Di sela keriuhan perayaan 10 Hari Mulia (Dahe-ye Karamat) dan milad Imam Ridho as, sebuah fragmen sejarah yang intim tersingkap di kompleks Makam Suci Imam Ridho. Direktur Jenderal Wakaf Astan Quds Razavi, Alireza Esmaeilzadeh, secara resmi memamerkan catatan tangan (manuskrip) asli peninggalan Asy-Syahid Ayatollah Seyed Ali Khamenei qs.
Catatan-catatan ini bukan sekadar goresan pena biasa. Esmaeilzadeh mengungkapkan bahwa tulisan tersebut lahir dari ritual ghubar-rubi—prosesi pembersihan debu di pusara suci Imam Ali Ar-Ridho as—yang rutin diikuti oleh sang Pemimpin Tertinggi semasa hidupnya. Ritual ini, yang terkadang dilakukan bulanan atau dua kali setahun, menjadi ruang kontemplasi bagi sang mendiang Pemimpin yang gugur syahid tersebut.

Menurut catatan otoritas makam, dalam 15 kali kehadirannya pada ritual penyucian tersebut, Ayatollah Khamenei meninggalkan 11 catatan tangan sebagai bentuk pengabdian batinnya yang mendalam. “Tujuh di antaranya kami ungkap ke publik dalam kesempatan ini, sementara sisanya akan menyusul,” ujar Esmaeilzadeh.
Namun, warisan Imam Khamenei di Astan Quds Razavi melampaui sekadar catatan pribadi. Sang mendiang Pemimpin dikenal sebagai kolektor ulung yang menaruh kepercayaan besar pada institusi tersebut. Sebanyak 1.650 barang berharga, mulai dari karya seni bernilai tinggi hingga benda-benda langka, telah dihibahkan ke makam suci.
Dedikasinya terhadap literatur Islam juga terekam dalam angka yang masif. Tak kurang dari 1.356 salinan Al-Quran dan manuskrip langka, serta 4.356 buku litograf diserahkan kepada bagian wakaf. Secara total, sejak Juli 1990 hingga Februari 2026, dalam lebih dari 80 tahap hibah, Khamenei telah menyumbangkan 13.056 manuskrip ke Organisasi Perpustakaan Astan Quds Razavi.
Saat ini, pengunjung dapat menyaksikan langsung sebagian dari “harta karun” sejarah tersebut. Sebanyak 26 manuskrip dipajang di Museum Al-Quran, sementara 266 karya seni lainnya mengisi ruang perbendaharaan hadiah sebagai monumen pengabdian sang Pemimpin kepada sang Imam. Bagi publik Iran, pameran ini bukan sekadar soal benda antik, melainkan jejak intelektualitas dan spiritualitas seorang pemimpin yang baru saja mereka lepas ke liang lahat.
Baca juga: Lautan Manusia di Teheran: Pengukuhan Ikrar Setia dalam Peringatan Kelahiran Imam Ali Ar-Ridho as







