KHAMENEI.ID– Ada satu ukuran kemuliaan yang sering luput dari perhatian manusia modern. Kita terbiasa mengukur keberhasilan dari jabatan, kekayaan, atau pengaruh sosial. Seseorang dianggap besar karena memiliki banyak pengikut, dikenal luas, atau mampu mengumpulkan berbagai pencapaian duniawi. Padahal dalam tradisi spiritual Islam, ukuran kebesaran justru sering bergerak ke arah yang berlawanan: kedalaman ilmu, kejernihan hikmah, dan kemampuan menundukkan ego di hadapan kehendak Tuhan.
Karena itu, tidak mengherankan jika para ulama dan cendekiawan yang benar-benar memahami hakikat kehidupan ditempatkan pada kedudukan yang sangat tinggi. Bahkan dalam sebuah hadis disebutkan bahwa orang-orang berilmu yang berhikmah berada begitu dekat dengan derajat kenabian.
Rasulullah saw pernah bertemu sekelompok pengendara dalam salah satu perjalanan beliau. Mereka memberi salam dan mengaku sebagai orang-orang beriman. Nabi kemudian mengajukan pertanyaan yang sederhana namun mendasar: apa hakikat iman mereka?
Mereka menjawab:
“Ridha terhadap ketentuan Allah, menyerahkan segala urusan kepada Allah, dan tunduk sepenuhnya kepada perintah Allah”
Mendengar jawaban itu, Rasulullah saw bersabda:
عُلَمَاءُ حُكَمَاءُ كَادُوا أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْحِكْمَةِ أَنْبِيَاءَ
“Para ulama yang berhikmah hampir-hampir menjadi nabi karena hikmah yang mereka miliki”
Namun Nabi saw tidak berhenti pada pujian. Beliau segera memberikan ukuran praktis yang membedakan antara pengakuan dan kenyataan:
“Jika kalian benar, maka jangan membangun apa yang tidak kalian tempati, jangan mengumpulkan apa yang tidak kalian makan, dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kalian akan kembali”
Di sinilah letak keindahan ajaran Islam. Hikmah bukan sekadar kecerdasan berpikir. Hikmah juga bukan kemampuan berbicara tentang agama dengan bahasa yang rumit. Hikmah adalah ilmu yang telah menjelma menjadi cara hidup.
Seseorang mungkin hafal banyak kitab, menguasai berbagai teori, dan mampu berdebat berjam-jam. Namun jika hatinya masih terpaut berlebihan pada dunia, maka ilmunya belum berubah menjadi hikmah. Sebaliknya, ada orang yang memahami tujuan hidup dengan begitu jernih sehingga seluruh keputusan dan tindakannya selalu mengarah kepada Allah. Inilah yang disebut kebijaksanaan sejati.
Dalam konteks yang lebih luas, hadis tersebut mengandung kritik yang sangat relevan bagi zaman sekarang. Kita hidup di era akumulasi. Rumah dibangun semakin besar meskipun sebagian ruangnya tak pernah digunakan. Barang terus dikumpulkan meskipun banyak yang tidak pernah dipakai. Kekayaan dikejar tanpa batas, seolah manusia akan tinggal selamanya di dunia.
Padahal Rasulullah saw menunjukkan tanda sederhana dari hati yang tercerahkan: ia tidak diperbudak oleh apa yang dimilikinya.
Membangun sesuatu yang tidak pernah ditempati bukan sekadar soal bangunan fisik. Ia bisa menjadi simbol ambisi yang kehilangan arah. Demikian pula mengumpulkan sesuatu yang tidak pernah dinikmati bukan sekadar persoalan harta. Ia mencerminkan hasrat menumpuk yang sering kali lahir dari ketakutan, keserakahan, atau ilusi bahwa keamanan hidup dapat dibeli dengan jumlah kepemilikan.
Di titik ini, hikmah menuntut keberanian untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak akan pernah merasa cukup jika ukuran kebahagiaannya diletakkan pada apa yang dimiliki. Sebab dunia selalu menawarkan alasan baru untuk merasa kurang.
Karena itu, para ulama yang sejati tidak hanya mengajarkan hukum-hukum agama. Mereka membantu manusia melihat dunia dengan perspektif yang benar. Mereka mengingatkan bahwa kehidupan ini adalah perjalanan, bukan tempat tinggal abadi. Mereka mengajarkan bahwa nilai seseorang tidak terletak pada apa yang berhasil dikumpulkan, melainkan pada apa yang berhasil dibawa pulang menghadap Tuhan.
Gagasan ini kemudian menyentuh makna yang lebih dalam tentang posisi para ulama dalam Islam. Kedekatan mereka dengan para nabi bukan karena mereka menerima wahyu. Pintu kenabian telah tertutup. Akan tetapi, mereka berjalan di jalur yang sama: membimbing manusia menuju kebenaran, menghidupkan kesadaran tentang akhirat, dan menunjukkan jalan yang menghubungkan bumi dengan langit.
Para nabi datang untuk membebaskan manusia dari berbagai bentuk perbudakan. Perbudakan kepada berhala, kepada hawa nafsu, kepada kekuasaan, dan kepada dunia. Ulama yang berhikmah melanjutkan misi itu. Mereka mengingatkan manusia ketika terlena. Mereka membangunkan hati ketika tertidur. Mereka mengarahkan pandangan kepada tujuan akhir ketika manusia terlalu sibuk dengan perjalanan.
Maka ukuran seorang alim tidak hanya terletak pada luasnya pengetahuan, tetapi pada sejauh mana ilmunya melahirkan ketenangan, kerendahan hati, dan kebebasan dari kerakusan dunia. Semakin dalam hikmahnya, semakin dekat ia kepada warisan para nabi.
Pada akhirnya, hadis ini bukan hanya berbicara tentang para ulama. Ia juga merupakan cermin bagi setiap orang beriman. Sebab hakikat iman yang disebutkan para sahabat pengembara itu : ridha, tawakal, dan taslim adalah jalan yang terbuka bagi siapa saja.
Ketika seseorang belajar menerima ketentuan Allah tanpa pahit yang berlebihan, menyerahkan hasil setelah berusaha, dan tunduk kepada kehendak-Nya dengan hati yang lapang, saat itulah hikmah mulai tumbuh dalam dirinya. Dan ketika hikmah tumbuh, dunia tidak lagi menjadi tujuan akhir, melainkan sekadar persinggahan menuju rumah yang sebenarnya.







