Seni yang Tumbuh dari Zaman

KHAMENEI.ID– Ada seni yang tampak indah, tetapi terasa asing terhadap zamannya sendiri. Ia rapi, terampil, bahkan mungkin mahal diproduksi. Namun setelah selesai ditonton atau dibaca, yang tersisa hanya kesan seperti melihat benda lama yang dipoles ulang. Di situlah persoalan kesenian bermula: apakah seorang seniman cukup menguasai teknik, atau ia juga harus mampu menangkap denyut zaman tempat ia hidup?

Pertanyaan itu mengandung kegelisahan yang lebih dalam. Setiap zaman, pada dasarnya, melahirkan manusia dengan pengalaman, luka, harapan, dan bahasa estetikanya sendiri. Karena itu, seniman bukan sekadar orang yang menghasilkan karya pada suatu masa. Ia adalah seseorang yang dibentuk oleh masa itu, menyerap kegelisahannya, lalu mengembalikannya kepada masyarakat dalam bentuk yang baru.

Seorang seniman, dalam pengertian ini, bukanlah penjaga museum bagi masa lalu. Ia adalah saksi yang bekerja dengan imajinasi.

Gagasan tersebut tampak jelas ketika kita menengok karya sastra yang lahir dari pergolakan sejarah. Salah satu contoh yang menarik adalah Heart of a Dog karya Mikhail Bulgakov. Novel pendek yang ditulis pada masa awal Revolusi Rusia itu mengandung kritik tajam terhadap perubahan sosial dan politik yang sedang berlangsung. Bulgakov bahkan menggunakan satire untuk menertawakan sejumlah eksperimen sosial pada zamannya.

Namun justru di sana persoalannya menjadi menarik. Sebuah karya bisa sangat terampil, bahkan sangat artistik, tetapi belum tentu menjadi representasi utuh dari zaman yang sedang berlangsung. Ia bisa saja berbicara tentang zaman baru dengan bahasa, cara pandang, dan struktur perasaan yang diwarisi dari zaman lama.

Di titik ini, seni tidak lagi sekadar soal bagus atau buruk. Ia menyentuh persoalan yang lebih mendasar: dari tanah sejarah mana sebuah karya tumbuh?

Baca Juga  Ketika Sebuah Bangsa Percaya pada Kemenangan: Pelajaran Perang dan Iman Menurut Imam Khamenei

Karya seni yang benar-benar lahir dari sebuah zaman membawa sesuatu yang tidak mudah dipalsukan. Ia membawa aroma zamannya. Kita dapat merasakan kegelisahan masyarakat, perubahan hubungan antarmanusia, benturan nilai, bahkan pertanyaan-pertanyaan yang belum selesai dijawab. Karena itu, karya yang hidup bukan semata-mata karya yang memiliki teknik tinggi, melainkan karya yang memiliki hubungan organik dengan kehidupan yang sedang berlangsung.

Dalam konteks revolusi, persoalan ini menjadi semakin rumit. Revolusi tidak hanya mengubah struktur politik. Ia juga mengguncang cara manusia memandang dirinya sendiri. Ketika masyarakat berubah, bahasa kesenian pun semestinya menemukan kemungkinan-kemungkinan baru.

Di sinilah muncul perbedaan antara seni yang sekadar berbicara tentang perubahan dan seni yang benar-benar lahir dari perubahan.

Yang pertama dapat meniru simbol, slogan, bahkan cerita tentang revolusi. Yang kedua lebih sulit dibuat karena ia membutuhkan pengalaman batin. Ia tumbuh dari keyakinan, pergulatan, dan keterlibatan sang seniman dengan dunia yang sedang berubah. Seni semacam itu tidak perlu selalu meneriakkan identitasnya. Kadang justru terasa dalam cara sebuah cerita melihat manusia, cara kamera menempatkan tokoh, atau cara seorang penulis memahami penderitaan.

Karena itu, ketika seseorang mengatakan bahwa generasi baru tidak memiliki seniman, penilaian semacam itu mungkin lahir dari ketidakmampuan membaca bahasa zamannya sendiri. Bisa jadi yang dianggap bukan seni hanyalah karena ia tidak menggunakan ukuran estetik masa lalu.

Setiap zaman memiliki seleranya sendiri. Setiap perubahan besar melahirkan bentuk-bentuk ekspresi yang pada awalnya mungkin terasa asing. Apa yang belum mapan tidak selalu berarti tidak bermutu. Ia mungkin sedang mencari bentuk.

Pengalaman dalam dunia film dan televisi memperlihatkan persoalan itu dengan gamblang. Sebuah karya yang menghabiskan banyak biaya, dimainkan oleh aktor-aktor berbakat, dan diproduksi dengan perangkat teknis yang memadai tetap dapat terasa kosong. Sebaliknya, karya yang sederhana kadang memiliki sesuatu yang sulit dijelaskan: semacam jiwa.

Baca Juga  Palestina dan Jalan Keluar Krisis Timur Tengah: Mengapa Normalisasi Israel Bukan Solusi?

Perbedaannya bukan semata pada kemampuan teknis. Ada sesuatu yang lebih dalam; kedekatan dengan pengalaman manusia yang hendak diceritakan.

Namun di sinilah persoalan lain muncul. Ketika seni dikaitkan dengan keyakinan dan perubahan sosial, perbedaan selera mudah berubah menjadi pertengkaran. Seniman yang sama-sama merasa berada di sisi yang benar dapat saling menjauh hanya karena berbeda cara memandang karya.

Padahal seni memiliki wilayah yang tidak sepenuhnya bisa diperintah.

Seorang seniman tidak dapat dipaksa bekerja sama dengan orang yang tidak cocok dengannya. Perbedaan pilihan, karakter, dan selera adalah sesuatu yang wajar. Yang perlu dijaga justru batas yang lebih tipis: jangan sampai perbedaan selera berubah menjadi permusuhan.

Gagasan ini terasa semakin penting di tengah kehidupan kebudayaan hari ini. Ruang seni kerap menjadi arena pertarungan identitas. Orang tidak lagi hanya bertanya apakah sebuah film bagus, apakah sebuah novel kuat, atau apakah sebuah karya menyentuh. Mereka lebih cepat bertanya: siapa yang membuatnya, dari kelompok mana, dan berada di pihak siapa?

Pertanyaan-pertanyaan itu kadang memang penting. Tetapi jika seluruh penilaian seni berhenti di sana, karya akan kehilangan kesempatan untuk berbicara sebagai karya.

Seni membutuhkan kebebasan untuk berbeda, bahkan di antara orang-orang yang memiliki keyakinan yang sama. Sebab keseragaman mungkin menghasilkan barisan yang rapi, tetapi belum tentu menghasilkan karya yang hidup.

Pada akhirnya, tantangan seniman sebuah zaman bukan sekadar menjadi berbeda dari masa lalu. Tantangannya adalah menemukan bahasa yang jujur untuk mengatakan apa yang sedang terjadi pada manusia di zamannya.

Mungkin itulah sebabnya karya besar tidak pernah benar-benar lahir dari ruang yang steril. Ia lahir dari kegaduhan sejarah, dari pertanyaan yang belum terjawab, dari kegelisahan yang belum menemukan nama. Seniman mengambil semua itu, lalu mengubahnya menjadi cerita, gambar, suara, atau adegan yang membuat orang lain berkata: ya, begitulah rasanya hidup pada zaman ini.

Baca Juga  Al-Qur’an yang Ditinggalkan: Renungan Imam Ali Khamenei tentang Tilawah, Tadabbur, dan Krisis Spiritual Umat

Sebab seni yang paling dekat dengan zamannya bukan seni yang paling keras mengaku sebagai seni zamannya. Ia adalah seni yang diam-diam membawa napas zaman itu di dalam dirinya.

Dan ketika kelak zaman telah berganti, mungkin justru karya semacam itulah yang membuat generasi berikutnya mengerti: pernah ada manusia yang hidup, berharap, bertengkar, mencintai, dan mencari makna pada masa yang kini hanya tinggal sejarah.

Bagikan:
Terkait
Komentar