KHAMENEI.ID– Tidak ada kebohongan yang berhasil bertahan lama jika ia tampil apa adanya. Karena itu, kebatilan hampir tak pernah datang dengan wajah yang menyeramkan. Ia lebih sering mengenakan pakaian yang tampak akrab: sepotong kebenaran, secuil fakta, atau narasi yang terdengar masuk akal. Justru di sanalah letak bahayanya. Yang menyesatkan bukanlah kebohongan yang terang-terangan, melainkan kebohongan yang menyamar sebagai kebenaran.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap mengira bahwa membedakan benar dan salah adalah perkara mudah. Nyatanya, tidak sesederhana itu. Di tengah banjir informasi, derasnya media sosial, dan perang opini yang tak pernah berhenti, batas antara fakta dan manipulasi sering kali menjadi kabur. Orang tidak lagi ditipu oleh kebohongan murni, melainkan oleh kebenaran yang telah dicampur dengan kepalsuan.
Jauh berabad-abad sebelum era digital lahir, Imam Ali bin Abi Thalib a.s telah mengingatkan tentang cara kerja fitnah dan penyimpangan. Dalam salah satu khutbahnya, beliau berkata:
إِنَّمَا بَدْءُ وُقُوعِ الْفِتَنِ أَهْوَاءٌ تُتَّبَعُ وَأَحْكَامٌ تُبْتَدَعُ يُخَالَفُ فِيهَا كِتَابُ اللَّهِ… فَلَوْ أَنَّ الْبَاطِلَ خَلَصَ مِنْ مِزَاجِ الْحَقِّ لَمْ يَخْفَ عَلَى الْمُرْتَادِينَ، وَلَوْ أَنَّ الْحَقَّ خَلَصَ مِنْ لَبْسِ الْبَاطِلِ انْقَطَعَتْ عَنْهُ أَلْسُنُ الْمُعَانِدِينَ، وَلَكِنْ يُؤْخَذُ مِنْ هَذَا ضِغْثٌ وَمِنْ هَذَا ضِغْثٌ فَيُمْزَجَانِ
“fitnah bermula ketika hawa nafsu diikuti dan aturan-aturan baru dibuat hingga bertentangan dengan Kitab Allah. Seandainya kebatilan tampil murni tanpa bercampur dengan kebenaran, manusia akan mudah mengenalinya. Begitu pula jika kebenaran hadir tanpa diselimuti kebatilan, tidak akan ada ruang bagi para penentangnya. Namun sebagian dari kebenaran dicampurkan dengan sebagian dari kebatilan sehingga keduanya tampak menyatu. Pada saat itulah manusia menjadi bingung membedakan mana yang benar dan mana yang salah”
Kalimat itu terasa semakin relevan hari ini. Manipulasi tidak lagi dilakukan dengan menghapus fakta sepenuhnya. Yang lebih sering terjadi adalah memotong sebagian fakta, memperbesar bagian tertentu, menghilangkan konteks, lalu menyusunnya kembali menjadi narasi baru. Hasil akhirnya tampak logis, padahal telah kehilangan kejujuran.
Di titik ini, propaganda bekerja dengan sangat halus. Ia tidak meminta orang mempercayai kebohongan yang kasar. Ia hanya menggeser sudut pandang, memilih fakta yang menguntungkan, dan membungkusnya dengan bahasa yang meyakinkan. Akibatnya, masyarakat tidak merasa sedang ditipu. Mereka justru merasa sedang membela kebenaran.
Fenomena semacam ini bukan hanya terjadi dalam politik. Ia merambah hampir seluruh ruang kehidupan. Di media sosial, sebuah potongan video beberapa detik dapat membentuk opini yang sama sekali berbeda dari peristiwa sebenarnya. Sebuah kutipan yang dipenggal dapat mengubah makna ucapan seseorang. Statistik yang benar pun bisa dipakai untuk menyampaikan kesimpulan yang keliru jika konteksnya dihilangkan.
Di sinilah propaganda menemukan kekuatannya: bukan pada kemampuannya menciptakan kebohongan baru, melainkan pada kemampuannya mengolah kebenaran menjadi sesuatu yang menyesatkan.
Dalam konteks yang lebih luas, masyarakat modern menghadapi tantangan yang belum pernah sebesar ini. Teknologi memungkinkan informasi menyebar dalam hitungan detik. Namun kecepatan itu tidak selalu diiringi dengan ketelitian. Orang lebih mudah membagikan sesuatu yang mengejutkan daripada memeriksa kebenarannya. Akibatnya, kebohongan yang dibungkus kebenaran menyebar jauh lebih cepat dibanding klarifikasi.
Tidak mengherankan bila berbagai kekuatan komunikasi global berlomba membentuk persepsi publik. Yang diperebutkan bukan sekadar wilayah atau kekayaan, melainkan cara manusia memandang realitas. Siapa yang berhasil mengendalikan persepsi, sering kali berhasil mengendalikan keputusan.
Dalam situasi seperti ini, masyarakat membutuhkan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar banyak informasi. Mereka membutuhkan kemampuan menimbang. Sebab persoalannya bukan lagi kekurangan data, melainkan kelimpahan data yang saling bertabrakan.
Kemampuan berpikir kritis menjadi bagian dari tanggung jawab moral. Setiap berita perlu diuji, setiap narasi perlu dibandingkan, dan setiap kesimpulan perlu diberi ruang untuk diverifikasi. Tidak semua yang viral berarti benar. Tidak semua yang terdengar indah berarti jujur. Dan tidak semua yang dikemas atas nama keadilan benar-benar berpihak kepada keadilan.
Gagasan Imam Ali a.s juga mengingatkan bahwa penyimpangan sering kali tidak datang dari luar semata. Ada kalanya ia justru diperkuat oleh orang-orang yang berada di dalam sebuah masyarakat. Sebagian melakukannya dengan sadar karena memiliki kepentingan tertentu. Sebagian lagi sekadar mengulang apa yang mereka dengar tanpa pernah menguji kebenarannya. Kebohongan akhirnya memperoleh tenaga baru karena terus dipantulkan dari satu mulut ke mulut yang lain.
Karena itu, menjaga kebenaran bukan hanya tugas para pemimpin, ulama, atau cendekiawan. Ia adalah tanggung jawab setiap individu yang memilih untuk tidak menjadi penyambung informasi yang belum jelas asal-usulnya. Dalam dunia yang dipenuhi gema dan pengulangan, keberanian untuk berhenti sejenak dan memeriksa fakta justru menjadi bentuk keberanian yang paling langka.
Pada akhirnya, pertarungan terbesar bukanlah antara kebenaran dan kebatilan yang tampak jelas. Pertarungan sesungguhnya terjadi ketika keduanya bercampur hingga sulit dibedakan. Di situlah integritas, kejernihan akal, dan kebersihan hati diuji. Sebab sejarah menunjukkan, manusia jarang dikalahkan oleh kebohongan yang terang-terangan. Mereka lebih sering tersesat oleh kebohongan yang datang dengan wajah yang tampak benar.







