Menghormati Guru: Cara Kita Bersyukur kepada Tuhan

KHAMENEI.ID– Ada banyak profesi yang menentukan arah sebuah bangsa. Sebagian membangun jalan, sebagian menggerakkan ekonomi, sebagian menjaga keamanan. Namun hanya sedikit yang benar-benar membentuk manusia. Di antara sedikit itu, guru menempati tempat yang istimewa. Mereka bekerja dalam diam, tetapi hasil pekerjaannya menentukan wajah masa depan.

Sayangnya, justru karena pekerjaannya berlangsung perlahan dan tidak selalu terlihat, penghormatan kepada guru sering kali berhenti pada seremoni tahunan. Padahal, menghormati guru bukan sekadar tradisi atau ungkapan sopan santun. Ia adalah pengakuan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama sebuah peradaban.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Imam Ridha a.s disebutkan:

مَن لَم یَشکُرِ المَخلوقَ لَم یَشکُرِ الخالِق

“Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia belum bersyukur kepada Allah”

Kalimat pendek ini mengandung pelajaran yang jauh melampaui etika pergaulan. Syukur kepada Tuhan ternyata tidak hanya diukur melalui doa, ibadah, atau pujian yang diucapkan kepada-Nya. Syukur juga diuji melalui cara kita memperlakukan sesama, terutama mereka yang menjadi jalan datangnya berbagai nikmat dalam hidup.

Guru adalah salah satu jalan itu.

Hampir setiap orang dapat mengenang setidaknya satu guru yang mengubah hidupnya. Mungkin bukan karena pelajaran yang diajarkan, melainkan karena perhatian, kesabaran, atau keyakinannya kepada seorang murid yang nyaris kehilangan harapan. Pengaruh seorang guru sering kali baru terasa bertahun-tahun kemudian, ketika seseorang menyadari bahwa cara berpikir, keberanian mengambil keputusan, bahkan nilai-nilai yang dipegangnya, tumbuh dari ruang kelas yang pernah ia tinggalkan.

Di situlah letak keunikan profesi guru. Mereka tidak hanya mengajarkan rumus, bahasa, atau sejarah. Mereka sedang membentuk manusia yang kelak akan mengisi berbagai bidang kehidupan. Di tangan guru lahir dokter yang menyembuhkan, insinyur yang membangun, petani yang menghidupi negeri, pemimpin yang menentukan arah bangsa, hingga orang tua yang akan mendidik generasi berikutnya. Hampir tidak ada profesi yang tidak pernah disentuh oleh seorang guru.

Baca Juga  Peradaban Tidak Tumbuh dari Bumi, Tetapi dari Keberanian untuk Berpikir

Karena itu, penghormatan kepada guru sesungguhnya bukan hanya penghargaan kepada individu, melainkan penghormatan kepada proses pendidikan itu sendiri.

Dalam konteks yang lebih luas, cara sebuah masyarakat memperlakukan guru sering menjadi cermin bagaimana masyarakat itu memandang masa depannya. Bangsa yang memuliakan pendidikan biasanya menempatkan guru sebagai sosok yang layak dihormati, didengar, dan didukung. Sebaliknya, ketika guru dipandang sekadar pekerja administratif yang dibebani berbagai urusan di luar tugas mendidik, yang melemah bukan hanya profesi itu, melainkan kualitas generasi yang sedang dipersiapkan.

Inilah sebabnya mengapa penghargaan kepada guru tidak boleh berhenti pada ucapan terima kasih. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran kolektif bahwa pendidikan merupakan urusan seluruh masyarakat. Orang tua, pemerintah, dunia usaha, media, bahkan para murid sendiri memiliki tanggung jawab menciptakan lingkungan yang memungkinkan guru menjalankan tugasnya dengan tenang dan bermartabat.

Di titik ini, menghormati guru bukan lagi urusan pribadi. Ia menjadi budaya sosial.

Budaya itu tampak dalam hal-hal sederhana: mendengarkan dengan hormat, tidak merendahkan profesinya, memberikan kepercayaan kepada proses pendidikan, serta menyadari bahwa keberhasilan seorang anak bukan hasil kerja guru seorang diri. Pendidikan adalah kerja sama yang melibatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Namun jika ditarik lebih jauh, penghormatan kepada guru juga merupakan penghormatan kepada ilmu. Peradaban besar dalam sejarah tidak dibangun oleh kekayaan semata, melainkan oleh tradisi ilmu yang dijaga dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dan mata rantai itu selalu memiliki satu tokoh penting: guru.

Mereka mungkin tidak selalu dikenang namanya dalam buku sejarah. Mereka jarang muncul di panggung-panggung penghargaan. Tetapi setiap kemajuan bangsa sesungguhnya menyimpan jejak tangan mereka.

Ironisnya, pada zaman yang serba digital ini, informasi semakin mudah diperoleh, tetapi penghargaan terhadap orang yang mengajarkan cara menggunakan informasi itu justru sering berkurang. Mesin pencari dapat memberikan jawaban dalam hitungan detik, tetapi tidak dapat mengajarkan kebijaksanaan, karakter, empati, dan tanggung jawab. Semua itu tetap membutuhkan kehadiran manusia. Tetap membutuhkan seorang guru.

Baca Juga  Kebebasan dalam Al-Qur’an: Saat Manusia Hanya Tunduk kepada Tuhan

Karena itulah, menghormati guru bukan nostalgia terhadap masa lalu. Ia adalah investasi bagi masa depan. Setiap penghormatan yang diberikan kepada guru pada hakikatnya adalah penghormatan kepada ilmu, kepada karakter, dan kepada masa depan generasi yang sedang dibentuk.

Hadis Imam Ridha a.s mengingatkan bahwa rasa syukur kepada Allah tidak pernah berhenti di langit. Ia selalu menemukan bentuknya di bumi melalui penghargaan kepada manusia yang menjadi perantara datangnya nikmat-Nya.

Mungkin kita tidak selalu mampu membalas jasa seorang guru. Namun setidaknya kita dapat menjaga penghormatan kepada mereka, karena di balik setiap pribadi yang berhasil, hampir selalu ada seorang guru yang pernah percaya bahwa muridnya mampu menjadi lebih baik daripada dirinya hari ini.

Bagikan:
Terkait
Komentar