Jahiliah Masa Kini: Ketika Cahaya Kenabian Digantikan Kesombongan

KHAMENEI.ID– Ada anggapan yang begitu melekat dalam benak banyak orang bahwa jahiliah hanyalah nama sebuah zaman sebelum Islam datang. Ia identik dengan padang pasir, penyembahan berhala, peperangan antarsuku, dan masyarakat Arab berabad-abad silam. Padahal Al-Qur’an dan hadis memberikan pengertian yang jauh lebih dalam. Jahiliah bukan sekadar periode sejarah, melainkan keadaan jiwa dan cara hidup yang bisa muncul kapan saja, bahkan di tengah kemajuan peradaban.

Karena itu, kebangkitan Nabi Muhammad saw bukan hanya menandai pergantian kalender sejarah. Peristiwa bi’tsah pengutusan beliau sebagai rasul adalah titik balik yang membelah dua cara manusia memandang kehidupan: antara hidup yang dipimpin wahyu dan hidup yang dikendalikan hawa nafsu.

Imam Ali a.s menggambarkan keadaan manusia sebelum datangnya risalah dengan bahasa yang begitu hidup. Menurut beliau, Rasulullah saw diutus ketika manusia sedang tenggelam dalam kebingungan. Mereka kehilangan arah, berjalan membabi buta di tengah fitnah, sementara hawa nafsu merampas akal sehat mereka. Kesombongan membuat mereka tergelincir, dan jahiliah menyeret mereka menjadi manusia yang ringan pikirannya, mudah dipermainkan, serta hidup dalam kegelisahan tanpa ujung.

Gambaran itu terasa mengejutkan karena terdengar sangat akrab dengan kehidupan modern. Hari ini manusia memiliki teknologi yang belum pernah dimiliki generasi mana pun. Informasi mengalir tanpa batas, ilmu pengetahuan berkembang pesat, dan dunia berada dalam genggaman layar kecil. Namun di saat yang sama, kebingungan justru semakin meluas. Orang semakin sulit membedakan antara kebenaran dan popularitas, antara kebijaksanaan dan sensasi, antara kebutuhan dan keinginan.

Di titik ini, jahiliah tampak bukan sebagai lawan dari pengetahuan, melainkan lawan dari petunjuk. Seseorang bisa sangat cerdas, tetapi tetap hidup dalam jahiliah apabila kecerdasannya dipakai untuk membenarkan kesombongan, ketidakadilan, atau hawa nafsu.

Baca Juga  Imam Ali: Berani Memilih Kebenaran Saat Semua Menolaknya

Al-Qur’an bahkan menggunakan istilah “hukum jahiliah” ketika mengingatkan manusia agar tidak meninggalkan petunjuk Ilahi.

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah mereka menghendaki hukum jahiliah? Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang meyakini?” (QS. Al-Ma’idah: 50).

Ayat ini menunjukkan bahwa jahiliah bukan hanya persoalan penyembahan berhala. Ia juga hadir ketika manusia lebih mempercayai standar yang lahir dari ego, kepentingan, atau tekanan sosial dibandingkan nilai-nilai kebenaran. Setiap kali hawa nafsu dijadikan hakim, setiap kali kekuasaan lebih dihormati daripada keadilan, di situlah jahiliah menemukan bentuk barunya.

Namun jika ditarik lebih jauh, Al-Qur’an juga memperlihatkan akar psikologis dari jahiliah. Dalam peristiwa Hudaibiyah, Allah menggambarkan bagaimana kaum musyrik dipenuhi oleh kesombongan dan fanatisme sempit.

إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ

“Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan, yaitu kesombongan jahiliah, maka Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang beriman” (QS. Al-Fath: 26).

Perbandingan yang dibangun ayat ini sangat menarik. Jahiliah melahirkan fanatisme, amarah, dan keangkuhan. Sebaliknya, risalah kenabian menghadirkan sakinah, ketenangan batin yang lahir dari ketakwaan. Dengan kata lain, ukuran kemajuan sebuah masyarakat bukanlah seberapa tinggi gedung-gedungnya, melainkan seberapa damai hati warganya ketika berhadapan dengan perbedaan, konflik, dan godaan kekuasaan.

Karena itu, bi’tsah Nabi sesungguhnya merupakan revolusi kesadaran. Nabi saw tidak sekadar mengubah sistem sosial, tetapi juga mengubah cara manusia memandang dirinya sendiri. Beliau mengajarkan bahwa manusia tidak boleh diperbudak oleh hawa nafsunya, tidak boleh menjadi tawanan kesombongan, dan tidak boleh menjadikan tradisi sebagai ukuran mutlak kebenaran.

Baca Juga  Lebih Sulit Bertahan daripada Memulai: Makna Istiqomah dalam Jalan Perubahan

Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang sangat personal. Dalam sebuah hadis, beberapa orang yang baru memeluk Islam bertanya kepada Rasulullah saw apakah dosa-dosa mereka di masa jahiliah masih akan dipertanggungjawabkan. Rasulullah saw menjawab bahwa siapa yang benar keislamannya dan kokoh keyakinannya, Allah tidak akan menghukumnya atas kesalahan masa jahiliah. Sebaliknya, mereka yang hanya menjadikan iman sebagai formalitas tanpa keyakinan yang sungguh-sungguh tidak akan memperoleh pembebasan itu.

Pesan hadis ini bukan sekadar berbicara tentang masa sebelum seseorang memeluk Islam. Ia mengandung makna yang lebih luas: selalu ada kesempatan untuk memulai kehidupan baru. Masa lalu tidak harus menjadi penjara apabila seseorang benar-benar mengubah orientasi hidupnya. Cahaya iman bukan hanya menghapus dosa, tetapi juga mengubah arah perjalanan manusia.

Di sinilah makna bi’tsah menjadi sangat relevan bagi setiap zaman. Setiap generasi selalu berhadapan dengan pilihan yang sama: mengikuti cahaya petunjuk atau kembali tenggelam dalam jahiliah dengan wajah yang berbeda. Dahulu berhalanya berupa batu. Hari ini berhala itu bisa berupa ego, uang, jabatan, popularitas, bahkan teknologi yang kehilangan kompas moral.

Mungkin itulah sebabnya Al-Qur’an tidak pernah memperlakukan jahiliah hanya sebagai catatan sejarah. Ia adalah peringatan agar manusia tidak mengulangi kesalahan yang sama dalam bentuk yang lebih modern dan lebih halus. Sebab yang membuat suatu masyarakat disebut jahiliah bukanlah rendahnya tingkat pendidikan, melainkan hilangnya kesadaran bahwa kebenaran harus lebih tinggi daripada kepentingan diri.

Bi’tsah Nabi Muhammad saw, dengan demikian, bukan sekadar peristiwa yang dikenang setiap tahun. Ia adalah undangan yang terus hidup agar manusia meninggalkan setiap bentuk kegelapan menuju cahaya. Sebab selama masih ada kesombongan yang mengalahkan kerendahan hati, hawa nafsu yang menyingkirkan akal sehat, dan fanatisme yang mengalahkan kebijaksanaan, jahiliah belum benar-benar berlalu. Dan selama manusia masih bersedia kembali kepada petunjuk, semangat bi’tsah akan selalu menemukan jalannya di setiap zaman.

Baca Juga  Ketika Ibadah Kehilangan Ruh: Pelajaran dari Kaum Khawarij
Bagikan:
Terkait
Komentar