Bashirah dan Kesabaran: Dua Senjata Umat Melawan Propaganda dan Tekanan Musuh

KHAMENEI.ID – Di zaman ketika informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memeriksanya, kebohongan sering tampil lebih meyakinkan daripada kebenaran. Fitnah diproduksi seperti industri. Opini dibentuk bukan lagi oleh fakta, melainkan oleh pengulangan. Dalam situasi seperti itu, Imam Ali Khamenei qs berulang kali mengingatkan satu hal yang menurutnya sangat menentukan nasib sebuah masyarakat: bashirah—kejernihan pandangan.

Menurut beliau, ada dua unsur utama yang membuat suatu bangsa mampu bertahan menghadapi tekanan dan permusuhan: bashirah dan kesabaran. Tanpa keduanya, masyarakat mudah digiring, dipecah, dan dilemahkan. Tetapi jika dua unsur itu hidup, maka sebesar apa pun tekanan musuh, sebuah umat tidak akan mudah runtuh.

Imam Khamenei mengutip ucapan Imam Ali as dalam Nahjul Balaghah, khotbah ke-173:

«وَ لا يَحمِلُ هذَا العَلَمَ اِلّا اَهلُ البَصَرِ وَ الصَّبرِ وَ العِلمِ بِمَواضِعِ الحَقّ»
“Panji ini tidak akan dipikul kecuali oleh orang-orang yang memiliki ketajaman pandangan, kesabaran, dan pengetahuan tentang posisi kebenaran.”

Kalimat itu terasa sangat relevan dengan dunia hari ini. Sebab tantangan terbesar masyarakat modern bukan hanya serangan fisik atau tekanan ekonomi, melainkan kekacauan persepsi. Orang tidak lagi kesulitan mendapatkan informasi; mereka justru kesulitan membedakan mana yang benar dan mana yang menyesatkan.

Imam Khamenei menjelaskan bahwa bashirah bukan sekadar kecerdasan intelektual. Ia adalah kemampuan melihat jalan yang benar di tengah kabut fitnah. Seseorang bisa saja berpendidikan tinggi, berpengalaman, bahkan telah lama berkecimpung dalam dunia sosial dan politik, tetapi tetap salah membaca arah. Karena itu, menurut beliau, manusia harus terus menjaga kewaspadaan agar tidak keliru mengenali jalan kebenaran.

“Dalam debu fitnah,” kata beliau, manusia harus mampu menemukan jalan yang benar.

Baca Juga  Netralitas yang Mematikan: Mengapa Ulama Tak Boleh Diam Menurut Imam Ali Khamenei

Kalimat itu seperti potret zaman digital hari ini. Media sosial menciptakan ruang di mana emosi lebih cepat menyebar daripada verifikasi. Kebencian diproduksi dalam bentuk konten. Kecemasan menjadi komoditas. Dalam situasi seperti itu, bashirah bukan lagi sekadar konsep religius, tetapi kebutuhan sosial.

Namun Imam Khamenei tidak berhenti pada bashirah. Menurutnya, ketajaman melihat kebenaran saja tidak cukup. Setelah menemukan jalan yang benar, manusia memerlukan unsur kedua: sabr—kesabaran dan keteguhan.

Sebab mempertahankan kebenaran sering jauh lebih sulit daripada menemukannya.

Kesabaran dalam pandangan beliau bukan sikap pasif atau menyerah pada keadaan. Kesabaran adalah daya tahan moral. Ia adalah kemampuan bertahan di tengah tekanan, tidak goyah oleh intimidasi, dan tidak lelah dalam perjuangan yang panjang.

Dua unsur itu—bashirah dan sabr—menurut Imam Khamenei adalah benteng utama masyarakat. Jika keduanya hidup dalam sebuah bangsa, maka musuh tidak akan mudah mendominasi. Tetapi pertanyaannya: bagaimana menjaga dua kualitas itu tetap hidup?

Di sinilah beliau mengangkat konsep penting dalam Surah Al-‘Ashr: tawâshî—saling menasihati dan saling menguatkan.

Al-Qur’an menyebut:

«وَالعَصرِ * اِنَّ الاِنسانَ لَفی خُسرٍ * اِلَّا الَّذينَ آمَنوا وَعَمِلُوا الصّالِحاتِ وَتَواصَوا بِالحَقِّ وَتَواصَوا بِالصَّبرِ»
“Demi masa. Sungguh manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, dan saling menasihati untuk kebenaran serta saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

Imam Khamenei melihat ayat ini bukan sekadar nasihat individual, melainkan fondasi ketahanan sosial. Masyarakat tidak bisa bertahan hanya dengan kesalehan pribadi. Harus ada rantai saling menjaga. Harus ada budaya mengingatkan satu sama lain tentang kebenaran dan kesabaran.

Beliau menyebut tawâshî sebagai “rantai perlindungan orang-orang beriman”.

Ketika budaya itu hidup, masyarakat memiliki sistem imun moral. Mereka tidak mudah dipecah oleh propaganda, tidak mudah diseret arus kebencian, dan tidak gampang kehilangan arah. Sebaliknya, ketika budaya saling mengingatkan itu putus, kerusakan mulai masuk perlahan.

Baca Juga  Revolusi Iran dan Modal Sosial Ulama: Warisan Seribu Tahun yang Mengubah Sejarah

Karena itu, menurut Imam Khamenei, musuh sering kali justru menargetkan ikatan sosial ini. Mereka berusaha memutus rasa percaya, menyebarkan pesimisme, memperbesar konflik internal, dan membuat masyarakat kehilangan kemampuan untuk saling menguatkan.

Di titik inilah pesan beliau terasa sangat aktual. Dunia modern memang menghasilkan kemajuan teknologi luar biasa, tetapi sekaligus melahirkan masyarakat yang semakin individualistis. Orang berbicara lebih banyak, tetapi semakin sedikit mendengar. Terhubung secara digital, tetapi terasing secara sosial. Akibatnya, tawâshî—budaya saling menjaga—perlahan melemah.

Padahal dalam pandangan Al-Qur’an, keselamatan bukan proyek individual semata. Ia adalah kerja bersama.

Imam Khamenei seolah ingin mengingatkan bahwa kekuatan umat bukan hanya terletak pada jumlah atau sumber daya, tetapi pada kejernihan melihat kebenaran dan keteguhan mempertahankannya bersama-sama.

Dan mungkin di tengah zaman yang penuh kebisingan ini, manusia memang semakin membutuhkan dua hal itu: mata yang jernih dan hati yang tahan uji.

Bagikan:
Terkait
Komentar