Amal yang Akan Dipertanyakan di Hari Kiamat: Sudahkah Kita Meminta Pertolongan Allah?

KHAMENEI.ID– Ada doa yang tidak meminta kekayaan, jabatan, atau umur panjang. Doa itu justru memohon sesuatu yang jauh lebih mendasar: agar Allah menggunakan hidup kita untuk melakukan pekerjaan yang kelak akan dipertanyakan di hadapan-Nya.

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang dipenuhi perlombaan mengejar prestasi dan pengakuan, doa semacam itu terasa asing. Kita terbiasa bertanya, “Apa yang ingin aku capai?” Padahal seorang mukmin diajarkan mengubah pertanyaannya menjadi, “Untuk apa Allah menghendaki aku hidup?”

Pertanyaan itu bukan sekadar renungan spiritual. Ia adalah arah hidup.

Dalam Doa Makarimul Akhlak karya Imam Sajjad a.s terdapat satu penggalan doa yang begitu menggugah:

وَاسْتَعْمِلْنِي بِمَا تَسْأَلُنِي غَدًا عَنْهُ

“Ya Allah, gunakanlah aku untuk melakukan hal-hal yang kelak Engkau tanyakan kepadaku pada hari kiamat”

Kalimat ini mengandung cara pandang yang sangat berbeda terhadap kehidupan. Seolah-olah seorang hamba berkata, “Ya Allah, jangan biarkan aku menghabiskan umur untuk sesuatu yang tidak bernilai di sisi-Mu”

Di sinilah letak keindahan doa itu. Yang dimohon bukan sekadar kemampuan beramal, melainkan penempatan. Seorang hamba meminta agar Allah sendiri mengarahkan tenaga, pikiran, kesempatan, bahkan seluruh usianya kepada pekerjaan yang benar-benar memiliki nilai abadi.

Dalam konteks yang lebih luas, manusia sering kali sibuk dengan pekerjaan yang mendesak, tetapi melupakan pekerjaan yang penting. Waktu habis untuk mengejar target, membangun citra, mengumpulkan pengikut, atau mempertahankan popularitas. Semua itu mungkin terlihat besar di mata manusia, tetapi belum tentu menjadi sesuatu yang akan ditanyakan oleh Allah.

Hari kiamat, dalam ajaran Islam, bukan sekadar hari pembalasan. Ia adalah hari pertanggungjawaban. Setiap nikmat berubah menjadi pertanyaan. Setiap kesempatan berubah menjadi amanah. Setiap kemampuan berubah menjadi kesaksian.

Baca Juga  Puisi sebagai Amanah: Ketika Kata-Kata Akan Dimintai Pertanggungjawaban

Karena itu, kesadaran akan hari akhir bukanlah ajakan untuk meninggalkan dunia. Sebaliknya, ia mengajarkan cara menggunakan dunia secara benar. Aktivitas belajar, bekerja, memimpin, mendidik, berkarya, bahkan menggunakan media sosial sekalipun dapat menjadi ibadah apabila diarahkan kepada tujuan yang benar.

Di titik ini, doa Imam Sajjad a.s menjadi sangat relevan bagi generasi muda. Masa muda adalah fase ketika seseorang sedang membangun identitasnya. Ia sedang menentukan siapa dirinya dan untuk apa ia akan hidup. Identitas itu tidak lahir begitu saja, melainkan dibentuk oleh lingkungan, pergaulan, bacaan, serta nilai-nilai yang setiap hari ia serap.

Karena itu, membangun diri tidak pernah menjadi urusan pribadi semata. Setiap orang yang telah menemukan arah hidup memikul tanggung jawab moral untuk menghadirkan pengaruh yang baik bagi orang lain. Bukan dengan memaksa, melainkan melalui keteladanan, kepedulian, dan akhlak yang menginspirasi.

Pengaruh seperti inilah yang sesungguhnya dibutuhkan masyarakat. Bukan sekadar mencetak orang-orang yang cerdas, tetapi melahirkan pribadi yang memiliki orientasi hidup yang benar. Sebab kecerdasan tanpa arah hanya akan melahirkan manusia yang semakin mahir mengejar kepentingannya sendiri.

Namun jika ditarik lebih jauh, doa Makarimul Akhlak ternyata tidak berhenti pada permintaan agar diberi amal yang baik. Sebelum sampai pada kalimat itu, Imam Sajjad a.s terlebih dahulu memohon agar imannya disempurnakan, keyakinannya diteguhkan, niatnya diperbaiki, dan amalnya dijadikan yang terbaik.

Doa tersebut berbunyi:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ، وَبَلِّغْ بِإِيمَانِي أَكْمَلَ الْإِيمَانِ، وَاجْعَلْ يَقِينِي أَفْضَلَ الْيَقِينِ، وَانْتَهِ بِنِيَّتِي إِلَى أَحْسَنِ النِّيَّاتِ، وَبِعَمَلِي إِلَى أَحْسَنِ الْأَعْمَالِ

“Ya Allah, curahkanlah salawat kepada Muhammad dan keluarganya. Sampaikanlah imanku kepada tingkat iman yang paling sempurna, jadikan keyakinanku sebaik-baik keyakinan, niatku sebaik-baik niat, dan amalanku sebaik-baik amalan”

Baca Juga  Membaca Zaman, Menjaga Arah: Ketika Ketahanan Bangsa Berawal dari Kesadaran

Urutannya sangat menarik. Amal yang benar ternyata tidak lahir secara tiba-tiba. Ia berawal dari iman yang kokoh, keyakinan yang jernih, dan niat yang lurus. Ketika fondasi itu kuat, amal akan mengikuti. Sebaliknya, jika niat telah rusak, amal yang tampak megah pun bisa kehilangan nilainya.

Doa itu kemudian berlanjut dengan permohonan agar Allah membebaskan manusia dari kesibukan yang sia-sia, melapangkan rezeki tanpa menjadikannya terikat pada dunia, menjauhkan kesombongan, mengalirkan kebaikan melalui tangannya, serta menjaganya dari penyakit riya dan kebanggaan diri.

Seakan-akan Imam Sajjad a.s sedang mengingatkan bahwa ancaman terbesar seorang hamba bukanlah sedikitnya amal, melainkan rusaknya hati ketika beramal.

Betapa banyak orang melakukan kebaikan, tetapi diam-diam mengharapkan pujian. Betapa banyak orang melayani masyarakat, tetapi sebenarnya sedang membangun citra. Betapa banyak orang berbicara tentang agama, tetapi lupa memperbaiki dirinya sendiri.

Padahal amal yang diterima bukanlah amal yang paling besar, melainkan amal yang paling ikhlas.

Pada akhirnya, kehidupan bukanlah tentang seberapa banyak pekerjaan yang berhasil kita selesaikan, melainkan apakah pekerjaan itu termasuk yang akan Allah tanyakan kepada kita dengan penuh keridaan. Sebab tidak semua kesibukan bernilai ibadah, dan tidak semua keberhasilan berarti kemenangan di sisi-Nya.

Mungkin karena itulah doa ini terasa begitu menenangkan. Ia mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak harus mengetahui seluruh rencana hidupnya. Ia hanya perlu terus memohon agar Allah mengarahkan langkahnya kepada jalan yang benar.

Barangkali itulah definisi paling indah tentang kesuksesan: ketika seluruh umur yang kita miliki perlahan berubah menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang kelak diajukan Allah pada hari kiamat.

Bagikan:
Terkait
Komentar