KHAMENEI.ID– Sebuah bangsa bisa memiliki universitas yang maju, industri yang tumbuh, jalan raya yang panjang, teknologi yang canggih, dan senjata yang membuat negara lain berpikir dua kali. Tapi semua itu belum tentu membuat warganya merasa hidup dengan tenang. Sebab kemajuan sebuah masyarakat tidak hanya terlihat dari apa yang berhasil dibangun di luar dirinya. Ia juga ditentukan oleh bagaimana manusia hidup di dalamnya.
Di situlah pertanyaan tentang kemajuan peradaban menjadi lebih rumit. Apa gunanya sebuah kota memiliki gedung-gedung tinggi jika orang-orang di dalamnya semakin kesepian? Apa artinya pertumbuhan ekonomi jika keluarga mudah retak, kejujuran menjadi barang mahal, dan pekerjaan dilakukan sekadar untuk menggugurkan kewajiban?
Gagasan tentang gaya hidup sebagai inti peradaban berangkat dari kegelisahan semacam itu. Peradaban, dalam pengertian yang lebih utuh, bukan semata soal mesin, pabrik, senjata, ilmu pengetahuan, atau kekuatan politik. Semua itu penting. Tetapi ia hanyalah alat. Yang jauh lebih menentukan adalah apa yang dilakukan manusia dengan alat-alat tersebut.
Bayangkan sebuah rumah yang dilengkapi teknologi terbaik: pendingin udara, televisi besar, dapur modern, jaringan internet cepat. Namun orang-orang di dalamnya tidak lagi saling berbicara. Suami dan istri hidup seperti dua orang asing. Anak-anak tumbuh bersama gawai, sementara orang tua sibuk dengan pekerjaan. Rumah itu mungkin modern, tetapi apakah ia benar-benar menjadi tempat manusia menemukan ketenteraman?
Pertanyaan itu membawa kita kepada bagian yang lebih dalam dari sebuah peradaban: teks kehidupan sehari-hari.
Bagaimana seseorang memperlakukan orang tuanya. Bagaimana suami memperlakukan istrinya dan sebaliknya. Bagaimana seorang atasan berbicara kepada bawahannya. Bagaimana seseorang bersikap kepada polisi, pegawai pemerintah, tetangga, teman, bahkan orang yang tidak disukainya. Bagaimana ia menggunakan waktu di kantor. Bagaimana ia berkendara di jalan. Bagaimana ia memperlakukan ruang bersama. Bagaimana ia mengonsumsi makanan, pakaian, hiburan, dan barang-barang yang sebenarnya tidak ia perlukan.
Hal-hal semacam itu sering dianggap terlalu kecil untuk disebut sebagai persoalan peradaban. Padahal justru di sanalah sebuah masyarakat memperlihatkan wajahnya.
Al-Quran bahkan meletakkan kerja bersama sebagai bagian penting kehidupan sosial. وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ
“hendaklah kamu saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan” (QS. Al-Maidah: 2)
Dalam ayat lain, manusia diperintahkan berpegang teguh pada tali Tuhan secara bersama-sama dan tidak bercerai-berai.
وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai” (QS. Ali Imran: 103)
Pesannya sederhana: kehidupan yang baik tidak dibangun oleh manusia yang hanya pandai menyelamatkan dirinya sendiri.
Di titik ini, kemajuan peradaban bertemu dengan sesuatu yang dalam tradisi Islam disebut kecakapan mengelola kehidupan. Maknanya jauh lebih luas daripada sekadar pandai mencari dan membelanjakan uang. Ia mencakup kemampuan menjalani kehidupan dengan masuk akal: bekerja dengan sungguh-sungguh, menjaga keluarga, menghormati hak orang lain, hidup tertib, mengendalikan konsumsi, menjaga kebersihan, membangun hubungan sosial, dan mengetahui batas antara kebutuhan dengan keinginan.
Masalahnya, manusia modern kerap mengukur kemajuan dengan benda-benda yang dapat dihitung. Pertumbuhan ekonomi memiliki angka. Produksi memiliki angka. Ekspor, jumlah kendaraan, gedung, universitas, bahkan kekuatan militer dapat diukur. Tetapi kesetiaan dalam keluarga, kejujuran di pasar, kesabaran di jalan, kepedulian kepada tetangga, dan kualitas waktu bersama anak jauh lebih sulit dimasukkan ke dalam tabel.
Padahal kehidupan manusia justru dibentuk oleh hal-hal yang sering luput dari statistik itu.
Mengapa budaya kerja kolektif lemah? Mengapa orang mudah melanggar aturan ketika merasa tidak diawasi? Mengapa jam kerja delapan jam kadang menghasilkan manfaat yang jauh lebih sedikit? Mengapa gagasan yang baik sering berhenti sebagai percakapan? Mengapa konsumsi berlebihan justru dianggap sebagai tanda keberhasilan? Mengapa hubungan keluarga dan kekerabatan semakin renggang? Mengapa ketidaksabaran, kemarahan, dan agresivitas mudah muncul di ruang publik?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan sekadar soal moral pribadi. Jika berlangsung secara luas, ia menjadi persoalan sosial.
Sebuah masyarakat yang produktif tetapi tidak memiliki etos kerja akan kehilangan daya dorong dari dalam. Masyarakat yang kaya tetapi konsumtif akan terus merasa kekurangan. Masyarakat yang memiliki hukum tetapi gemar mencari celah untuk melanggarnya akan kehilangan kepercayaan. Dan masyarakat yang memiliki teknologi komunikasi tetapi semakin tidak mampu berkomunikasi dengan keluarganya sedang menghadapi paradoks kemajuan.
Karena itu, pembangunan tidak cukup berhenti pada menciptakan alat-alat baru. Ia harus masuk ke ruang yang lebih sunyi: membentuk kebiasaan manusia.
Di sinilah tugas pendidikan, universitas, media, keluarga, pemimpin, dan kaum muda menjadi penting. Mereka bukan sekadar penyampai pengetahuan. Mereka ikut menentukan kebiasaan apa yang kelak dianggap normal. Jika kejujuran terus dipraktikkan, ia menjadi budaya. Jika ketidakdisiplinan dibiarkan, ia pun menjadi budaya. Begitu pula dengan kerja keras, gotong royong, kesederhanaan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap hak orang lain.
Namun perubahan semacam itu tidak dapat lahir dari slogan. Ia membutuhkan keberanian untuk melakukan diagnosis terhadap diri sendiri. Sebelum bertanya mengapa masyarakat tidak berubah, barangkali perlu ditanyakan lebih dulu: kebiasaan apa yang selama ini kita anggap biasa, padahal sebenarnya sedang merusak kehidupan bersama?
Sebab pada akhirnya, peradaban tidak hanya berdiri di atas beton, baja, dan teknologi. Ia berdiri di atas manusia dan kebiasaan sehari-harinya.
Sebuah bangsa mungkin mampu mengirim manusia ke ruang angkasa. Tetapi ukuran yang lebih mendasar adalah apakah manusia di bumi itu mampu hidup dengan sesamanya tanpa saling merendahkan. Ia mungkin mampu membangun kota paling modern. Namun pertanyaan yang lebih sunyi adalah apakah orang-orang di dalamnya masih memiliki alasan untuk pulang.
Kemajuan yang sejati barangkali bukan ketika manusia memiliki semakin banyak benda, melainkan ketika semakin banyak hal dalam hidupnya menjadi layak untuk dicintai.
Di sanalah sebuah peradaban menemukan ukurannya: bukan pada seberapa tinggi bangunannya, melainkan pada seberapa manusiawi kehidupan yang berlangsung di bawahnya.







