KHAMENEI.ID –
Di awal Surah Al-Baqarah, Allah swt memperkenalkan Al-Qur’an dengan satu pernyataan yang sangat tegas:
ذٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 2)
Dalam rangkaian tafsirnya, Imam Ali Khamenei qs tidak hanya menjelaskan siapa yang dimaksud dengan muttaqin. Beliau juga mengingatkan satu kenyataan yang sering dilupakan: ketakwaan bukanlah keadaan yang sekali dicapai lalu berlaku selamanya. Takwa adalah amanah yang harus terus dipelihara, sebab manusia tidak pernah berhenti menghadapi ujian.
Tidak Ada Kekebalan Spiritual
Menurut Imam Khamenei, manusia selalu berada dalam medan ujian. Tidak ada satu pun prestasi spiritual yang otomatis menjamin seseorang aman hingga akhir hayat.
Ilmu tidak menjamin.
Pengalaman perjuangan tidak menjamin.
Bahkan ibadah, kesalehan, dan ketakwaan sekalipun tidak akan bertahan apabila tidak dijaga dengan sungguh-sungguh.
Karena itu, seseorang tidak boleh merasa bahwa jasa-jasa yang pernah dilakukan di jalan Allah telah menjadi “sertifikat keselamatan” yang membuatnya kebal dari penyimpangan. Justru setelah memperoleh berbagai karunia itu, kewaspadaan harus semakin besar.
Dalam pandangan beliau, siapa pun dapat tergelincir apabila lengah menjaga dirinya.
Para Mujahid Pun Tetap Diperintahkan Bertakwa
Untuk menjelaskan hal itu, Imam Khamenei mengutip firman Allah swt tentang para pejuang yang telah mengalami luka di medan perang. Mereka telah membuktikan keberanian dan pengorbanannya, namun Al-Qur’an tetap mengaitkan pahala mereka dengan ketakwaan yang terus dipelihara.
Allah swt berfirman:
الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِنْ بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ
“Orang-orang yang memenuhi seruan Allah dan Rasul setelah mereka mendapat luka, bagi orang-orang yang berbuat baik dan bertakwa di antara mereka tersedia pahala yang besar.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 172)
Ayat ini menunjukkan bahwa pengorbanan besar tidak cukup apabila tidak disertai upaya menjaga nilai-nilai yang telah diraih.
Seseorang mungkin telah berjihad, berkorban, bahkan terluka di jalan Allah swt. Namun apabila kemudian ia kehilangan ketakwaannya, maka nilai spiritual yang pernah diperolehnya dapat lenyap.
Karena itulah, menurut Imam Khamenei, yang menjaga seluruh amal adalah ketakwaan.
Inilah sebabnya mengapa Al-Qur’an berulang kali mengingatkan manusia tentang takwa, dan mengapa khutbah Jumat hampir selalu dibuka dengan wasiat untuk bertakwa. Pesan itu bukan sekadar pengulangan, melainkan peringatan bahwa ujian tidak pernah berhenti.
Al-Qur’an Memulai Petunjuk dengan Takwa
Imam Khamenei kemudian kembali menghubungkan pembahasan ini dengan awal Surah Al-Baqarah.
Setelah menegaskan bahwa kitab ini “tidak ada keraguan padanya”, Allah langsung menyebut bahwa petunjuknya diberikan kepada orang-orang bertakwa.
Artinya, takwa bukan sekadar salah satu akhlak yang baik. Takwa adalah kondisi batin yang membuat seseorang mampu terus menerima bimbingan Al-Qur’an.
Selama ketakwaan dijaga, pintu hidayah tetap terbuka.
Sebaliknya, ketika seseorang lengah menjaga dirinya, kemampuan menerima petunjuk itu pun dapat melemah.
Karena itu, menjaga ketakwaan sama artinya dengan menjaga hubungan yang terus hidup dengan Al-Qur’an.
“La Rayba Fih”: Keyakinan yang Tidak Goyah
Dalam kesempatan lain yang masih berkaitan dengan ayat لَا رَيْبَ فِيهِ, Imam Ali Khamenei menyoroti makna lain dari ungkapan tersebut.
Beliau mengingatkan bahwa Al-Qur’an sendiri dengan penuh percaya diri memuat berbagai tuduhan dan hinaan yang pernah dilontarkan kaum musyrik kepada para nabi.
Allah swt bahkan mengabadikan ucapan mereka:
وَقَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ
“Mereka berkata, ‘Dia adalah seorang penyihir atau orang gila.'” (QS. Adz-Dzāriyāt [51]: 52)
Meski memuat berbagai penolakan dan cercaan, Al-Qur’an sama sekali tidak kehilangan wibawanya. Sebab ia berdiri di atas keyakinan yang kokoh.
Karena itulah Allah swt menyatakan:
ذٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ
“Kitab itu tidak ada keraguan padanya.”
Menurut Imam Khamenei, sikap inilah yang juga harus dimiliki oleh kaum beriman. Keyakinan terhadap kebenaran Islam tidak boleh dibangun di atas rasa takut atau keraguan. Aqidah harus kokoh, jelas, dan mampu disampaikan dengan bahasa yang tepat.
Beliau menegaskan bahwa ketika kebenaran tampil dengan percaya diri, kebatilan tidak akan mampu bertahan.
Menampilkan Kebenaran, Bukan Takut pada Kebatilan
Untuk menggambarkan hal itu, Imam Khamenei mengingatkan kisah Nabi Musa as ketika menghadapi para penyihir Fir’aun.
Beliau mengisyaratkan mukjizat yang Allah berikan kepada Musa—tongkat yang berubah menjadi ular dan tangan yang bercahaya—sebagai simbol bahwa kebenaran harus ditampilkan dengan penuh keyakinan.
Bukan sihir yang mengalahkan mukjizat, melainkan mukjizatlah yang menelan seluruh tipuan para penyihir.
Karena itu, yang diperlukan bukan rasa cemas menghadapi berbagai bentuk penyimpangan, melainkan keberanian menghadirkan kebenaran dengan sebaik-baiknya.
Dalam konteks dakwah, menurut Imam Khamenei, hal itu menuntut beberapa hal sekaligus: isi yang kuat, cara penyampaian yang tepat, pemanfaatan sarana yang sesuai dengan zaman, serta kesungguhan dan keluasan hati dalam menyampaikannya.
Semua itu menjadi bagian dari usaha agar petunjuk Al-Qur’an benar-benar sampai kepada manusia.
Pada akhirnya, rangkaian awal Surah Al-Baqarah tidak hanya memperkenalkan Al-Qur’an sebagai kitab yang bebas dari keraguan. Imam Khamenei mengajak pembaca melihat bahwa kepastian kebenaran Al-Qur’an harus diiringi dengan usaha terus-menerus menjaga ketakwaan. Sebab hidayah bukan hadiah yang diterima sekali untuk selamanya. Ia adalah cahaya yang terus menyinari mereka yang senantiasa memelihara iman, menjaga ketakwaan, dan tidak pernah berhenti mengawasi dirinya di tengah berbagai ujian kehidupan.







