Mengenal Konsep Wilayat Faqih (4) Perjuangan Tanpa Tujuan Adalah Kelelahan yang Panjang

Ada masa ketika masa depan terasa seperti lorong panjang tanpa ujung. Gelap, sunyi, dan membingungkan. Orang-orang bergerak, tetapi tak benar-benar tahu ke mana hendak menuju. Dalam situasi seperti itu, yang paling melelahkan bukanlah perjuangan itu sendiri, melainkan ketiadaan arah. Dan sejarah, berkali-kali, menunjukkan bahwa satu gagasan yang tepat bisa mengubah semuanya.

Begitulah yang terjadi ketika gagasan tentang “pemerintahan Islam” mulai disuarakan secara serius oleh Imam Khomeini. Ini bukan sekadar konsep politik yang dingin dan abstrak. Ia datang sebagai ide yang mengandung harapan—ide yang memberi arah. Di tengah kebingungan para pejuang yang lama bergerak dalam kabut ketidakpastian, gagasan ini tiba-tiba menghadirkan sesuatu yang lebih konkret: tujuan.

Pada titik itulah, sesuatu yang sebelumnya diam mulai bergerak.

Sebelum gagasan itu mengemuka, banyak gerakan perlawanan berjalan dalam pola yang repetitif: protes, penindasan, jeda, lalu kembali protes. Seolah-olah perjuangan hanya berfungsi sebagai katup pelepas tekanan, bukan jalan menuju perubahan nyata. Energi besar terserap dalam siklus tanpa ujung. Tidak ada peta, tidak ada titik akhir yang disepakati.

Di sinilah letak kekuatan sebuah ide. Ia bukan hanya menjawab “apa yang salah,” tetapi juga “ke mana kita akan pergi setelah ini.”

Gagasan pemerintahan Islam, dalam konteks itu, bekerja seperti kompas. Ia tidak sekadar mengkritik kondisi yang ada, tetapi menawarkan visi tentang tatanan yang diinginkan. Para pejuang yang sebelumnya bergerak dengan naluri, kini memiliki orientasi. Mereka tidak lagi sekadar menolak, tetapi mulai membayangkan dan mengusahakan.

Dalam bahasa yang lebih sederhana: perjuangan berubah dari sekadar reaksi menjadi aksi yang terarah.

Dalam tradisi Islam sendiri, harapan bukanlah sesuatu yang kosong. Ia selalu berdampingan dengan arah dan usaha. Al-Qur’an pernah menggambarkan bahwa manusia tidak akan mendapatkan selain apa yang diusahakannya—sebuah penegasan bahwa harapan harus berakar pada tindakan yang jelas. Harapan tanpa arah hanyalah ilusi; arah tanpa harapan adalah keputusasaan yang dingin.

Baca Juga  Haji dan Persatuan Umat Islam: Visi Sayyid Ali Khamenei tentang Kesatuan di Tengah Perpecahan

Gagasan yang diusung Imam Khomeini itu, pada titik tertentu, mempertemukan keduanya.

Ia memberi harapan, tetapi bukan harapan yang melayang-layang. Harapan itu dipijakkan pada sebuah konsep konkret tentang bagaimana masyarakat seharusnya diatur, bagaimana keadilan ditegakkan, dan bagaimana nilai-nilai agama hadir dalam ruang publik. Bagi banyak orang, ini adalah jawaban atas kegelisahan panjang: jika perjuangan ini berhasil, lalu apa?

Pertanyaan itu, yang sebelumnya menggantung, akhirnya menemukan bentuk jawabannya.

Namun yang lebih menarik adalah dampak psikologisnya. Ketika orang mulai melihat tujuan yang jelas, cara mereka bergerak pun berubah. Mereka menjadi lebih tahan terhadap tekanan, lebih sabar dalam proses, dan lebih berani dalam mengambil risiko. Sebab mereka tahu, apa yang mereka lakukan bukan sekadar reaksi sesaat, melainkan bagian dari perjalanan panjang menuju sesuatu yang lebih besar.

Di sinilah “ide yang menghidupkan harapan” bekerja secara nyata.

Ia memecah kebekuan. Ia membangunkan energi yang sebelumnya tertidur. Ia mengubah rasa putus asa menjadi tekad yang perlahan mengeras. Bahkan dalam situasi paling sulit, orang yang memiliki arah cenderung bertahan lebih lama daripada mereka yang hanya digerakkan oleh emosi sesaat.

Sejarah Iran pada masa itu menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah gagasan mampu menggerakkan massa bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara batin.

Tentu saja, setiap gagasan besar selalu membuka ruang perdebatan. Tidak semua orang akan sepakat, tidak semua akan melihatnya sebagai solusi. Tetapi dalam konteks ini, yang menjadi penting bukan semata isi gagasannya, melainkan fungsinya sebagai pemantik arah.

Ia mengajarkan satu hal yang sering terlupakan dalam banyak gerakan: bahwa protes saja tidak cukup.

Kita hidup di zaman yang, dalam banyak hal, tidak terlalu berbeda. Kritik mudah ditemukan di mana-mana. Media sosial dipenuhi suara-suara yang menyoroti ketidakadilan, ketimpangan, dan kegagalan sistem. Namun, sering kali, kritik itu berhenti di sana. Ia tidak berkembang menjadi visi. Ia tidak menjelma menjadi arah.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Fatihah Oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamaenei qs (Part 1)

Akibatnya, energi publik kembali terjebak dalam siklus lama: marah, bereaksi, lalu lelah.

Di titik ini, pelajaran dari gagasan “pemerintahan Islam” itu menjadi relevan, bahkan melampaui konteks sejarahnya. Bahwa sebuah gerakan, jika ingin bertahan dan menghasilkan perubahan, membutuhkan lebih dari sekadar keberanian untuk menolak. Ia membutuhkan keberanian untuk membayangkan.

Membayangkan, dalam arti yang paling serius: merumuskan masa depan.

Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad pernah menggambarkan bahwa jika kiamat datang sementara di tangan seseorang ada benih, maka tanamlah ia. Sebuah gambaran yang sederhana, tetapi kuat. Ia menegaskan bahwa harapan tidak ditunda oleh situasi seburuk apa pun; ia justru diwujudkan melalui tindakan yang kecil, konkret, dan terarah.

Di sinilah kita bisa membaca ulang makna harapan.

Ia bukan sekadar optimisme kosong. Ia adalah keberanian untuk menetapkan tujuan, bahkan ketika jalan ke sana belum sepenuhnya jelas. Ia adalah kemampuan untuk melihat kemungkinan di tengah keterbatasan. Dan yang terpenting, ia adalah kesediaan untuk bergerak dengan arah.

Gagasan Imam Khomeini, dalam konteksnya, menjadi contoh bagaimana sebuah ide mampu menjembatani antara kegelisahan dan tujuan, antara protes dan perubahan.

Pada akhirnya, setiap zaman membutuhkan “ide yang menyalakan harapan” versinya sendiri. Bukan ide yang sempurna, tetapi ide yang cukup kuat untuk menggerakkan, cukup jelas untuk diikuti, dan cukup membumi untuk diperjuangkan.

Sebab tanpa itu, perjuangan hanya akan menjadi gema yang berulang—keras, tetapi cepat hilang.

Dan mungkin, pertanyaan yang paling relevan hari ini bukan lagi apa yang kita tolak, melainkan: ke mana sebenarnya kita ingin menuju?

 

 

Bagikan:
Terkait
Komentar