, perintah, atau kontrol. Namun Islam justru lebih sering menggunakan istilah wilayah.

Al-Qur’an sendiri menyatakan:

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ

“Sesungguhnya penolong dan pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya…”
(QS. Al-Ma’idah: 55)

Mengapa bukan istilah lain?

Menurut pemikiran Imam Khamenei, di sinilah letak keunikan pandangan Islam tentang kepemimpinan. Kata wilayah berasal dari akar kata Arab waliya yang berarti dekat, menyertai, menghubungkan, atau berada tanpa jarak. Karena itu, makna wilayah jauh lebih kaya daripada sekadar kekuasaan politik.

Baca Juga  “Jahiliyah Modern”: Kritik Imam Ali Khamenei atas Modernitas dan Peradaban Barat

Dalam pandangan Syiah, wilayah bukan pertama-tama soal memerintah, melainkan soal kedekatan eksistensial antara pemimpin dan umat. Seorang wali adalah sosok yang begitu dekat dengan manusia sehingga ia memahami kebutuhan mereka, membimbing mereka, menjaga mereka, dan mengarahkan mereka menuju kesempurnaan. Hubungan itu bukan hubungan formal antara penguasa dan rakyat, melainkan hubungan spiritual, moral, dan sosial yang hidup.

Karena itu, ketika Al-Qur’an menyebut Allah swt sebagai Wali orang-orang beriman, maknanya bukan bahwa Allah sekadar “penguasa” mereka. Allah adalah pelindung, pembimbing, penolong, dan sumber cahaya yang mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju terang. Dalam logika yang sama, Rasulullah saw memiliki wilayah atas umatnya karena beliau membimbing manusia menuju keselamatan. Dan dalam pandangan Syiah, wilayah itu kemudian berlanjut pada Imam Ali as dan para Imam Ahlulbait as.

Di sinilah konsep wilayah dalam Syiah memiliki kedalaman yang sering kali luput dipahami. Wilayah bukan hanya otoritas politik (wilayah tashri’iyyah), tetapi juga otoritas spiritual dan moral. Seorang Imam bukan sekadar administrator negara atau kepala pemerintahan. Ia adalah penafsir autentik agama, penjaga kemurnian wahyu, teladan akhlak, sekaligus pembimbing perjalanan ruhani manusia.

Karena itu, kecintaan kepada Imam dalam tradisi Syiah tidak pernah dipisahkan dari ketaatan. Dan ketaatan tidak pernah dipisahkan dari kecintaan. Keduanya bertemu dalam konsep wilayah. Seorang wali dicintai karena ia membimbing kepada kebenaran, dan ditaati karena ia menjadi representasi kehendak Ilahi dalam kehidupan manusia.

Para ulama Syiah sering menjelaskan bahwa wilayah memiliki beberapa lapisan. Ada wilayah dalam arti kecintaan dan loyalitas kepada Ahlulbait. Ada wilayah dalam arti kepemimpinan sosial dan politik. Ada pula wilayah dalam makna yang lebih tinggi, yaitu hubungan spiritual yang menghubungkan manusia dengan jalan Tuhan. Semua lapisan itu bertemu dalam sosok Imam.

Baca Juga  Sejarah Masih Belum Selesai Ditulis: Intizar dan Keyakinan bahwa Kebaikan Akan Menang 

Karena itu, ketika Rasulullah saw bersabda di Ghadir, “Barang siapa menjadikan aku sebagai maulanya, maka Ali adalah maulanya,” dalam pembacaan Syiah, sabda itu tidak hanya berbicara tentang suksesi politik. Ia berbicara tentang kelanjutan seluruh fungsi kenabian selain wahyu. Wahyu telah berakhir dengan Rasulullah, tetapi bimbingan, penjagaan agama, penafsiran kebenaran, dan kepemimpinan umat harus tetap berlanjut melalui wilayah.

Pemahaman ini membantu menjelaskan mengapa peristiwa Ghadir memperoleh posisi yang sangat sentral dalam teologi Syiah. Sebab yang dipertaruhkan bukan sekadar siapa yang memegang tampuk pemerintahan setelah Nabi, melainkan bagaimana agama akan terus dipahami, dijaga, dan diwujudkan dalam kehidupan manusia.

Dalam konsep ini, pemimpin bukan penguasa yang berdiri di atas masyarakat, melainkan bagian dari masyarakat itu sendiri. Hubungannya bukan hubungan majikan dengan bawahan, melainkan hubungan seorang penjaga dengan sesuatu yang ia cintai dan lindungi. Semakin tinggi wilayah seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk melayani, bukan untuk dilayani.

Di tengah dunia modern yang sering memahami politik sebagai perebutan pengaruh, kursi, dan kepentingan kelompok, pesan Ghadir terasa semakin relevan. Ia mengingatkan bahwa kepemimpinan sejati tidak diukur dari besarnya kekuasaan yang dimiliki, tetapi dari kedalaman tanggung jawab yang dipikul.

Karena itu, Ghadir bukan sekadar peristiwa sejarah yang dikenang setiap tahun. Ia adalah tawaran sebuah paradigma. Sebuah cara pandang bahwa kekuasaan tanpa nilai akan berubah menjadi penindasan, sementara kepemimpinan yang dibangun di atas prinsip wilayah akan melahirkan kedekatan, pelayanan, bimbingan, dan pengabdian.

Barangkali inilah mengapa pesan Ghadir tetap hidup hingga hari ini. Bukan karena ia berbicara tentang masa lalu, melainkan karena ia terus mengajukan pertanyaan yang sama kepada setiap generasi: apakah kepemimpinan adalah jalan untuk menguasai manusia, ataukah jalan untuk membimbing mereka menuju kemuliaan?

Di titik itulah, Ghadir berubah dari sebuah peristiwa menjadi sebuah cermin. Dan setiap zaman akan selalu menemukan bayangannya sendiri di dalam cermin tersebut.

Bagikan:
Terkait
Komentar