KHAMENEI.ID– Ada kecenderungan yang terus berulang dalam sejarah manusia: kita mengukur kemuliaan dari apa yang tampak di mata. Jabatan, keturunan, kekayaan, popularitas, bahkan pengaruh sosial sering dijadikan tolok ukur nilai seseorang. Padahal, sejarah para nabi justru mengajarkan arah yang sebaliknya. Di hadapan Tuhan, kemuliaan bukan ditentukan oleh apa yang dimiliki, melainkan oleh seberapa tulus seseorang menjadi hamba-Nya.
Di titik itulah sosok Fatimah Az-Zahra a.s hadir bukan sekadar sebagai putri Nabi Muhammad saw, melainkan sebagai pelajaran tentang makna penghambaan yang sejati. Keagungannya tidak lahir karena garis keturunan, melainkan karena kualitas ruhani yang menjadikan seluruh hidupnya berputar mengelilingi kehendak Allah.
Dalam tradisi Islam, Fatimah a.s dikenal dengan gelar Ash-Shiddiqah al-Kubra perempuan paling agung dalam derajat para shiddiqin. Gelar itu sering dipahami sebatas pujian. Padahal, di baliknya tersimpan makna yang sangat dalam.
Seorang shiddiq bukan hanya orang yang berkata benar. Ia adalah pribadi yang menyatukan keyakinan, ucapan, dan perbuatannya dalam satu garis lurus. Tidak ada jarak antara apa yang diyakini dan apa yang dijalani. Kejujuran baginya bukan sekadar sifat lisan, tetapi menjadi watak seluruh hidupnya.
Al-Qur’an menggambarkan kedudukan para shiddiqin sebagai golongan yang sangat dekat dengan para nabi.
وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا
“Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka akan bersama orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS. An-Nisa: 69)
Ayat ini menunjukkan bahwa kedekatan kepada Allah bukan dibangun oleh status sosial, melainkan oleh kualitas ketaatan. Fatimah mencapai puncak kedudukan itu karena hidupnya merupakan pengejawantahan sempurna dari penghambaan kepada Tuhan.
Namun jika ditarik lebih jauh, pelajaran terbesar dari Fatimah a.s justru berbicara tentang seluruh manusia. Allah tidak menilai seseorang dari peluang yang dimilikinya, melainkan dari pilihan yang diambil ketika berada di persimpangan.
Hidup sesungguhnya adalah rangkaian ujian kecil yang nyaris tak pernah berhenti. Ada saat ketika keuntungan materi mengajak seseorang mengabaikan kejujuran. Ada waktu ketika ambisi meminta kita mengorbankan integritas. Ada pula momen ketika hawa nafsu tampak jauh lebih menarik daripada ketaatan.
Di setiap persimpangan itu manusia selalu diberi kebebasan memilih.
Apakah kita akan mengutamakan kepentingan sesaat atau mempertahankan kehormatan iman?
Pilihan itulah yang membentuk nilai manusia.
Allah telah mengetahui seluruh kemungkinan itu sejak awal. Bukan karena manusia dipaksa menjalani takdir tertentu, tetapi karena ilmu-Nya meliputi seluruh pilihan yang akan diambil hamba-hamba-Nya. Pengetahuan Allah tidak menghapus kebebasan manusia; justru kebebasan itulah yang menjadi dasar pertanggungjawaban.
Dalam doa ziarah kepada Fatimah Az-Zahra a.s terdapat kalimat yang sangat menyentuh.
يَا مُمْتَحَنَةُ، امْتَحَنَكِ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَكِ، فَوَجَدَكِ لِمَا امْتَحَنَكِ صَابِرَةً
“Wahai perempuan yang telah diuji, Allah yang menciptakanmu telah mengujimu sebelum engkau diciptakan, lalu Dia mendapatimu sebagai sosok yang sabar dalam ujian itu”
Ungkapan ini tidak sedang berbicara tentang ujian sebelum kelahiran secara fisik, melainkan tentang keluasan ilmu Allah yang telah mengetahui kualitas jiwa Fatimah a.s. Allah mengetahui bagaimana ia akan memilih ketika kelak berhadapan dengan kesulitan, penderitaan, kehilangan, maupun tanggung jawab besar yang menantinya.
Karena itulah ia dipersiapkan memikul amanah yang juga luar biasa.
Gagasan ini kemudian menyentuh kisah tokoh-tokoh lain dalam Al-Qur’an. Maryam, misalnya, tidak memperoleh kemuliaan secara tiba-tiba.
Allah berfirman:
وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ
“Dan (ingatlah) Maryam putri Imran yang menjaga kesuciannya. Lalu Kami meniupkan ke dalam dirinya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami. Ia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya serta termasuk orang-orang yang taat” (QS. At-Tahrim: 12)
Maryam menjadi ibu Nabi Isa bukan semata karena anugerah, melainkan karena kesucian dan keteguhan yang telah ia bangun sepanjang hidupnya.
Demikian pula Nabi Yusuf a.s. Ketika kesempatan berbuat dosa terbuka lebar, ia justru memilih menjaga dirinya. Keputusan itu tampak sunyi. Tidak ada tepuk tangan manusia. Namun dari pilihan yang nyaris tak terlihat itulah Allah mengangkat derajatnya menjadi seorang nabi.
Pola yang sama tampak pada Fatimah Az-Zahra a.s. Kemuliaannya bukan hadiah tanpa sebab. Ia adalah buah dari penghambaan yang konsisten, dari kesabaran yang tidak goyah, serta dari keberanian memilih Allah di atas segala kepentingan dunia.
Dalam konteks yang lebih luas, pelajaran ini terasa sangat relevan bagi manusia modern. Kita hidup di zaman yang menawarkan begitu banyak jalan pintas menuju pengakuan. Orang berlomba membangun citra, mengejar jumlah pengikut, memperbesar reputasi, bahkan terkadang rela mengorbankan prinsip demi memperoleh keuntungan sesaat.
Di tengah budaya yang mengutamakan penampilan, Fatimah a.s mengingatkan bahwa ukuran langit berbeda dengan ukuran bumi.
Yang diperhitungkan Allah bukan seberapa terkenal seseorang, tetapi seberapa tulus ia menjadi hamba.
Bahkan Rasulullah saw sendiri diperkenalkan Al-Qur’an pertama-tama sebagai seorang hamba sebelum sebagai seorang rasul. Dalam syahadat pun kita mengucapkan, “Asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh” aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Penghambaan didahulukan daripada kerasulan. Seakan-akan seluruh misi kenabian bertumpu pada fondasi yang satu itu: menjadi hamba Allah yang sejati.
Barangkali di situlah letak rahasia seluruh kemuliaan para kekasih Tuhan. Mereka tidak mengejar kemuliaan. Mereka mengejar keridaan Allah. Kemuliaan kemudian datang sebagai konsekuensi.
Fatimah Az-Zahra a.s tidak sedang mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang dikagumi banyak orang. Ia menunjukkan jalan yang lebih sunyi sekaligus lebih tinggi: menjadi manusia yang dikenal di sisi Allah.
Dan mungkin, itulah ukuran yang paling layak diperjuangkan sepanjang hidup.







