Persatuan Umat Islam Dimulai dari Cara Berpikir

KHAMENEI.ID– Ada paradoks yang terus menghantui dunia Islam. Di satu sisi, umat Islam dipersatukan oleh kitab suci yang sama, nabi yang sama, kiblat yang sama, dan Tuhan yang sama. Namun di sisi lain, mereka kerap terpecah oleh perbedaan yang sebenarnya jauh lebih kecil dibandingkan kesamaan yang dimiliki. Seolah-olah, semakin dekat hubungan itu, semakin mudah pula benih perpecahan tumbuh.

Barangkali persoalannya bukan pertama-tama terletak pada perbedaan, melainkan pada cara memandang perbedaan itu sendiri. Sebab sebuah umat tidak runtuh hanya karena memiliki banyak pandangan. Ia mulai melemah ketika kehilangan kemampuan berpikir jernih, membaca kenyataan secara utuh, dan membedakan mana persoalan pokok, mana sekadar riak yang diperbesar.

Di tengah dunia yang dipenuhi arus informasi, propaganda, dan kepentingan politik, berpikir bukan lagi sekadar aktivitas intelektual. Ia menjadi kebutuhan peradaban. Sebuah masyarakat yang berhenti berpikir perlahan akan kehilangan arah. Ia mudah diprovokasi, mudah dipertentangkan, bahkan tanpa sadar dapat diperalat untuk melawan saudara sendiri.

Karena itulah, Islam sejak awal tidak hanya mengajarkan keyakinan, tetapi juga menghidupkan akal. Para nabi tidak datang sekadar membawa aturan. Mereka membangunkan kesadaran manusia yang tertidur. Dalam sebuah ungkapan yang dinisbatkan kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s disebutkan bahwa para nabi diutus agar:

وَ يُثِيرُوا لَهُمْ دَفَائِنَ الْعُقُولِ

“Mereka membangkitkan harta-harta akal yang terpendam dalam diri manusia”

Ungkapan itu menawarkan gambaran yang indah. Akal bukan sesuatu yang harus diberikan dari luar, melainkan kekayaan yang telah ada di dalam diri setiap manusia, hanya saja sering tertimbun oleh hawa nafsu, fanatisme, ketakutan, atau kebiasaan menerima sesuatu tanpa berpikir. Tugas kenabian adalah menggali kembali potensi itu agar manusia mampu melihat kenyataan dengan mata yang lebih jernih.

Baca Juga  Mengapa Cinta kepada Ahlul Bait Harus Terus Dihidupkan? Makna Mawaddah, Asyura, dan Kekuatan Ikatan Emosional dalam Islam

Di titik inilah dunia Islam menghadapi tantangan yang jauh lebih besar daripada sekadar keterbelakangan ekonomi atau teknologi. Tantangan sesungguhnya adalah krisis kejernihan berpikir. Banyak konflik lahir bukan karena tidak adanya informasi, melainkan karena informasi dipahami tanpa kebijaksanaan. Isu-isu kecil dibesarkan, sementara persoalan yang benar-benar menentukan masa depan umat justru luput dari perhatian.

Akibatnya, umat sering kali gagal mengenali siapa kawan dan siapa lawan. Sejarah berkali-kali menunjukkan bagaimana sebagian kaum Muslim justru tanpa sadar membantu agenda pihak yang ingin melemahkan mereka. Energi habis untuk saling menyerang, saling mencurigai, dan memperuncing perbedaan mazhab, kelompok, atau kepentingan politik. Padahal pihak yang menikmati semua itu bukanlah umat Islam sendiri, melainkan mereka yang memang berkepentingan melihat dunia Islam tetap tercerai-berai.

Dalam konteks yang lebih luas, kemampuan membaca peta persoalan menjadi bagian dari apa yang disebut bashirah kejernihan pandangan batin. Bashirah bukan sekadar kecerdasan intelektual, melainkan kemampuan melihat hakikat di balik peristiwa. Orang yang memiliki bashirah tidak mudah terpancing oleh isu sesaat. Ia mampu membedakan mana konflik yang memang prinsipil dan mana yang sengaja diciptakan untuk mengalihkan perhatian.

Kesadaran semacam ini menjadi semakin penting ketika dunia dipenuhi perang narasi. Ketakutan terhadap kelompok tertentu, penciptaan citra musuh baru, hingga berbagai bentuk propaganda sering kali digunakan untuk menggeser perhatian dari persoalan yang sebenarnya. Ketika masyarakat sibuk saling mencurigai, pihak yang memiliki kepentingan lebih besar dapat bergerak tanpa banyak hambatan.

Karena itu, kebutuhan kedua yang tak kalah mendesak adalah persatuan umat Islam. Persatuan bukan berarti menghapus seluruh perbedaan. Sejak awal sejarah Islam, perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar. Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan berubah menjadi permusuhan.

Baca Juga  Bangsa yang Besar Tidak Lahir dari Kenyamanan, tetapi dari Pengorbanan

Al-Qur’an telah mengingatkan:

اِنَّ هٰذِهِ اُمَّتُكُمْ اُمَّةً وَاحِدَةً وَاَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ

“Sesungguhnya umat ini adalah umatmu yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku” (QS. Al-Anbiya: 92)

Ayat ini tidak menghapus keberagaman, tetapi meletakkan fondasi yang jauh lebih besar daripada seluruh perbedaan itu. Selama umat masih beriman kepada Allah yang satu, mengikuti Nabi Muhammad saw, menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman, serta menghadap kiblat yang sama, sesungguhnya mereka memiliki lebih banyak alasan untuk bersatu daripada untuk berpecah.

Namun realitas sering bergerak sebaliknya. Perselisihan kecil berubah menjadi identitas permanen. Perbedaan cabang dianggap lebih penting daripada tujuan bersama. Bahkan tidak jarang seseorang merasa lebih dekat kepada kelompoknya daripada kepada sesama Muslim yang berbeda pandangan.

Padahal, sejarah menunjukkan bahwa peradaban besar selalu dibangun oleh kemampuan menyatukan energi, bukan menghabiskannya dalam pertikaian internal. Musuh sebuah peradaban tidak selalu datang membawa senjata. Ia bisa hadir melalui narasi yang membuat masyarakat sibuk saling melemahkan hingga lupa menghadapi tantangan yang sesungguhnya.

Dalam situasi seperti itulah, berpikir dan bersatu bukan lagi dua agenda yang terpisah. Keduanya saling menguatkan. Tanpa pemikiran yang matang, persatuan hanya menjadi slogan kosong. Sebaliknya, tanpa persatuan, pemikiran sehebat apa pun akan kehilangan daya ubah karena terpecah oleh kepentingan yang saling bertabrakan.

Mungkin inilah pelajaran yang paling relevan bagi dunia Islam hari ini. Kebangkitan tidak selalu dimulai dari pembangunan fisik atau kekuatan ekonomi. Ia dimulai ketika umat kembali membiasakan diri berpikir, mempertanyakan setiap provokasi, membaca setiap peristiwa secara utuh, lalu menempatkan persaudaraan di atas ego kelompok.

Pada akhirnya, persatuan bukanlah hasil dari keseragaman, melainkan buah dari kedewasaan berpikir. Ketika akal kembali bekerja dan hati kembali jernih, perbedaan tidak lagi menjadi alasan untuk saling menjauh. Ia justru menjadi warna yang memperkaya satu tubuh umat yang sejak awal telah dipanggil Al-Qur’an sebagai ummatan wahidah umat yang satu.

Baca Juga  Ketika Iman Tak Lagi Cukup: Menguatkan Fondasi Akidah di Tengah Gelombang Keraguan
Bagikan:
Terkait
Komentar