Kemewahan Terbesar Adalah Mampu Mengatakan Tidak 

KHAMENEI.ID – Ada jenis kemewahan yang jarang dianggap sebagai bahaya: kemampuan memenuhi hampir semua keinginan. Makanan tersedia ketika lidah menginginkannya. Pakaian dapat dipilih sesuai selera. Kendaraan dapat diganti ketika yang lama mulai terasa membosankan. Bahkan keinginan-keinginan yang dahulu hanya tinggal angan kini bisa dipesan melalui layar dan tiba di depan pintu.

Namun di balik kemudahan itu, ada pertanyaan yang lebih sunyi: apa yang terjadi pada manusia ketika hampir tak ada lagi keinginan yang harus ia tahan?

Nabi Muhammad saw pernah menyampaikan sebuah nasihat yang terasa sederhana, tetapi semakin berat direnungkan ketika ditempatkan di tengah kehidupan modern:

مَنْ أَكَلَ مَا يَشْتَهِي وَ لَبِسَ مَا يَشْتَهِي وَ رَكِبَ مَا يَشْتَهِي لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ حَتَّى يَنْزِعَ أَوْ يَتْرُكَ

“Barang siapa makan apa yang ia sukai, mengenakan apa yang ia sukai, dan mengendarai apa yang ia sukai, Allah tidak akan memandangnya sampai ia melepaskan atau meninggalkannya”

Nasihat ini bukan semata-mata tentang makanan, pakaian, atau kendaraan. Di balik tiga hal itu terdapat sesuatu yang jauh lebih dalam: hubungan manusia dengan keinginannya sendiri.

Pada frasa “rākiba mā yasytahī”, terdapat kemungkinan bahwa yang dimaksud memang kendaraan yang disukai, apa pun tunggangan atau sarana yang diinginkannya. Tetapi ada pula kemungkinan makna yang lebih luas. Kata rakiba dapat digunakan dalam pengertian “menempuh” atau “melakukan” sesuatu. Dengan demikian, ungkapan tersebut dapat dibaca sebagai gambaran tentang seseorang yang membiarkan dirinya melakukan apa saja yang disukainya.

Di titik ini, persoalannya menjadi lebih dekat dengan kehidupan kita.

Sebab manusia modern tidak sekadar memiliki banyak keinginan. Ia hidup dalam sebuah sistem yang terus-menerus mengajarinya untuk memenuhi keinginan itu. Iklan mengatakan bahwa kita layak mendapatkan lebih. Teknologi membuat hampir semua hal dapat diperoleh seketika. Industri hiburan bekerja tanpa henti agar kita tidak pernah kehabisan sesuatu untuk diinginkan. Bahkan rasa bosan pun kini memiliki banyak produk untuk mengusirnya.

Baca Juga  Imam Ali dan Seni Berdialog dengan Lawan: Ketika Argumentasi Lebih Tajam daripada Pedang

Keinginan yang dahulu harus menunggu, sekarang bisa segera dipenuhi.

Tetapi tidak setiap keinginan yang dapat dipenuhi berarti layak untuk dipenuhi.

Gagasan inilah yang membuat nasihat Nabi tersebut terasa tajam. Masalahnya bukan sekadar seseorang makan makanan yang disukainya, memakai pakaian yang disenanginya, atau mengendarai kendaraan yang diimpikannya. Yang dipersoalkan adalah ketika hidup seluruhnya dikendalikan oleh kata “aku ingin”.

Jika setiap keinginan selalu mendapatkan jalan menuju kenyataan, manusia perlahan kehilangan kemampuan untuk mengatakan tidak kepada dirinya sendiri.

Padahal, justru kemampuan menahan diri itulah yang membentuk kebebasan batin.

Orang yang tidak pernah mampu menolak keinginannya sendiri mungkin tampak bebas dari luar. Ia dapat membeli apa yang ia mau, pergi ke mana yang ia suka, makan apa yang diinginkan, dan melakukan apa yang dianggap menyenangkan. Namun jika seluruh tindakannya harus tunduk kepada dorongan sesaat, kebebasan itu bisa berubah menjadi bentuk perbudakan yang sangat halus.

Ia bukan lagi pengendali keinginannya. Ia menjadi pengikutnya.

Karena itu, meninggalkan sesuatu yang disukai tidak selalu berarti kehilangan. Dalam pandangan moral yang lebih dalam, meninggalkan justru dapat menjadi bentuk kepemilikan yang lebih tinggi: manusia kembali memiliki dirinya sendiri.

Di sinilah istilah riyadhah latihan atau pembiasaan diri menjadi penting. Menahan keinginan bukan berarti memusuhi kenikmatan hidup. Ia adalah latihan sukarela untuk membuktikan bahwa manusia masih mampu memilih sesuatu yang berbeda dari apa yang sedang diinginkannya.

Tidak semua yang kita mampu lakukan harus kita lakukan.

Tidak semua yang tersedia harus kita miliki.

Tidak semua yang kita inginkan harus segera menjadi kenyataan.

Namun ada ironi lain yang menarik. Mereka yang tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi seluruh keinginannya kadang justru memiliki sebuah perlindungan yang tidak disadari. Keterbatasan memaksa mereka belajar menunggu. Keadaan mengajari mereka membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Tidak semua pintu terbuka bagi mereka, sehingga tidak semua dorongan dapat berubah menjadi tindakan.

Baca Juga  Membaca Al-Qur'an, Menemukan Cahaya di Tengah Gelap Zaman

Keterbatasan, dengan demikian, kadang merupakan bentuk pertolongan yang tersembunyi.

Seseorang yang tidak mampu membeli segala sesuatu yang diinginkannya mungkin sedang belajar menerima batas. Seseorang yang tidak memiliki kesempatan untuk menuruti setiap hawa nafsunya mungkin sedang diselamatkan dari dirinya sendiri.

Tentu, kemampuan menahan diri ketika seseorang sebenarnya mampu memenuhi keinginannya memiliki nilai yang berbeda. Di sanalah perjuangan berlangsung dengan lebih nyata. Menolak sesuatu yang memang tidak bisa kita dapatkan relatif mudah. Tetapi menolak sesuatu yang berada dalam jangkauan tangan membutuhkan kesadaran yang lebih kuat.

Dalam konteks yang lebih luas, mungkin inilah yang ingin disentuh oleh nasihat tersebut: manusia tidak hanya diuji melalui kekurangan, tetapi juga melalui kelimpahan.

Kemiskinan dapat menguji kesabaran. Kelimpahan menguji kemampuan untuk berkata cukup.

Dan mungkin salah satu tanda kedewasaan manusia bukanlah ketika ia mampu memiliki semakin banyak, melainkan ketika ia mampu berhenti meski masih bisa mengambil.

Sebab perhatian Tuhan, dalam nasihat Nabi saw itu, tidak diletakkan pada banyaknya benda yang dimiliki seseorang. Yang menjadi persoalan adalah keadaan jiwa yang berada di balik semua itu. Apakah manusia masih mampu mengendalikan dirinya, atau seluruh hidupnya telah diserahkan kepada apa yang ia sukai?

Pada akhirnya, ujian terbesar mungkin bukan ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Ujian yang lebih sunyi justru datang ketika kita bisa mendapatkan hampir semuanya, lalu harus memilih mana yang layak diambil dan mana yang harus ditinggalkan.

Sebab tidak semua yang mampu kita raih akan membuat kita lebih utuh.

Ada yang justru perlu dilepaskan agar kita kembali menjadi manusia yang memiliki kehendak, bukan sekadar kumpulan keinginan.

Baca Juga  Rahasia Keberhasilan yang Sering Dilupakan
Bagikan:
Terkait
Komentar