Islam Sedang Bangkit, Tetapi Mengapa Perjuangannya Belum Selesai?

KHAMENEI.ID – Kebangkitan selalu terdengar indah ketika dibicarakan dari kejauhan. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa setelah sebuah masyarakat bangkit, persoalan sebenarnya justru dimulai.

Kesadaran harus berubah menjadi tindakan. Harapan harus berubah menjadi ketekunan. Dan kemenangan awal harus dijaga agar tidak berubah menjadi kekalahan baru.

Pesan itulah yang menjadi salah satu bagian paling penting dari pemikiran Syahid Ali Khamenei qs tentang kebangkitan Islam.

beliau mengakui adanya berbagai perkembangan yang dianggap sebagai tanda kemajuan umat Islam. Revolusi Islam Iran, perjuangan Palestina, perlawanan Lebanon, perubahan politik di sejumlah negara Muslim, perkembangan ilmu pengetahuan di Iran, serta meningkatnya kesadaran identitas Islam di kalangan generasi muda merupakan bagian dari proses tersebut.

Tetapi Imam Khamenei memberikan peringatan yang tidak kalah penting: semua itu baru permulaan.

Umat Islam masih menghadapi banyak tanjakan sulit.

Mengapa? Karena kebangkitan sebuah umat tidak hanya berhadapan dengan musuh dari luar. Ia juga berhadapan dengan kelemahan dari dalam: keputusasaan, sikap pasif, tergesa-gesa, kehilangan arah, dan ketidakmampuan membaca keadaan.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, sebuah masyarakat dapat memenangkan satu pertempuran tetapi kalah dalam perjalanan panjang.

Karena itu Imam Khamenei menekankan sejumlah kualitas yang menurutnya mutlak diperlukan: iman, keikhlasan, harapan, perjuangan, wawasan, dan kesabaran.

Ia menghubungkan keberhasilan umat dengan hubungan antara usaha manusia dan janji Tuhan. Al-Qur’an menyatakan:

أَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ

“Penuhilah janji-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 40)

Dalam ayat lain disebutkan:

إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)

Pesannya bukan bahwa kemenangan akan datang tanpa usaha.

Justru sebaliknya.

Baca Juga  Ketika Dunia Menolak Tunduk: Perlawanan terhadap Sistem Dominasi Global Imam Khamenei

Janji ilahi ditempatkan dalam hubungan dengan tanggung jawab manusia. Ketika manusia berkomitmen, berjuang, dan mempertahankan nilai yang diyakininya, maka sejarah dapat bergerak ke arah yang berbeda.

Karena itu, Imam Khamenei melihat perjuangan sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kebangkitan.

Islam tidak akan bangkit hanya karena umat Islam memiliki jumlah yang besar. Ia juga tidak akan bangkit hanya karena slogan-slogan tentang kejayaan masa lalu terus diulang.

Pertanyaannya adalah: apakah umat memiliki kapasitas untuk bertahan?

Di sinilah kesabaran menjadi penting.

Dalam politik, masyarakat sering menginginkan hasil yang cepat. Ketika perubahan tidak segera terlihat, harapan mudah berubah menjadi kekecewaan. Ketika tekanan meningkat, kompromi yang sebelumnya dianggap mustahil mulai terlihat menarik.

Menurut Imam Khamenei, justru pada titik seperti itulah keteguhan diuji.

Musuh, katanya, tidak akan tinggal diam. Ia akan menggunakan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Karena itu, kebangkitan membutuhkan kewaspadaan dan kecerdasan, bukan hanya keberanian.

Ada perbedaan besar antara keberanian dan tindakan gegabah.

Keberanian memahami risiko, membaca momentum, dan tetap bergerak meskipun jalan sulit. Sebaliknya, ketergesa-gesaan dapat membuat sebuah gerakan kehilangan arah bahkan ketika ia memiliki tujuan yang benar.

Karena itu, kebangkitan Islam dalam perspektif ini bukan proyek emosional.

Ia adalah proyek peradaban.

Peradaban membutuhkan manusia yang memiliki iman sekaligus pengetahuan. Membutuhkan keberanian sekaligus kesabaran. Membutuhkan cita-cita besar sekaligus kemampuan membaca realitas.

Itulah sebabnya kemenangan masa lalu tidak boleh membuat umat berhenti bertanya.

Apa yang sudah dicapai?

Apa yang belum selesai?

Mengapa sebagian masyarakat Muslim masih tertinggal?

Bagaimana membangun ilmu pengetahuan tanpa kehilangan moral?

Bagaimana mempertahankan kemerdekaan tanpa terisolasi?

Bagaimana mengubah kesadaran keagamaan menjadi keadilan sosial?

Baca Juga  Keadilan yang Tidak Boleh Gugur karena Kebencian

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih sulit daripada sekadar meneriakkan slogan kebangkitan.

Namun justru di sanalah ukuran sebuah kebangkitan yang sesungguhnya.

Imam Khamenei menutup gagasannya dengan keyakinan bahwa upaya musuh pada masa lalu telah gagal dan, jika umat tetap waspada, masa depan pun tidak harus berbeda.

Optimisme semacam itu bukan optimisme kosong. Ia dibangun di atas keyakinan bahwa sejarah tidak selamanya berjalan mengikuti kehendak kekuatan terbesar.

Ada saat ketika sebuah bangsa yang tampak lemah menemukan kembali kepercayaan dirinya. Ada saat ketika masyarakat yang lama merasa kalah mulai berdiri. Dan ada saat ketika gagasan yang dianggap telah mati justru kembali menjadi sumber harapan bagi generasi baru.

Tetapi kebangkitan hanya akan menjadi sejarah jika ia mampu bertahan melewati ujian.

Islam mungkin sedang bangkit. Namun pertanyaan yang lebih menentukan adalah: apakah umat Islam cukup sabar, berilmu, sadar, dan teguh untuk membawa kebangkitan itu sampai tuntas?

Bagikan:
Terkait
Komentar