KHAMENEI.ID– Ada paradoks yang sering luput dalam kehidupan beragama. Semakin sedikit seseorang berbuat, semakin mudah ia merasa sudah banyak berjasa. Sebaliknya, semakin dalam seseorang mengenal Tuhan, semakin ia menyadari betapa kecil amal yang telah dipersembahkannya. Di titik itulah letak perbedaan antara kesalehan yang lahir dari kebanggaan dan kesalehan yang tumbuh dari kerendahan hati.
Imam Musa al-Kazhim a.s pernah menyampaikan sebuah nasihat yang singkat, tetapi mengguncang cara kita memandang ibadah. Beliau bersabda:
عَلَيْكَ بِالْجِدِّ، وَلَا تُخْرِجَنَّ نَفْسَكَ مِنْ حَدِّ التَّقْصِيرِ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ وَطَاعَتِهِ، فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يُعْبَدُ حَقَّ عِبَادَتِهِ
“Bersungguh-sungguhlah, dan jangan sekali-kali menganggap dirimu telah keluar dari batas kekurangan dalam beribadah dan menaati Allah. Sebab Allah tidak akan pernah dapat disembah sebagaimana layaknya Dia disembah”
Kalimat pertama dari hadis itu terasa sederhana: ‘alaika bil-jidd bersungguh-sungguhlah. Namun, kesungguhan yang dimaksud bukan sekadar lawan dari bercanda. Dalam bahasa Arab, jidd juga berarti mengerahkan seluruh kemampuan, melawan kelalaian, kemalasan, dan sikap setengah hati. Ia adalah kesediaan untuk memberikan yang terbaik dalam menjalani amanah kehidupan.
Kesungguhan semacam ini bukan hanya tampak ketika seseorang sedang beribadah di masjid atau berdoa di tengah malam. Ia hadir ketika seseorang bekerja dengan jujur, menjaga amanah, menepati janji, mendidik anak dengan kasih sayang, hingga menahan diri ketika amarah menguasai hati. Kesungguhan adalah cara seorang mukmin menjalani seluruh hidupnya.
Doa Kumail menggambarkan semangat itu dengan begitu indah:
اللَّهُمَّ قَوِّ عَلَى خِدْمَتِكَ جَوَارِحِي، وَاشْدُدْ عَلَى الْعَزِيمَةِ جَوَانِحِي، وَهَبْ لِيَ الْجِدَّ فِي خَشْيَتِكَ
“Ya Allah, kuatkan anggota tubuhku untuk berkhidmat kepada-Mu, teguhkan tekad hatiku, dan anugerahkan kepadaku kesungguhan dalam rasa takut kepada-Mu”
Doa ini tidak meminta kemudahan hidup atau limpahan harta. Yang dimohon justru tenaga untuk terus melayani, keteguhan hati, dan kesungguhan yang tidak mudah padam. Seolah-olah spiritualitas bukan tentang mencari kenyamanan, melainkan kesiapan untuk terus bertumbuh.
Namun, nasihat Imam Musa al-Kazhim a.s tidak berhenti pada ajakan untuk bekerja keras. Justru bagian keduanya lebih mengejutkan. Beliau mengingatkan agar manusia tidak pernah menganggap dirinya telah keluar dari “batas orang-orang yang masih kurang” dalam beribadah.
Pesan ini terasa bertolak belakang dengan naluri manusia. Kita senang menghitung pencapaian. Sudah sekian kali khatam Al-Qur’an, sudah berhaji, rutin bersedekah, aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan. Sedikit demi sedikit muncul bisikan halus bahwa kita telah melakukan cukup banyak.
Di sinilah jebakan terbesar perjalanan spiritual. Amal yang semestinya mendekatkan kepada Tuhan justru berubah menjadi alasan untuk mengagumi diri sendiri.
Padahal, semakin luas lautan yang kita lihat, semakin sadar kita bahwa setetes air di telapak tangan hampir tidak berarti apa-apa. Begitu pula ketika seseorang mulai mengenal kebesaran Allah. Ia tidak lagi sibuk menghitung amalnya, melainkan sibuk menyadari betapa luas nikmat yang belum mampu ia syukuri.
Dalam tradisi doa para kekasih Allah, kerendahan hati semacam ini selalu muncul. Imam Ali Zainal Abidin a.s berdoa:
مَا عَبَدْنَاكَ حَقَّ عِبَادَتِكَ
“Kami tidak menyembah-Mu sebagaimana seharusnya Engkau disembah”
Bahkan terdapat ungkapan yang masyhur:
مَا عَبَدْنَاكَ حَقَّ عِبَادَتِكَ وَمَا عَرَفْنَاكَ حَقَّ مَعْرِفَتِكَ
“Kami tidak menyembah-Mu sebagaimana layaknya ibadah kepada-Mu, dan kami tidak mengenal-Mu sebagaimana layaknya mengenal-Mu”
Kalimat itu bukan keluar dari orang-orang yang malas beribadah. Sebaliknya, ia lahir dari manusia-manusia yang seluruh hidupnya dipenuhi sujud, zikir, pengabdian, dan cinta kepada Allah. Jika mereka masih merasa belum mampu memenuhi hak penghambaan, bagaimana mungkin orang biasa dengan mudah merasa telah selesai menjalankan kewajibannya?
Dalam konteks yang lebih luas, hadis ini sesungguhnya mengajarkan keseimbangan yang sangat halus. Seorang mukmin dituntut bekerja sekuat tenaga, tetapi tidak boleh jatuh pada rasa puas diri. Ia diminta terus beramal, namun tetap menyadari keterbatasannya. Ia berusaha mencapai yang terbaik tanpa pernah mengklaim dirinya telah menjadi yang terbaik.
Kesadaran seperti ini melahirkan pribadi yang rendah hati sekaligus produktif. Ia tidak berhenti berkarya karena merasa dirinya lemah, tetapi juga tidak menjadi sombong karena merasa amalnya besar. Setiap keberhasilan dianggap sebagai karunia, sedangkan setiap kekurangan menjadi alasan untuk terus memperbaiki diri.
Di zaman yang dipenuhi budaya pencitraan, ukuran keberhasilan sering kali ditentukan oleh seberapa banyak orang melihat apa yang kita lakukan. Amal menjadi konten. Kebaikan menjadi pencapaian yang dipamerkan. Bahkan ibadah pun terkadang berubah menjadi identitas sosial yang ingin diakui.
Nasihat Imam Musa al-Kazhim a.s mengajak kita keluar dari perangkap itu. Yang terpenting bukanlah bagaimana manusia menilai amal kita, melainkan bagaimana kita memandang diri sendiri di hadapan Tuhan. Selama rasa kurang itu masih hidup, selama kita masih merasa membutuhkan ampunan dan rahmat-Nya, selama itulah pintu pertumbuhan spiritual tetap terbuka.
Mungkin memang demikian hakikat perjalanan menuju Allah. Tujuannya bukan menjadi manusia yang merasa paling saleh, melainkan menjadi manusia yang tidak pernah berhenti memperbaiki diri. Sebab di hadapan Tuhan Yang Mahasempurna, kesungguhan adalah kewajiban, sedangkan merasa sudah cukup adalah awal dari kelalaian.







