KHAMENEI.ID– Ada ironi yang selalu berulang dalam sejarah agama. Seseorang bisa tampak begitu tekun beribadah, hafal ayat-ayat suci, rajin shalat malam, bahkan menggetarkan hati orang yang melihatnya. Namun, semua itu ternyata tidak selalu menjadi tanda bahwa ia telah sampai pada hakikat agama. Di titik inilah sejarah Khawarij menjadi cermin yang tak pernah usang: bagaimana ibadah yang kehilangan ruh justru dapat melahirkan kekakuan, fanatisme, bahkan kekerasan.
Islam tidak pernah memandang ibadah sekadar rangkaian gerakan atau bacaan. Di balik shalat, tilawah Al-Qur’an, dan doa, terdapat sesuatu yang jauh lebih mendasar, yakni ruh penghambaan kepada Allah. Ruh itulah yang menghadirkan ketundukan, kelembutan hati, dan kesediaan menerima kebenaran, meskipun datang dari arah yang tidak sesuai dengan keinginan diri.
Ketika ruh itu menghilang, ibadah bisa berubah menjadi rutinitas yang kering. Orang tetap berdiri dalam shalat, tetap melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi semakin jauh dari tujuan yang ingin dibangun agama: membentuk manusia yang rendah hati di hadapan Tuhan dan adil terhadap sesama.
Sejarah mencatat, kaum Khawarij adalah contoh paling mencolok dari paradoks tersebut. Mereka dikenal sebagai ahli ibadah. Shalat mereka panjang, puasa mereka banyak, dan bacaan Al-Qur’an mereka begitu indah hingga mampu membuat orang lain terharu. Bahkan sebagian sahabat yang berada di barisan Imam Ali a.s pernah dibuat kagum oleh kesalehan lahiriah mereka.
Dikisahkan, pada masa Perang Jamal, salah seorang sahabat Imam Ali a.s melewati seorang Khawarij yang sedang beribadah di tengah malam. Dengan suara yang merdu ia membaca firman Allah:
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Apakah orang yang beribadah pada waktu-waktu malam dengan bersujud dan berdiri, yang takut kepada akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya, sama dengan yang tidak demikian? Katakanlah, apakah orang-orang yang mengetahui sama dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Hanya orang-orang yang berakal yang dapat mengambil pelajaran” (QS. Az-Zumar: 9)
Ayat itu begitu menyentuh. Sang sahabat pun larut dalam kekaguman. Bagaimana mungkin orang yang membaca Al-Qur’an dengan penghayatan sedemikian dalam bisa berada di jalan yang salah?
Namun sejarah memberikan jawaban yang pahit.
Setelah peperangan melawan Khawarij usai, Imam Ali a.s mengajak para sahabat melewati tubuh-tubuh yang bergelimpangan di medan perang. Beliau berhenti di hadapan salah seorang yang telah gugur, lalu meminta agar jasadnya dibalik. Kepada sahabat yang semalam terpesona oleh suara tilawahnya, Imam Ali a.s bertanya, “Apakah engkau mengenalnya?”
Sahabat itu menggeleng.
Imam Ali a.s kemudian berkata, “Dialah orang yang tadi malam membaca ayat-ayat Al-Qur’an hingga memikat hatimu”
Kalimat itu bukan sekadar penjelasan tentang identitas seseorang. Ia adalah pelajaran tentang betapa mudahnya manusia tertipu oleh simbol-simbol kesalehan. Tidak semua suara yang merdu lahir dari hati yang jernih. Tidak semua dahi yang menghitam karena sujud telah memahami makna sujud itu sendiri.
Di sinilah letak bahaya ibadah tanpa ruh. Ketika Al-Qur’an hanya berhenti di lisan, bukan meresap ke dalam hati, ia kehilangan daya untuk membentuk kebijaksanaan. Ayat-ayat suci berubah menjadi slogan. Shalat menjadi kebiasaan. Puasa menjadi kebanggaan. Sementara ego tetap tumbuh subur, merasa paling benar dan paling suci dibanding orang lain.
Dalam konteks yang lebih luas, fenomena Khawarij tidak berhenti sebagai kisah sejarah. Ia dapat muncul dalam bentuk apa pun dan pada zaman apa pun. Ketika agama dipersempit menjadi formalitas, ketika ukuran ketakwaan hanya dilihat dari penampilan luar, atau ketika seseorang lebih sibuk menghakimi daripada memperbaiki dirinya, bibit-bibit cara berpikir Khawarij mulai menemukan ruangnya.
Padahal inti agama justru mengajarkan sebaliknya. Ibadah seharusnya membuat manusia semakin lembut, semakin bijaksana, dan semakin mampu mengenali kebenaran. Bukan menjadikannya mudah memvonis sesat, apalagi mengangkat pedang terhadap orang yang justru menjadi representasi nilai-nilai Islam.
Imam Ali a.s adalah ujian terbesar bagi mereka. Sosok yang oleh Rasulullah saw dididik sejak kecil, menjadi pintu ilmu, simbol keadilan, dan teladan keberanian, justru diperangi oleh orang-orang yang menghabiskan malam mereka dengan shalat dan tilawah. Ini menunjukkan bahwa kesalahan terbesar bukanlah kurangnya ibadah, melainkan gagalnya memahami ruh agama yang hidup di balik ibadah itu.
Agama memang membutuhkan ilmu, tetapi ilmu saja belum cukup. Ia membutuhkan hati yang bersih, kerendahan diri untuk menerima kebenaran, dan kesediaan mengakui bahwa kesalehan tidak pernah dapat diukur hanya dari panjangnya rakaat atau indahnya bacaan Al-Qur’an.
Pada akhirnya, ibadah bukanlah pertunjukan spiritual di hadapan manusia. Ia adalah perjalanan untuk mengikis kesombongan di hadapan Allah. Jika setelah bertahun-tahun beribadah seseorang justru semakin keras, semakin mudah membenci, dan semakin sulit menerima kebenaran, mungkin yang perlu diperiksa bukan banyaknya ibadah itu, melainkan apakah ruh ibadah masih hidup di dalamnya.
Karena sejarah Khawarij mengajarkan satu kenyataan yang selalu relevan: bukan kurangnya ibadah yang paling berbahaya, melainkan ibadah yang kehilangan ruh penghambaan.







