KHAMENEI.ID– Pernikahan sering dimulai dengan sesuatu yang sederhana: dua manusia saling memilih, lalu berjanji untuk berjalan bersama. Tetapi sebelum janji itu sempat menjadi kehidupan, ia kadang telah dikelilingi terlalu banyak angka, pesta, tuntutan, dan perhitungan. Pernikahan yang semestinya menjadi awal perjalanan justru berubah menjadi proyek besar yang menguras tenaga, uang, bahkan perasaan.
Di titik inilah makna perkawinan perlu ditengok kembali. Bukan semata sebagai kontrak antara dua orang, melainkan sebagai peristiwa yang sejak lama memiliki dimensi sakral dalam kehidupan manusia.
Dalam berbagai tradisi agama, pernikahan hampir selalu ditempatkan di wilayah yang berbeda dari urusan duniawi biasa. Ia diberi doa, disaksikan komunitas, dan sering kali dilaksanakan melalui ritual keagamaan. Ada sesuatu yang ingin dijaga oleh ritual itu: kesadaran bahwa hubungan antara dua manusia bukan perkara sepele. Pernikahan bukan hanya tentang hidup serumah, berbagi penghasilan, atau membesarkan anak. Di dalamnya ada amanah, kesetiaan, pengorbanan, dan harapan tentang kehidupan yang lebih baik.
Karena itu, kesakralan pernikahan semestinya tidak dibiarkan hilang di tengah hiruk-pikuk seremoni.
Namun justru di sinilah paradoksnya. Pernikahan yang dimaksudkan sebagai ikatan suci sering dibebani dengan berbagai hal yang sama sekali tidak menjamin kesuciannya. Mahar, misalnya, dapat berubah dari simbol penghormatan menjadi semacam jaminan finansial yang nilainya terus dinaikkan. Logikanya tampak sederhana: semakin besar mahar, semakin kuat pula perlindungan bagi perempuan dan keluarga.
Tetapi kehidupan tidak sesederhana angka di atas kertas.
Mahar yang terlalu berat tidak otomatis membuat sebuah rumah tangga lebih kokoh. Ia bahkan dapat menjadi beban yang dibawa sejak hari pertama. Dalam kondisi tertentu, ketika mahar yang besar tidak mampu dibayar, persoalan hukum bisa muncul. Seorang suami dapat berhadapan dengan hukuman penjara karena ketidakmampuannya memenuhi kewajiban tersebut. Tetapi apakah penjara mengembalikan ketenangan kepada keluarga? Apakah hukuman itu membuat seorang istri memperoleh kehidupan yang lebih baik?
Sering kali tidak.
Yang tersisa justru kemungkinan lain: suami kehilangan kebebasan, istri tidak memperoleh manfaat yang diharapkan, dan rumah tangga yang semula hendak dipertahankan malah semakin retak.
Dalam konteks yang lebih luas, persoalan ini memperlihatkan sesuatu yang lebih mendasar: tidak semua hal yang dimaksudkan sebagai perlindungan benar-benar menghasilkan perlindungan.
Islam sendiri memiliki teladan mengenai kesederhanaan dalam pernikahan. Dalam riwayat yang dikutip dari Imam Husain a.s, disebutkan bahwa putri-putri, saudari, dan istri-istri keluarganya dinikahkan dengan mahr al-sunnah, mahar yang mengikuti ukuran yang dikenal dalam tradisi Nabi Muhammad saw. Pilihan itu menarik justru karena kemampuan untuk memberikan lebih sebenarnya ada. Jika yang dikehendaki adalah kemewahan, mereka tentu memiliki kesempatan untuk melakukannya.
Tetapi mereka memilih tidak melakukannya.
Di situlah kesederhanaan memperoleh maknanya. Ia bukan lahir dari ketidakmampuan, melainkan dari kesadaran bahwa nilai sebuah pernikahan tidak ditentukan oleh besarnya nominal yang menyertainya.
Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan lain yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: pesta pernikahan.
Ada masa ketika pernikahan cukup menjadi peristiwa keluarga. Kini, dalam banyak keadaan, ia dapat berubah menjadi rangkaian acara yang panjang. Satu pesta belum cukup. Harus ada acara sebelum dan sesudahnya. Gedung, dekorasi, pakaian, dokumentasi, katering, undangan, hiburan, semuanya berlomba menjadi bagian dari sebuah hari yang konon hanya berlangsung sekali.
Yang ironis, semakin besar pesta itu, semakin besar pula kemungkinan pasangan memulai kehidupan dengan kelelahan dan beban finansial.
Padahal rumah tangga justru dimulai setelah lampu pesta dipadamkan.
Para tamu pulang. Foto-foto selesai diunggah. Panggung dibongkar. Bunga-bunga layu. Musik berhenti. Yang tersisa adalah dua manusia yang harus berhadapan dengan kehidupan sebenarnya: cicilan, pekerjaan, perbedaan karakter, kebutuhan sehari-hari, keluarga besar, sakit, kehilangan, dan berbagai persoalan yang tidak pernah masuk dalam undangan pernikahan.
Karena itu, mungkin ukuran keberhasilan sebuah pernikahan memang perlu digeser. Bukan seberapa megah hari ketika dua orang mengucapkan akad, melainkan seberapa kuat mereka menjalani hari-hari setelahnya.
Pernikahan yang sederhana tidak berarti pernikahan yang miskin makna. Sebaliknya, kesederhanaan dapat menjadi cara untuk mengembalikan perhatian kepada inti pernikahan itu sendiri. Ketika uang tidak habis untuk seremoni, pasangan memiliki ruang lebih luas untuk membangun kehidupan. Ketika mahar tidak dijadikan alat untuk menumpuk beban, ia kembali kepada kedudukannya sebagai pemberian yang bermartabat.
Tentu, mengubah kebiasaan semacam ini bukan pekerjaan satu keluarga. Ada kebudayaan yang telah telanjur membentuk cara masyarakat memandang pernikahan. Ukuran keberhasilan sering kali datang dari pandangan orang lain: bagaimana pesta terlihat, berapa banyak tamu hadir, seberapa mahal gedung yang digunakan, dan seberapa mewah segala sesuatu yang dipamerkan.
Maka perubahan membutuhkan apa yang disebut sebagai pembentukan wacana sosial. Tokoh masyarakat, perempuan dan laki-laki yang memiliki pengaruh, akademisi, ulama, serta media mempunyai peran penting untuk menggeser ukuran tersebut. Bukan dengan melarang orang berpesta, melainkan dengan mengingatkan kembali apa yang sering terlupakan.
Bahwa pernikahan bukan pertunjukan.
Ia adalah awal dari kehidupan bersama.
Dan mungkin ada sesuatu yang perlu kita renungkan: jangan sampai kita menghabiskan begitu banyak uang untuk merayakan satu hari, tetapi terlalu sedikit perhatian untuk mempersiapkan seluruh hari yang datang sesudahnya.
Sebab pada akhirnya, kesakralan pernikahan tidak tinggal di gedung yang megah, gaun yang mahal, atau angka besar dalam sebuah akad. Ia hidup dalam cara dua manusia saling memperlakukan setelah semua tamu pergi. Dalam kesediaan untuk bertahan ketika hidup tidak lagi romantis. Dalam kemampuan memaafkan ketika cinta diuji. Dan dalam kesadaran bahwa sebuah rumah tangga tidak dibangun untuk dipandang orang lain, melainkan untuk dijalani oleh dua manusia yang telah memilih satu sama lain.
Barangkali di situlah pernikahan menemukan kembali kesuciannya: ketika kita berhenti bertanya berapa mahal sebuah pernikahan, dan mulai bertanya seberapa bernilai kehidupan yang hendak kita bangun darinya.







