Amar Ma’ruf Bukan Sekadar Kata: Ketika Lidah dan Perbuatan Harus Sejalan

KHAMENEI.ID– Ada ironi yang terus berulang dalam kehidupan sosial. Semakin banyak orang berbicara tentang kebaikan, semakin sering pula masyarakat menyaksikan jarak yang lebar antara kata dan tindakan. Nasihat mengalir deras, tetapi teladan terasa langka. Di ruang publik, seruan untuk berlaku jujur, adil, dan peduli bergema di mana-mana, namun tidak sedikit yang justru mengabaikan nilai-nilai itu ketika menyangkut dirinya sendiri. Di titik inilah amar ma’ruf dan nahi mungkar kehilangan ruhnya.

Dalam ajaran Islam, amar ma’ruf bukan sekadar mengajak orang lain berbuat baik. Demikian pula nahi mungkar bukan hanya melarang keburukan. Keduanya merupakan tanggung jawab sosial yang menjaga kesehatan moral sebuah masyarakat. Sebuah komunitas tidak akan bertahan lama apabila setiap orang memilih diam melihat kemungkaran, atau sebaliknya, gemar menasihati tanpa pernah bercermin pada dirinya sendiri.

Imam Ali bin Abi Thalib a.s berulang kali menekankan pentingnya ketaqwaan dalam kehidupan pribadi. Namun ketika berbicara tentang kehidupan sosial, perhatian beliau tertuju pada satu kewajiban yang begitu mendasar: amar ma’ruf dan nahi mungkar. Bukan tanpa alasan. Sebab sebuah masyarakat tidak hanya runtuh oleh kejahatan yang terang-terangan dilakukan, tetapi juga oleh kebaikan yang berhenti menjadi teladan.

Amar ma’ruf sejatinya adalah mengajak manusia kepada segala bentuk kebajikan. Bentuknya sangat luas. Mengajak untuk peduli kepada kaum miskin, menumbuhkan kasih sayang, menjaga amanah, bekerja sama, bersikap rendah hati, sabar, dan lapang dada. Semua itu bukan sekadar nilai-nilai individual, melainkan fondasi yang membuat kehidupan bersama tetap kokoh.

Sebaliknya, nahi mungkar mengingatkan manusia agar menjauhi berbagai bentuk kerusakan. Kezaliman, perampasan hak orang lain, korupsi terhadap harta publik, fitnah, ghibah, dusta, adu domba, hingga berbagai bentuk pengkhianatan terhadap kepentingan masyarakat merupakan kemungkaran yang perlahan menghancurkan sendi-sendi kehidupan. Kerusakan sosial hampir selalu berawal dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dibiarkan tumbuh tanpa ada yang berani mengingatkan.

Baca Juga  Islam Rahmatan Bukan Berarti Lunak kepada Musuh

Namun persoalannya bukan hanya keberanian berbicara. Yang lebih penting adalah kejujuran di balik ucapan itu.

Sebelum nasihat keluar dari lisan, ia semestinya telah hidup di dalam hati. Ketika seseorang mengajak kepada kejujuran, seharusnya hatinya benar-benar mencintai kejujuran. Saat ia menyeru kepada kepedulian, dirinya lebih dahulu memiliki kasih terhadap sesama. Demikian pula ketika melarang kezaliman, kebencian terhadap kezaliman itu harus benar-benar bersemayam dalam dirinya.

Di sinilah letak perbedaan antara nasihat yang hidup dan nasihat yang kosong. Kata-kata mungkin terdengar sama, tetapi hati yang melatarbelakanginya berbeda. Orang bisa mengucapkan kalimat yang indah, tetapi apabila batinnya tidak meyakini apa yang diucapkannya, kata-kata itu kehilangan daya. Ia berubah menjadi retorika yang hanya memantul di telinga, tanpa pernah menyentuh hati.

Dalam konteks yang lebih luas, masyarakat sebenarnya memiliki kepekaan untuk membedakan keduanya. Mereka mungkin melupakan pidato yang panjang, tetapi hampir tidak pernah lupa pada keteladanan. Sebaliknya, mereka juga sulit melupakan kemunafikan. Ketika seorang pemimpin menyerukan kesederhanaan tetapi hidup bermewah-mewahan, ketika seseorang mengecam kebohongan namun terbiasa berdusta, atau ketika mengajak orang lain menjaga amanah sementara dirinya sendiri mengkhianatinya, maka kepercayaan publik perlahan runtuh.

Karena itu Islam memberikan peringatan yang sangat keras kepada mereka yang memisahkan ucapan dari perbuatan. Dalam sebuah riwayat disebutkan:

لَعَنَ اللَّهُ الآمِرِينَ بِالْمَعْرُوفِ التَّارِكِينَ لَهُ

“Allah melaknat orang-orang yang memerintahkan kebaikan, tetapi mereka sendiri meninggalkannya”

Ungkapan ini bukan sekadar ancaman moral. Ia menunjukkan bahwa kerusakan yang ditimbulkan oleh seorang penyeru kebaikan yang tidak memberi teladan jauh lebih besar daripada keburukan yang dilakukan secara pribadi. Sebab ia bukan hanya gagal memperbaiki dirinya, tetapi juga merusak kepercayaan masyarakat terhadap nilai-nilai kebaikan itu sendiri.

Baca Juga   Musuh Harus Dihadang Sebelum Tiba: Pelajaran Imam Ali tentang Pertahanan dan Kewaspadaan

Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang sangat relevan dengan kehidupan modern. Kita hidup di zaman ketika kata-kata diproduksi tanpa henti. Media sosial memungkinkan siapa pun menjadi pemberi nasihat. Ceramah, kutipan motivasi, dan seruan moral beredar setiap detik. Namun di saat yang sama, publik juga semakin mudah melihat inkonsistensi. Jejak digital membuat orang mengetahui apakah seseorang benar-benar menjalankan apa yang ia ucapkan.

Akibatnya, ukuran kredibilitas tidak lagi hanya ditentukan oleh kefasihan berbicara, tetapi oleh keselarasan antara perkataan dan tindakan. Teladan menjadi jauh lebih berpengaruh daripada slogan. Satu tindakan nyata sering kali lebih kuat daripada seribu nasihat.

Pada akhirnya, amar ma’ruf dan nahi mungkar bukanlah panggung untuk menunjukkan siapa yang paling saleh. Ia adalah proses saling menjaga agar masyarakat tidak kehilangan arah. Karena itu, setiap nasihat sesungguhnya adalah cermin yang pertama kali menghadap kepada diri sendiri. Sebelum mengajak orang lain melangkah menuju kebaikan, seseorang harus lebih dahulu memastikan bahwa dirinya sedang berjalan di jalan yang sama.

Barangkali itulah sebabnya mengapa keteladanan selalu menjadi bahasa yang paling mudah dipahami manusia. Kata-kata bisa diperdebatkan, tetapi kehidupan yang selaras dengan ucapan akan selalu menemukan jalannya sendiri menuju hati banyak orang.

Bagikan:
Terkait
Komentar