KHAMENEI.ID– Ada perang yang tidak selalu terdengar oleh telinga. Tidak ada dentuman, tidak ada asap, tidak ada garis depan yang jelas. Ia berlangsung di dalam kepala manusia: antara keyakinan bahwa masa depan masih layak diperjuangkan dan bisikan yang perlahan meyakinkan bahwa semuanya sia-sia.
Bagi anak muda, perang semacam itu bisa lebih menentukan daripada banyak pertempuran yang kasatmata. Sebab seseorang mungkin masih memiliki tenaga, pendidikan, bahkan kesempatan untuk mengubah keadaan, tetapi kehilangan satu hal yang membuat semua itu berarti: harapan.
Dalam sebuah pertemuan bersama mahasiswa, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs menyinggung persoalan ini dengan nada yang tajam. Menurutnya, salah satu strategi lawan bukan semata-mata menyerang dari luar, melainkan membuat seseorang menjadi curiga terhadap dirinya sendiri dan pesimistis terhadap masa depannya. Persoalannya bukan sekadar apakah sebuah negara sedang menghadapi masalah. Persoalan yang lebih dalam adalah bagaimana masalah itu dibaca oleh generasi mudanya.
Masalah memang nyata. Ekonomi dapat tersendat, inflasi dapat meninggi, pekerjaan sulit diperoleh, dan berbagai persoalan sosial dapat membuat masa depan tampak suram. Tetapi masalah yang nyata belum tentu melahirkan keputusasaan. Yang membuat seseorang kehilangan harapan sering kali adalah cara masalah itu terus-menerus diletakkan di hadapannya sebagai bukti bahwa tidak ada lagi alasan untuk berjuang.
Di titik inilah perang terhadap harapan bekerja.
Bayangkan seorang mahasiswa yang sedang belajar dengan penuh semangat. Ia mungkin pulang larut dari perpustakaan, menyelesaikan tugas, membaca buku, dan membayangkan suatu hari keahliannya berguna bagi masyarakat. Lalu datang seseorang yang berkata: Untuk apa semua itu? Dengan keadaan ekonomi seperti ini, untuk apa belajar? Untuk apa bekerja keras? Lebih baik pergi. Tidak ada masa depan di sini.
Kalimat seperti itu tampak sederhana. Namun ia bisa bekerja seperti karat: perlahan, diam-diam, dan dari dalam.
Yang diserang bukan hanya optimisme. Yang diserang adalah alasan seseorang untuk tetap bertahan.
Namun harapan yang sehat bukanlah kemampuan untuk menutup mata terhadap kenyataan. Harapan justru lahir dari keberanian memandang kenyataan tanpa menyerahkan masa depan kepadanya. Seorang anak muda tidak harus mengatakan bahwa negaranya sempurna agar ia mencintainya. Ia juga tidak perlu menyangkal adanya kesulitan untuk tetap percaya bahwa kesulitan dapat diperbaiki.
Justru karena ada masalah, ia belajar.
Justru karena ada ketidakadilan, ia bekerja.
Justru karena keadaan belum ideal, ia merasa perlu hadir.
Gagasan ini mengubah secara mendasar cara kita memahami pendidikan. Belajar bukan hanya jalan untuk memperoleh pekerjaan atau memperbaiki kehidupan pribadi. Dalam pengertian yang lebih luas, pendidikan dapat menjadi persiapan untuk memperbaiki tempat seseorang hidup.
Seorang mahasiswa yang berpikir demikian tidak bertanya semata-mata, “Apa yang bisa saya dapatkan dari negeri ini?” Ia mulai bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan agar negeri ini menjadi lebih baik?”
Perubahan kecil dalam pertanyaan itu sebenarnya sangat besar. Yang pertama menempatkan manusia sebagai konsumen masa depan; yang kedua menempatkannya sebagai pembentuk masa depan.
Dalam konteks yang lebih luas, inilah alasan mengapa harapan anak muda selalu menjadi sesuatu yang penting. Generasi muda adalah kelompok yang belum sepenuhnya berdamai dengan keadaan. Mereka masih memiliki keberanian untuk mengatakan bahwa sesuatu yang dianggap biasa sebenarnya tidak semestinya demikian. Mereka masih mempunyai energi untuk membayangkan dunia yang berbeda.
Karena itu, ketika harapan mereka runtuh, yang hilang bukan hanya semangat individu. Sebuah masyarakat kehilangan salah satu sumber energinya untuk berubah.
Tetapi ada satu hal yang juga perlu diperhatikan. Harapan tidak boleh berubah menjadi slogan kosong. Mengatakan kepada anak muda agar “tetap optimistis” sambil mengabaikan persoalan nyata juga merupakan bentuk ketidakjujuran. Harapan membutuhkan alasan. Ia membutuhkan kerja, pengetahuan, keteladanan, dan ruang bagi anak muda untuk membuktikan bahwa perjuangan mereka memang memiliki arti.
Sebab itu, jawaban paling kuat terhadap pesimisme bukanlah propaganda tentang masa depan yang indah. Jawaban paling kuat adalah kerja yang membuat masa depan perlahan menjadi lebih baik.
Seorang anak muda yang tetap belajar di tengah kesulitan pada dasarnya sedang mengatakan sesuatu yang sederhana: saya tidak belajar karena keadaan sudah baik; saya belajar karena keadaan belum cukup baik.
Ia tidak bekerja karena semua persoalan telah selesai. Ia bekerja justru karena masih banyak yang harus diselesaikan.
Dan di sanalah harapan memperoleh bentuknya yang paling dewasa. Harapan bukan sekadar perasaan bahwa esok akan lebih baik. Harapan adalah keputusan untuk ikut membuat esok menjadi lebih baik.
Barangkali inilah yang sering dilupakan ketika kita membicarakan masa depan generasi muda. Kita terlalu sibuk bertanya apakah mereka masih optimistis, tetapi kurang bertanya apa yang membuat mereka layak berharap. Kita meminta mereka percaya kepada masa depan, tetapi kadang lupa memberikan alasan yang masuk akal untuk kepercayaan itu.
Padahal masa depan tidak pernah datang sebagai hadiah. Ia dibangun oleh orang-orang yang bersedia tinggal cukup lama untuk memperbaiki apa yang rusak.
Anak muda yang memilih pergi tentu memiliki alasannya sendiri. Tidak semua kepergian berarti menyerah, dan tidak semua keberangkatan merupakan kegagalan. Tetapi ada perbedaan antara pergi karena menemukan jalan yang lebih baik dan pergi karena telah dibuat percaya bahwa tidak ada lagi yang pantas diperjuangkan.
Di antara keduanya terdapat sebuah ruang yang disebut harapan.
Dan mungkin, pada akhirnya, pertarungan terbesar sebuah bangsa bukanlah melawan mereka yang mengkritiknya, melainkan melawan keadaan yang membuat generasinya berhenti percaya bahwa perubahan masih mungkin.
Sebab ketika anak muda masih mau belajar untuk memperbaiki keadaan, sebuah negeri mungkin sedang menghadapi banyak masalah, tetapi belum kehilangan masa depannya.
Yang benar-benar mengkhawatirkan adalah ketika mereka tidak lagi bertanya bagaimana memperbaiki keadaan, melainkan hanya bertanya kapan harus meninggalkannya.







