Saat Sebuah Bangsa Menggugat Dunia 

KHAMENEI.ID– Sebuah revolusi tidak selalu mengguncang istana. Kadang ia mengguncang sesuatu yang lebih sulit disentuh: cara manusia memahami dunia.

Pada mulanya, sebuah gagasan mungkin hanya terdengar seperti suara dari pinggir sejarah. Ia berbicara tentang keadilan ketika dunia merasa telah menemukan bentuk kekuasaan yang paling masuk akal. Ia mengkritik dominasi ketika dominasi telah berganti nama menjadi kepentingan nasional. Ia menolak kesewenang-wenangan ketika kesewenang-wenangan telah dibungkus dalam istilah yang terdengar terhormat.

Namun gagasan tertentu tidak berhenti sebagai gagasan. Ia memasuki kesadaran manusia, mengusik keyakinan lama, lalu membuat orang bertanya: benarkah dunia harus selalu berjalan seperti ini?

Dalam pandangan Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs, salah satu warisan terpenting Revolusi Islam adalah apa yang ia sebut sebagai “pengetahuan atau kesadaran politik”. Revolusi itu, menurutnya, tidak menciptakan seluruh gagasan politik dari ruang kosong. Hampir semua perdebatan mengenai kebebasan, kekuasaan, dominasi, dan hak bangsa-bangsa telah lama beredar di dunia.

Yang berubah adalah cara gagasan-gagasan itu diletakkan.

Revolusi Islam datang dengan membawa bahasa politik yang bersumber dari Islam. Ia mempertanyakan anggapan bahwa kekuasaan, siapa pun pemegangnya, berhak menentukan segala sesuatu tanpa batas. Ia juga mempertanyakan dunia yang membicarakan kebebasan, tetapi pada saat yang sama membiarkan sebagian bangsa hidup di bawah tekanan, intervensi, dan perang.

Di situlah guncangan itu terjadi.

Sebab sebuah sistem politik dapat bertahan bukan hanya karena memiliki tentara, ekonomi, atau media. Ia juga bertahan karena manusia mempercayai cerita yang dibangun di sekelilingnya. Kekuasaan menjadi kuat ketika istilah-istilahnya diterima tanpa banyak pertanyaan. Dominasi disebut stabilitas. Intervensi disebut perlindungan. Perebutan kepentingan disebut kerja sama. Bahkan perang dapat menemukan nama yang lebih halus agar terdengar seperti sebuah keharusan sejarah.

Baca Juga  Ilmu adalah Kekuatan: Mengapa Bangsa yang Tertinggal Akan Selalu Rentan?

Revolusi Islam mencoba mengganggu bahasa semacam itu.

Ia mengajukan pertanyaan sederhana, tetapi berbahaya bagi kekuasaan: apakah sesuatu menjadi benar hanya karena dilakukan oleh pihak yang kuat?

Dalam kerangka politik Islam yang ditawarkan revolusi itu, jawabannya tidak. Kekuasaan tidak memperoleh keabsahan moral hanya karena memiliki kemampuan untuk memaksakan kehendak.

Karena itu, penolakan terhadap kesewenang-wenangan atau pemerintahan yang bertumpu pada kehendak sepihak menjadi salah satu gagasan penting. Kesewenang-wenangan tidak menjadi sah hanya karena berganti nama, bendera, atau seragam. Ia tetap menjadi kesewenang-wenangan ketika dilakukan oleh satu orang, kelompok, bahkan negara yang menganggap dirinya paling benar.

Gagasan ini sesungguhnya membawa kita kepada persoalan yang lebih luas: batas kekuasaan.

Setiap kekuasaan cenderung menganggap dirinya memiliki alasan untuk terus meluas. Mula-mula ia mengatakan bahwa ia membutuhkan kewenangan untuk menjaga ketertiban. Kemudian kewenangan itu digunakan untuk menentukan apa yang boleh dikatakan. Setelah itu ia menentukan apa yang boleh dipikirkan. Pada akhirnya, masyarakat bukan hanya diminta mematuhi keputusan, tetapi juga menerima bahwa keputusan tersebut memang satu-satunya kemungkinan yang masuk akal.

Di titik itu, politik berubah menjadi pengelolaan kesadaran.

Revolusi Islam berusaha memutus rantai tersebut dengan mempertemukan politik dan moralitas. Kekuasaan tidak hanya dinilai dari kemampuannya menghasilkan ketertiban, melainkan juga dari bagaimana ia memperlakukan manusia.

Karena itu kritiknya tidak berhenti pada tirani di dalam negeri. Ia diarahkan pula kepada kesombongan kekuasaan yang membuat sebuah negara merasa berhak mencampuri kehidupan bangsa lain, mengambil manfaat dari kelemahan mereka, atau bahkan menggunakan kekerasan atas nama tujuan yang terdengar mulia.

Dalam bahasa yang lebih sederhana: sebuah bangsa tidak menjadi lebih bermoral hanya karena ia lebih kuat.

Baca Juga  Di Balik Slogan Demokrasi: Kritik Imam Khamenei terhadap Liberalisme, Kolonialisme, dan Tragedi Gaza

Di sinilah pesan revolusi itu memperoleh dimensi global. Ia tidak hanya berbicara tentang Iran. Ia berbicara tentang hubungan antara yang kuat dan yang lemah, antara pusat dan pinggiran, antara negara yang menentukan aturan dan mereka yang hanya diminta mematuhinya.

Tentu saja, dunia tidak serta-merta berubah setelah sebuah revolusi menyampaikan gagasan. Negara-negara memiliki kepentingannya sendiri. Para politikus sering kali mempertahankan bahasa yang sama meski keadaan telah berubah. Media yang mengaku bebas pun tidak selalu terbebas dari kepentingan, modal, dan kekuasaan.

Tetapi ukuran keberhasilan sebuah gagasan tidak selalu dapat dilihat dari apakah para penguasa menerimanya.

Kadang keberhasilan itu justru tampak ketika orang-orang mulai meragukan sesuatu yang sebelumnya dianggap pasti.

Generasi muda, kaum intelektual, dan mereka yang membaca dunia dengan mata kritis mulai bertanya: mengapa kebebasan harus memiliki standar yang berbeda? Mengapa kedaulatan sebuah bangsa dapat dihormati ketika menguntungkan, tetapi diabaikan ketika bertentangan dengan kepentingan negara kuat? Mengapa kekuasaan yang melakukan kekerasan bisa berbicara tentang perdamaian, sementara mereka yang menentangnya segera dicap sebagai ancaman?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu mungkin tidak langsung menjatuhkan sebuah pemerintahan. Namun ia dapat meretakkan fondasi yang lebih dalam: keyakinan bahwa tatanan yang ada adalah satu-satunya tatanan yang mungkin.

Itulah mungkin arti paling penting dari sebuah revolusi dalam wilayah pemikiran. Ia tidak sekadar mengganti penguasa. Ia mengubah pertanyaan yang diajukan manusia kepada kekuasaan.

Hampir setengah abad setelah Revolusi Iran, pertanyaan itu masih relevan. Dunia terus menyaksikan perang yang dibenarkan dengan berbagai alasan, intervensi yang diberi nama baru, dan kepentingan ekonomi yang kerap berjalan di balik bahasa moral. Teknologi informasi memang berubah, tetapi kecenderungan kekuasaan untuk menciptakan narasinya sendiri belum hilang.

Baca Juga  Membedakan Hak dan Batil di Era Banjir Informasi

Karena itu, warisan sebuah revolusi tidak semata-mata terletak pada kemenangan politiknya. Ia juga terletak pada keberaniannya membuat manusia curiga kepada apa yang terlalu lama diterima sebagai kebenaran.

Pada akhirnya, mungkin itulah gempa yang paling sulit dipadamkan.

Bukan ketika sebuah gedung kekuasaan runtuh, melainkan ketika manusia yang selama ini hidup di bawah bayang-bayangnya mulai menyadari bahwa gedung itu sebenarnya bisa dipertanyakan.

Dan sejak saat itu, kekuasaan tidak lagi sepenuhnya berkuasa atas pikiran manusia.

Bagikan:
Terkait
Komentar