Ketika Islam Kembali Bangkit, Mengapa Keyakinan terhadap Keunggulan Barat Mulai Retak?

KHAMENEI.ID – Ada masa ketika dunia Muslim seolah berada di ujung sejarah. Selama berabad-abad, umat Islam menyaksikan kekuatan politik, ekonomi, dan kebudayaan Barat berkembang begitu pesat, sementara dunia Islam justru mengalami perpecahan, kemunduran, dan ketergantungan. Banyak orang kemudian sampai pada kesimpulan yang tampak tak terbantahkan: masa depan adalah milik Barat, sedangkan Islam hanya akan menjadi kenangan masa lalu.

Namun, keyakinan itu mulai retak.

Menurut Sayyid Ali Khamenei qs, dunia Islam kini memasuki fase yang berbeda. Jika dalam dua abad sebelumnya umat Muslim mengalami kekalahan dan keterpurukan di hadapan peradaban material Barat serta berbagai aliran politik ateistik, kini situasinya mulai berbalik. Sistem politik dan ekonomi yang dahulu tampil sebagai model tak terbantahkan justru menghadapi krisis, sementara Islam kembali hadir melalui kebangkitan kesadaran umat, pemulihan identitas, serta munculnya kembali gagasan tauhid, keadilan, dan spiritualitas.

Perubahan ini penting bukan semata-mata karena Islam kembali dibicarakan. Yang lebih mendasar adalah perubahan cara umat Islam memandang dirinya sendiri.

Selama terlalu lama, kemunduran dianggap sebagai takdir. Ketergantungan dianggap sebagai keniscayaan. Bahkan sebagian orang meyakini bahwa untuk menjadi modern, masyarakat Muslim harus terlebih dahulu meninggalkan identitas keagamaannya.

Kebangkitan Islam menantang seluruh asumsi tersebut.

Dalam pandangan Khamenei, orang-orang yang dahulu telah kehilangan harapan terhadap masa depan Islam kini mulai menyaksikan sesuatu yang berbeda: kebangkitan kembali Islam dan Al-Qur’an berjalan beriringan dengan melemahnya secara bertahap kekuatan-kekuatan yang sebelumnya dianggap akan mendominasi dunia tanpa batas.

Ia bahkan menegaskan bahwa apa yang sedang berlangsung belum merupakan akhir perjalanan.

Allah swt berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَ لَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَ لَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Baca Juga  Ketika Keluarga Muda Berhenti Bertumbuh, Bangsa Kehilangan Masa Depan

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; Dia sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridai; dan Dia benar-benar akan mengubah keadaan mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Tetapi barang siapa tetap kafir setelah janji itu, mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. An-Nur: 55)

Bagi Imam Khamenei, salah satu tanda awal dari perubahan tersebut adalah Revolusi Islam Iran dan berdirinya Republik Islam. Revolusi itu muncul ketika materialisme dan berbagai bentuk pemikiran antiagama sedang berada pada posisi yang sangat kuat. Tetapi justru dalam situasi seperti itulah Islam tampil sebagai kekuatan politik dan sosial yang nyata.

Yang menarik, dampaknya tidak berhenti di Iran.

Kebangkitan Islam kemudian menjadi sumber harapan bagi banyak masyarakat Muslim. Identitas keislaman kembali memperoleh ruang. Islam tidak lagi hanya dipahami sebagai seperangkat ritual personal, tetapi juga sebagai sumber gagasan tentang keadilan, martabat, kemerdekaan, dan kehidupan sosial.

Karena itu, menurut Imam Khamenei, kebangkitan umat Islam di berbagai negara tidak tepat jika selalu dianggap sebagai “produk ekspor” Revolusi Iran. Ia menyebut gerakan tersebut sebagai “saudara” Revolusi Islam, bukan anaknya.

Pesannya sederhana tetapi mengguncang: kebangkitan Islam memiliki akar yang lebih dalam daripada sekadar pengaruh satu negara.

Ia lahir dari kebutuhan umat untuk menemukan kembali identitasnya.

Di sinilah persoalan menjadi lebih menarik. Jika selama beberapa abad modernitas selalu dipresentasikan seolah hanya memiliki satu pusat, yakni Barat, maka kebangkitan Islam membuka kemungkinan bahwa modernitas dapat memiliki wajah lain. Kemajuan tidak harus berarti kehilangan iman. Ilmu pengetahuan tidak harus berlawanan dengan spiritualitas. Kemandirian politik tidak harus dibeli dengan mengikuti salah satu pusat kekuasaan dunia.

Baca Juga   Air Mata Terakhir Fatimah: Percakapan Rahasia dengan Rasulullah

Kebangkitan Islam, dengan demikian, bukan sekadar nostalgia terhadap masa lalu. Ia adalah pertanyaan terhadap masa depan.

Apakah dunia harus selamanya berjalan berdasarkan ukuran kekuatan material? Apakah keadilan dapat dipisahkan dari spiritualitas? Apakah sebuah masyarakat harus memilih antara kemajuan ilmu pengetahuan dan keyakinan kepada Tuhan?

Bagi Imam Khamenei, jawabannya adalah tidak.

Dan karena itu ia melihat apa yang sedang terjadi sebagai awal dari sebuah perjalanan yang jauh lebih panjang: perjalanan menuju pemulihan identitas umat, kebangkitan kembali pemikiran Qurani, dan terbentuknya peradaban Islam yang baru.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah Islam akan kembali dibicarakan.

Pertanyaannya adalah: seberapa jauh umat Islam mampu mengubah kebangkitan kesadaran itu menjadi kekuatan nyata dalam membangun masyarakat, ilmu pengetahuan, keadilan, dan masa depan mereka sendiri?

Bagikan:
Terkait
Komentar