KHAMENEI.ID – Ada pujian yang membuat seseorang merasa telah menempuh jalan yang benar. Ada pula penghormatan yang diam-diam menjauhkannya dari kebenaran itu sendiri. Ketika orang-orang mencintai seseorang karena menganggapnya tulus mengabdi kepada Tuhan, sebuah pertanyaan yang lebih sunyi justru muncul: benarkah Tuhan meridhai apa yang membuat manusia mengaguminya?
Pertanyaan itu menyimpan kegelisahan yang mendalam. Sebab, tidak semua orang yang dipandang saleh benar-benar memiliki kedekatan dengan Tuhan. Tidak semua tindakan yang terlihat sebagai pengabdian lahir dari ketulusan. Bahkan, seseorang bisa memperoleh kepercayaan dan cinta banyak orang karena agama, sementara di hadapan Tuhan, apa yang tersembunyi di balik penampilannya justru menjadi persoalan yang harus dipertanggungjawabkan.
Sebuah riwayat tentang Imam Ali Zainal Abidin a.s, cicit Nabi Muhammad saw, menghadirkan kegelisahan itu melalui sebuah percakapan singkat. Seorang lelaki menyampaikan kepadanya bahwa ia sangat mencintainya karena Allah. Namun, jawaban yang diterimanya bukan ucapan terima kasih atau ungkapan syukur atas kecintaan tersebut. Imam Ali Zainal Abidin a.s justru menundukkan kepala, kemudian berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُحَبَّ فِيكَ وَأَنْتَ لِي مُبْغِضٌ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keadaan ketika aku dicintai karena-Mu, sementara Engkau membencik.”
Setelah itu, ia berkata kepada lelaki tersebut, “Aku mencintaimu karena alasan yang membuatmu mencintaiku.”
Percakapan ini cukup pendek, tetapi menyimpan sebuah peringatan yang mengguncang cara kita memahami kesalehan, ketulusan, dan penghormatan manusia.
Imam a.s tidak serta-merta menyambut kecintaan orang lain sebagai sesuatu yang patut dibanggakan. Ia justru melihat kemungkinan bahaya yang tersembunyi di baliknya. Seseorang mungkin dicintai karena dianggap bekerja demi Tuhan, tetapi anggapan manusia tidak dengan sendirinya menjadi bukti bahwa Allah meridhainya.
Di situlah letak persoalannya: manusia menilai apa yang tampak, sedangkan ketulusan tidak selalu dapat dibaca dari permukaan.
Dalam kehidupan sosial, reputasi sering kali menjadi ukuran keberhasilan seseorang. Orang yang berbicara tentang kebaikan, membela nilai-nilai agama, membantu sesama, atau memimpin kegiatan keagamaan akan memperoleh penghormatan. Ketika tindakannya terlihat bermanfaat, masyarakat memiliki alasan untuk menaruh kepercayaan kepadanya.
Semua itu tidak keliru. Kepercayaan merupakan bagian penting dari kehidupan bersama. Masyarakat membutuhkan orang-orang yang dapat menjadi teladan, menggerakkan kebajikan, dan menjaga harapan di tengah berbagai kesulitan.
Namun, persoalan muncul ketika penghormatan itu berubah menjadi semacam pembenaran mutlak. Karena seseorang dipandang saleh, setiap tindakannya dianggap benar. Karena ia dikenal memperjuangkan agama, niatnya jarang dipertanyakan. Reputasi yang semula lahir dari kepercayaan perlahan menjadi pelindung dari kritik, bahkan mungkin dari pemeriksaan terhadap dirinya sendiri.
Padahal, dikenal sebagai orang baik tidak sama dengan senantiasa berbuat baik. Begitu pula, melakukan sesuatu atas nama Tuhan tidak otomatis berarti melakukannya dengan cara dan niat yang diridhai-Nya.
Seseorang dapat membantu orang lain sambil diam-diam memelihara keinginan untuk dipuji. Ia dapat berbicara tentang keikhlasan, tetapi merasa gelisah ketika namanya tidak disebut. Ia dapat mengajak orang menjauhi kesombongan, sementara dirinya sendiri menikmati kedudukan sebagai sosok yang dianggap paling memahami kebenaran.
Bahaya itu tidak selalu hadir dalam bentuk kebohongan yang disengaja. Kadang-kadang, ia tumbuh begitu halus hingga seseorang tidak lagi mampu membedakan antara pengabdian dan kebutuhan untuk diakui. Ia merasa sedang membesarkan nama Tuhan, padahal tanpa disadarinya, ia juga sedang membesarkan nama sendiri.
Di titik ini, peringatan Imam Ali Zainal Abidin a.s terasa semakin dekat dengan kehidupan kita. Kecintaan manusia bukanlah sesuatu yang harus dicurigai dalam setiap keadaan, tetapi juga bukan ukuran terakhir untuk menilai kemurnian pengabdian.
Ada jarak yang mungkin terbentang antara seseorang yang dikenal masyarakat dan dirinya yang sesungguhnya. Di hadapan orang banyak, ia dapat tampil sabar, rendah hati, dan penuh perhatian. Namun, ketika berhadapan dengan orang yang tidak menguntungkan dirinya, sikapnya berubah. Ia dapat berbicara tentang persaudaraan, tetapi menyimpan kebencian. Ia dapat menyerukan keadilan, tetapi menoleransi ketidakadilan ketika kepentingannya sendiri terancam.
Tentu, tidak ada manusia yang sepenuhnya terbebas dari kelemahan. Kesalahan bukan dengan sendirinya bukti kepalsuan, sebagaimana kekurangan tidak otomatis membatalkan seluruh kebaikan seseorang. Justru karena manusia memiliki keterbatasan, introspeksi menjadi kebutuhan yang tidak pernah selesai.
Yang patut diwaspadai adalah ketika citra diri yang baik membuat seseorang kehilangan keberanian untuk memeriksa keburukannya sendiri. Ia terlalu sibuk mempertahankan penghormatan orang lain sehingga lupa memperbaiki hal-hal yang hanya diketahui oleh dirinya dan Tuhan.
Dalam keadaan demikian, popularitas keagamaan dapat menjadi jebakan. Semakin banyak orang menaruh kepercayaan, semakin besar pula godaan untuk menganggap diri telah sampai pada tujuan. Pujian yang seharusnya diterima dengan rendah hati berubah menjadi bukti yang terus-menerus dicari. Kritik dianggap sebagai permusuhan, sedangkan kekaguman diperlakukan sebagai pengesahan.
Padahal, ketulusan tidak diukur dari seberapa meyakinkan seseorang berbicara tentang Tuhan, melainkan juga dari kesediaannya menundukkan kepentingan diri di hadapan nilai-nilai yang ia yakini.
Jika seseorang mengajak orang lain berlaku jujur, apakah ia tetap jujur ketika kebohongan dapat menyelamatkan reputasinya? Jika ia menyerukan keadilan, apakah ia tetap adil ketika harus menghadapi orang yang tidak disukainya? Jika ia mengajarkan kerendahan hati, apakah ia masih bersedia mendengarkan ketika orang lain menunjukkan kesalahannya?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini mungkin tidak menghasilkan jawaban yang nyaman. Namun, justru di sanalah pemeriksaan diri menemukan maknanya.
Dalam konteks yang lebih luas, doa Imam Ali Zainal Abidin a.s mengajarkan bahwa pengabdian kepada Tuhan membutuhkan keberanian untuk tidak menjadikan penilaian manusia sebagai tempat bergantungnya harga diri.
Ini bukan ajakan untuk menghindari masyarakat, menolak penghormatan, atau sengaja membangun citra buruk. Seseorang tetap dapat bekerja dengan sungguh-sungguh, menerima kepercayaan, dan memperoleh kecintaan banyak orang. Yang perlu dijaga adalah agar semua itu tidak menggantikan tujuan awal dari pengabdiannya.
Sebab, ada perbedaan antara melakukan kebaikan agar memperoleh pengakuan dan menerima pengakuan sebagai sesuatu yang mungkin datang setelah kebaikan dilakukan. Yang pertama menjadikan manusia sebagai tujuan, sedangkan yang kedua membiarkan kebaikan tetap berdiri pada nilainya sendiri.
Keikhlasan bukan berarti seseorang tidak pernah merasa senang ketika dihargai. Ia juga tidak menuntut manusia menghapus seluruh keinginan untuk diterima. Yang lebih penting adalah kesediaan untuk tetap melakukan sesuatu yang benar ketika tidak ada yang melihat, ketika tidak ada yang memuji, bahkan ketika ketulusan justru disalahpahami.
Pada saat yang sama, doa tersebut mengingatkan bahwa manusia tidak memiliki pengetahuan mutlak tentang kedudukan dirinya di hadapan Tuhan. Karena itu, semakin besar penghormatan yang diterima, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga kerendahan hati. Bukan karena setiap pujian pasti berbahaya, melainkan karena tidak seorang pun dapat menjadikan pujian sebagai jaminan keselamatan dirinya.
Mungkin itulah sebabnya Imam Ali Zainal Abidin a.s tidak menyambut pernyataan cinta lelaki tersebut dengan kebanggaan. Ia justru berlindung kepada Tuhan dari kemungkinan yang paling menakutkan: ketika manusia mengira dirinya sedang berjalan menuju keridhaan-Nya, sementara dirinya sendiri tidak menyadari betapa jauh ia telah menyimpang.
Pada akhirnya, kita mungkin tidak dapat mengendalikan bagaimana orang lain memandang diri kita. Mereka akan menilai dari perkataan, tindakan, dan apa yang sanggup mereka saksikan. Namun, kita masih memiliki ruang untuk memeriksa apa yang tersembunyi di balik semua itu.
Sebab, ada pertanyaan yang jauh lebih penting daripada berapa banyak orang yang mencintai kita karena menganggap kita dekat dengan Tuhan: apakah kecintaan itu selaras dengan apa yang sungguh-sungguh kita perjuangkan?
Dan barangkali, di antara semua doa yang layak kita panjatkan ketika nama mulai dikenal dan penghormatan mulai berdatangan, ada satu permohonan yang tidak boleh kehilangan tempatnya: semoga apa yang dipercayai manusia tentang kebaikan kita tidak berjarak terlalu jauh dari diri kita yang sebenarnya di hadapan Tuhan.







