Empat Sifat yang Perlahan Menghancurkan Sebuah Masyarakat

KHAMENEI.ID – Sebuah masyarakat tidak selalu runtuh karena serangan dari luar. Ada kalanya kehancuran justru bermula dari sesuatu yang tumbuh diam-diam di dalam dirinya: keputusan yang diambil tanpa pertimbangan, pendirian yang dipertahankan meski terbukti keliru, kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri, dan kebiasaan menunda pekerjaan sampai kesempatan berlalu. Tak ada ledakan besar yang menandai awalnya. Semuanya berlangsung sedikit demi sedikit, hingga kerusakan yang semula tampak sepele menjelma menjadi persoalan bersama.

Ali bin Abi Thalib a.s pernah menyampaikan sebuah nasihat yang menyingkap empat sifat yang patut diwaspadai manusia; 

مَنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يَمْنَعَ نَفْسَهُ مِنْ أَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ فَهُوَ خَلِيقٌ بِأَنْ لَا يَنْزِلَ بِهِ مَكْرُوهٌ أَبَدًا، قِيلَ: وَمَا هُنَّ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ؟ قَالَ: الْعَجَلَةُ وَاللَّجَاجَةُ وَالْعُجْبُ وَالتَّوَانِي

“Barang siapa mampu menahan dirinya dari empat perkara, ia patut berharap agar hal-hal yang tidak menyenangkan tidak menimpanya. Ditanyakan kepada beliau, ‘Apa saja empat perkara itu, wahai Amirul Mukminin?’ Beliau menjawab, ‘Ketergesa-gesaan, sikap keras kepala, membanggakan diri dan kelambanan”

Nasihat itu tidak hanya berbicara tentang watak seseorang. Ia juga menyentuh cara sebuah organisasi bekerja, bagaimana pemimpin mengambil keputusan dan mengapa sebuah masyarakat bisa kehilangan kemampuan untuk memperbaiki dirinya sendiri. Sebab, sifat yang tampak sederhana ketika bersemayam dalam diri seseorang dapat berubah menjadi persoalan besar ketika menjelma kebiasaan bersama.

Ketergesa-gesaan, misalnya, kerap menyamar sebagai kecakapan. Orang yang cepat memutuskan sesuatu sering dianggap tegas, cekatan, dan berani mengambil risiko. Dalam dunia yang memuja kecepatan, berhenti sejenak untuk memeriksa keadaan bahkan bisa dianggap sebagai tanda kelemahan. Padahal, cepat tidak selalu berarti tergesa-gesa. Kecepatan yang lahir dari pengetahuan dan persiapan berbeda dari keputusan yang dibuat tanpa ketelitian.

Sebuah kebijakan yang diumumkan sebelum persoalannya dipahami, proyek yang dijalankan tanpa perhitungan matang, atau tindakan yang diambil demi meredakan tekanan sesaat dapat melahirkan masalah yang jauh lebih mahal daripada waktu yang hendak dihemat. Ketika akibat buruknya muncul, orang-orang sibuk mencari jalan keluar dari persoalan yang sebenarnya bisa dicegah sejak awal.

Baca Juga  Harapan Anak Muda dan Perang yang Diam-Diam Meruntuhkannya

Di titik ini, ketergesa-gesaan bertemu dengan sifat kedua: lajajah, yakni keras kepala, terutama ketika seseorang terus mempertahankan pendirian yang keliru. Jika ketergesa-gesaan membuat orang terlalu cepat melangkah, keras kepala membuatnya enggan berhenti meski telah menyadari bahwa arah yang ditempuh salah.

Persoalannya bukan pada keteguhan memegang prinsip. Masyarakat justru membutuhkan orang-orang yang tidak mudah menyerah ketika menghadapi tekanan. Namun, keteguhan berbeda dari keangkuhan yang menyamar sebagai konsistensi. Orang yang teguh mempertahankan kebenaran meski harus meninjau kembali pendapatnya sendiri. Sebaliknya, orang yang keras kepala mempertahankan pendapatnya meski kebenaran telah menunjukkan hal yang sebaliknya.

Sering kali, yang membuat seseorang enggan mengakui kesalahan bukan karena ia tidak memahami persoalan, melainkan karena ia takut kehilangan muka. Ia telanjur berbicara, telanjur mengambil sikap, atau telanjur menjadikan pendiriannya sebagai ukuran harga diri. Mengubah keputusan kemudian terasa seperti kekalahan, meskipun perubahan itu justru dapat menyelamatkan banyak orang.

Dalam organisasi, sikap semacam ini membuat evaluasi kehilangan makna. Kritik diperlakukan sebagai serangan pribadi, laporan yang tidak menyenangkan disembunyikan, dan bawahan belajar menyampaikan apa yang ingin didengar atasan. Akhirnya, sebuah lembaga mungkin tampak solid dari luar, tetapi perlahan kehilangan kemampuan mendeteksi kesalahannya sendiri.

Namun, keras kepala tidak selalu berdiri sendirian. Ia sering tumbuh subur bersama sifat ketiga, ‘ujub: kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri. Inilah keadaan ketika seseorang begitu terpukau oleh kelebihan yang dimilikinya hingga kekurangannya tak lagi terlihat. Prestasi yang pernah dicapai menjadi alasan untuk merasa paling benar, sedangkan keberhasilan masa lalu dianggap sebagai jaminan keberhasilan pada masa depan.

Bahaya sifat ini justru terletak pada kenyataan bahwa ia tidak selalu muncul pada orang yang gagal. Sebaliknya, ia kerap tumbuh setelah seseorang memperoleh kedudukan, pengaruh, atau pengakuan. Pujian datang, orang-orang mulai mengangguk pada setiap perkataannya, dan lingkungan di sekitarnya semakin jarang memberikan koreksi. Tanpa disadari, ia mulai menganggap keberhasilan sebagai bukti bahwa dirinya selalu benar.

Baca Juga  Imam Husain: Teladan dan Keteguhan di Tengah Badai Zaman

Padahal, keberhasilan tidak pernah menghapus keterbatasan manusia. Seseorang bisa memiliki pengalaman panjang tetapi tetap luput membaca perubahan. Seorang pemimpin bisa berjasa pada masa lalu tetapi keliru mengambil keputusan hari ini. Bahkan, kecerdasan dapat menjadi penghalang bagi perbaikan apabila membuat pemiliknya merasa tidak lagi perlu belajar.

Kesombongan semacam itu bukan hanya persoalan pribadi. Ketika menguasai kepemimpinan, ia dapat menciptakan budaya yang menghukum kejujuran dan memuja pencitraan. Orang-orang berlomba memperlihatkan keberhasilan, tetapi enggan membicarakan kegagalan. Yang tumbuh bukan lagi budaya memperbaiki diri, melainkan kebiasaan menjaga kesan bahwa semuanya berjalan baik-baik saja.

Lalu datanglah sifat keempat: tawani, kelambanan atau kebiasaan menunda-nunda. Jika tiga sifat sebelumnya membuat seseorang salah melangkah, sifat terakhir ini dapat membuatnya tidak melangkah sama sekali. Pekerjaan hari ini dipindahkan ke esok hari, persoalan yang seharusnya diselesaikan dibiarkan menumpuk, dan kesempatan yang tersedia dilewatkan karena selalu merasa masih ada waktu.

Penundaan sering kali tidak tampak berbahaya. Ia hadir dalam alasan-alasan yang terdengar masuk akal: menunggu keadaan lebih baik, menunggu petunjuk lebih lengkap, atau menunggu waktu yang dianggap tepat. Tentu, kehati-hatian dan perencanaan tetap diperlukan. Tidak setiap penundaan merupakan kelalaian. Namun, ketika persiapan terus dijadikan alasan untuk menghindari tanggung jawab, waktu berubah dari kesempatan menjadi kerugian.

Bagi sebuah masyarakat, akibatnya dapat menjalar ke mana-mana. Masalah yang tidak segera ditangani menjadi semakin rumit. Program yang telah direncanakan kehilangan momentum. Kebutuhan yang semestinya dipenuhi tertunda, sementara biaya untuk memperbaiki keadaan terus bertambah. Pada akhirnya, kelambanan bukan lagi sekadar persoalan disiplin seseorang, melainkan beban yang harus ditanggung banyak orang.

Sayyid Ali Khamenei qs mengulas nasihat Imam Ali a.s tersebut dengan menyatakan bahwa pengalaman panjangnya membuat ia memandang empat sifat itu sebagai sumber berbagai kerugian yang menimpa masyarakat. Pernyataan itu mengandung pengingat penting: kerusakan sosial tidak selalu berawal dari kurangnya sumber daya, kecerdasan, atau kemampuan. Terkadang, yang hilang justru kemampuan manusia mengendalikan dirinya sendiri.

Baca Juga  Bertahan di Jalan yang Benar: Pelajaran Istiqamah dari Imam Ali a.s 

Kita mungkin memiliki pengetahuan untuk menyusun rencana, tetapi tergesa-gesa ketika menjalankannya. Kita mungkin memiliki data untuk memperbaiki kebijakan, tetapi keras kepala ketika diminta mengubahnya. Kita mungkin mempunyai pengalaman dan prestasi, tetapi terlalu kagum kepada diri sendiri untuk mendengar kritik. Atau, kita mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi terus menundanya sampai keadaan menjadi lebih sulit.

Empat sifat itu pada akhirnya membentuk lingkaran yang saling menguatkan. Ketergesa-gesaan melahirkan kesalahan, keras kepala mempertahankannya, kesombongan menutup mata terhadap akibatnya, dan kelambanan menghambat perbaikan. Yang semula mungkin dapat diselesaikan dengan satu pengakuan sederhana akhirnya tumbuh menjadi persoalan yang melibatkan banyak orang.

Barangkali, karena itulah perubahan besar tidak selalu harus dimulai dengan pidato besar atau program yang rumit. Ia bisa bermula dari kesediaan seseorang untuk berpikir sebelum bertindak, mengakui kesalahan tanpa merasa kehilangan martabat, melihat dirinya secara jujur, dan menyelesaikan hari ini apa yang memang harus diselesaikan hari ini.

Sebuah masyarakat tidak menjadi kuat hanya karena memiliki orang-orang yang pandai berbicara tentang kebenaran. Ia menjadi kuat ketika orang-orang di dalamnya bersedia mengoreksi diri demi kebenaran itu. Sebab, salah satu ancaman terbesar bagi kehidupan bersama bukanlah ketidaktahuan semata, melainkan ketidakmauan untuk belajar setelah kesalahan terlihat.

Dan mungkin, sebelum bertanya mengapa sebuah masyarakat terus mengulangi kegagalannya, kita perlu melihat empat hal yang kerap kita pelihara tanpa sadar: terburu-buru ketika memutuskan, bersikeras ketika keliru, membanggakan diri ketika berhasil dan menunda ketika seharusnya bertindak.

Bagikan:
Terkait
Komentar