Hawa Nafsu dan Iman: Mengapa Manusia Menolak Kebenaran yang Sudah Diketahui?

KHAMENEI.ID– Ada paradoks yang terus berulang dalam sejarah manusia. Banyak orang tidak tersesat karena tidak mengetahui kebenaran, melainkan karena enggan menerimanya. Mereka melihat, memahami, bahkan mengakuinya di dalam hati. Namun ketika kebenaran menuntut perubahan, mereka memilih berpaling. Di titik itulah persoalannya bukan lagi soal pengetahuan, melainkan soal iman.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menganggap bahwa mengetahui sesuatu otomatis membuat seseorang mengikutinya. Padahal kenyataannya tidak demikian. Seorang perokok tahu rokok membahayakan kesehatan, tetapi tetap mengisapnya. Seorang koruptor memahami bahwa tindakannya salah, tetapi tetap melakukannya. Seorang pemimpin mengerti arti keadilan, tetapi lebih memilih kepentingan pribadi. Pengetahuan ternyata tidak selalu melahirkan kepatuhan.

Imam Ali bin Abi Thalib a.s menggambarkan iman sebagai jalan yang terang dan pelita yang paling bercahaya. Dalam Nahjul Balaghah, beliau mengatakan bahwa jalan iman adalah jalan yang jelas dan cahayanya paling terang. Gambaran ini menunjukkan bahwa iman bukan wilayah yang dipenuhi kabut dan teka-teki. Sebaliknya, ia adalah jalan yang dapat dikenali oleh akal sehat dan hati yang masih jernih.

Namun mengapa manusia tetap gagal menempuh jalan yang terang itu?

Al-Qur’an menghadirkan kisah yang menjawab pertanyaan tersebut melalui pertemuan Nabi Musa a.s dengan Fir’aun. Allah berfirman:

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا

“Mereka mengingkarinya, padahal hati mereka meyakini kebenarannya, karena kezaliman dan kesombongan” (QS. An-Naml: 14)

Ayat ini mengungkap sisi terdalam jiwa manusia. Para pembesar Mesir sebenarnya telah mengetahui bahwa mukjizat Nabi Musa bukanlah sihir biasa. Bahkan para penyihir kerajaan yakni orang-orang yang paling memahami dunia sihir akhirnya bersujud setelah menyaksikan tongkat Musa a.s berubah menjadi ular. Mereka rela kehilangan jabatan bahkan nyawa karena menyadari bahwa yang mereka saksikan adalah kebenaran.

Baca Juga  Menyelami Makna Al-Qur'an: Keindahan yang Tampak, Kedalaman yang Tak Bertepi

Akan tetapi, Fir’aun dan para pengikutnya tetap menolak. Bukan karena kurang bukti, melainkan karena hawa nafsu, kesombongan, dan keinginan mempertahankan kekuasaan lebih kuat daripada hasrat untuk tunduk kepada kebenaran.

Di sinilah perbedaan mendasar antara ilmu dan iman.

Ilmu membuat seseorang mengetahui sesuatu. Iman membuat seseorang menyerahkan dirinya kepada sesuatu yang diketahuinya sebagai benar. Pengetahuan berada di kepala, sedangkan iman berakar di hati. Seseorang dapat memahami kebenaran secara logis, tetapi belum tentu bersedia mengubah hidupnya demi kebenaran itu.

Karena itu, lawan dari ilmu bukan hanya kebodohan atau keraguan. Adapun lawan dari iman adalah kekufuran dalam makna asal katanya: menutupi. Seorang yang kufur tidak selalu tidak tahu. Ia justru bisa saja mengetahui, tetapi memilih menutupi apa yang diyakininya demi kepentingan, gengsi, atau hawa nafsunya sendiri.

Dalam konteks yang lebih luas, gejala semacam ini tidak hanya terjadi pada tokoh-tokoh besar dalam sejarah. Ia hadir dalam kehidupan modern dengan wajah yang lebih halus. Kita hidup di zaman ketika informasi tersedia tanpa batas. Pengetahuan dapat diperoleh hanya dengan beberapa sentuhan jari. Namun limpahan informasi tidak otomatis melahirkan manusia yang lebih beriman, lebih jujur, atau lebih berakhlak.

Justru di era seperti sekarang, tantangan terbesar bukan menemukan kebenaran, melainkan memiliki keberanian untuk tunduk kepadanya.

Gagasan ini kemudian menyentuh hakikat iman sebagai penggerak tindakan. Apa pun yang benar-benar diyakini seseorang akan membentuk seluruh arah hidupnya. Sejarah menunjukkan bahwa manusia mampu berkorban luar biasa demi sesuatu yang diimaninya. Pada abad lalu, banyak orang rela kehilangan kebebasan bahkan nyawa demi mempertahankan ideologi yang mereka yakini, termasuk Marxisme. Terlepas dari benar atau salahnya keyakinan itu, kenyataan tersebut memperlihatkan satu hal: iman selalu melahirkan tindakan.

Baca Juga  Mengapa Islam Memuliakan Kerja: Bukan Sekadar Hasil, tetapi Kesungguhan

Seseorang yang benar-benar percaya tidak membutuhkan dorongan terus-menerus. Ia bergerak secara alami menuju tujuan yang diyakininya. Sebaliknya, keyakinan yang hanya berhenti sebagai pengetahuan mudah menguap ketika berhadapan dengan godaan, tekanan, atau kepentingan.

Karena itu Imam Ali tidak berhenti menjelaskan bahwa iman menuntun manusia menuju amal saleh. Beliau mengatakan,

فَبِالْإِيمَانِ يُسْتَدَلُّ عَلَى الصَّالِحَاتِ

 “melalui iman manusia diarahkan kepada berbagai amal kebajikan”

 Namun beliau segera melengkapinya dengan kalimat berikutnya, 

وَبِالصَّالِحَاتِ يُسْتَدَلُّ عَلَى الْإِيمَانِ 

“melalui amal saleh pula iman semakin diteguhkan”

Hubungan keduanya bersifat timbal balik. Iman melahirkan amal, sementara amal memelihara dan memperkuat iman. Seperti dua sisi mata uang, keduanya saling menghidupkan. Iman yang tidak pernah diwujudkan dalam tindakan akan melemah. Sebaliknya, amal yang kehilangan fondasi iman mudah berubah menjadi rutinitas tanpa ruh.

Di titik ini, kita dapat memahami bahwa perjuangan terbesar manusia bukanlah mencari bukti tentang kebenaran. Bukti sering kali sudah terbentang di hadapan mata. Yang lebih sulit adalah mengalahkan ego yang enggan mengakui bahwa dirinya harus berubah.

Hawa nafsu selalu berusaha mempertahankan kenyamanan, sementara iman mengajak manusia melampaui dirinya sendiri. Kesombongan ingin tetap berkuasa, sedangkan iman mengajarkan ketundukan kepada Allah. Konflik itulah yang berlangsung di dalam setiap hati.

Mungkin karena itulah Al-Qur’an dan para pewaris hikmah tidak pernah hanya mengajak manusia berpikir, tetapi juga membersihkan hati. Sebab akal dapat menunjukkan jalan, tetapi hanya hati yang bersedia tunduk akan mampu melangkah di atasnya.

Pada akhirnya, ukuran keimanan bukanlah seberapa banyak kebenaran yang telah kita ketahui, melainkan seberapa jauh kita bersedia membiarkan kebenaran itu mengubah diri kita. Sebab cahaya iman tidak sekadar menerangi pikiran, tetapi juga menggerakkan langkah menuju kehidupan yang lebih benar.

Baca Juga  Doa Imam Ja'far ash-Shadiq: Ketika Hati Memohon Menjadi Rumah Cinta kepada Allah
Bagikan:
Terkait
Komentar