KHAMENEI.ID– Ada kecenderungan yang selalu muncul ketika manusia mencintai seseorang yang agung: menjadikannya tujuan, bukan jalan. Padahal, dalam tradisi Islam, para nabi dan para imam justru hadir untuk mengembalikan arah pandangan manusia kepada Tuhan. Mereka adalah cahaya yang menunjukkan matahari, bukan matahari itu sendiri.
Di antara malam-malam yang dimuliakan dalam kalender Islam, pertengahan bulan Sya’ban memiliki tempat yang istimewa. Malam itu dikenal sebagai malam doa, malam munajat, bahkan oleh sebagian riwayat dipandang memiliki kemuliaan yang menyerupai Lailatul Qadar. Namun, kemuliaan itu menjadi semakin lengkap karena bertepatan dengan hari kelahiran Imam Mahdi a.s, Al-Baqiyyah sosok yang diyakini sebagai hujjah terakhir Allah di bumi.
Kelahiran beliau bukan sekadar peringatan sejarah. Ia adalah undangan untuk kembali mengingat tujuan hidup manusia: menjadi hamba Allah yang sejati.
Dalam Doa Nudbah terdapat sebuah salam yang sarat makna:
السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا دَاعِيَ اللَّهِ وَرَبَّانِيَّ آيَاتِهِ
“Salam sejahtera atasmu, wahai penyeru kepada Allah dan pengemban ayat-ayat-Nya”
Kalimat pendek ini sesungguhnya merangkum kedudukan Imam Mahdi. Beliau disebut Da‘iyallah penyeru menuju Allah. Bukan penyeru kepada dirinya sendiri, bukan pula pusat pengabdian manusia. Seluruh perhatian kepada beliau pada akhirnya harus bermuara kepada Allah.
Di sinilah letak perbedaan antara penghormatan dan pengultusan. Ketika seorang mukmin bertawasul kepada Imam Mahdi a.s, ia tidak sedang memindahkan ibadah kepada selain Allah. Ia justru sedang meniti jalan yang telah Allah sediakan agar penghambaan kepada-Nya menjadi lebih sempurna. Kerendahan hati di hadapan para kekasih Allah hanyalah jembatan agar kerendahan hati itu sampai kepada Sang Pencipta.
Gagasan ini sebenarnya telah menjadi pola yang berulang sepanjang sejarah para nabi. Tidak ada seorang rasul pun yang mengajak manusia berhenti pada dirinya. Nabi Nuh a.s menjadi sebab keselamatan dari banjir besar. Nabi Ibrahim a.s dipilih sebagai kekasih Allah. Nabi Musa a.s memimpin pembebasan dari penindasan. Nabi Isa a.s menjadi tanda kasih sayang Tuhan. Nabi Muhammad saw menjadi penutup seluruh risalah.
Namun semuanya memiliki satu kesamaan: mereka adalah jalan, bukan tujuan akhir.
Doa yang dibaca pada hari-hari Sya’ban mengingatkan hal itu dengan ungkapan yang sangat indah:
اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ… وَجَعَلْتَهُمُ الذَّرَائِعَ إِلَيْكَ وَالْوَسِيلَةَ إِلَى رِضْوَانِكَ
“Ya Allah, segala puji bagi-Mu… Engkau menjadikan mereka sebagai jalan menuju-Mu dan sebagai perantara untuk meraih keridaan-Mu”
Kalimat tersebut menghadirkan sebuah pandangan hidup yang sangat dalam. Para nabi dan para wali bukan sekadar tokoh sejarah atau figur yang dikagumi. Mereka adalah “wasilah” perantara yang menghubungkan manusia dengan Tuhan. Seperti mercusuar yang tidak meminta kapal berhenti di sisinya, melainkan mengarahkan pelayaran menuju pelabuhan yang aman.
Dalam konteks itulah Imam Mahdi a.s dipahami. Menantikan kehadiran beliau bukan sekadar menunggu datangnya seorang penyelamat yang akan memperbaiki dunia. Penantian sejati adalah memperbaiki diri agar layak menjadi bagian dari masyarakat yang dibangunnya. Sebab mustahil seseorang berharap hidup di bawah kepemimpinan keadilan jika hari ini masih berdamai dengan kezaliman yang dilakukannya sendiri.
Namun jika ditarik lebih jauh, keyakinan terhadap Imam Mahdi a.s juga mengandung dimensi kosmis. Kehadiran beliau tidak dipahami hanya sebagai pemimpin umat manusia, melainkan sebagai bagian dari tatanan penciptaan yang Allah pelihara.
Dalam doa yang masyhur disebutkan:
بِيُمْنِهِ رُزِقَ الْوَرَى وَبِوُجُودِهِ ثَبَتَتِ الْأَرْضُ وَالسَّمَاءُ
“Dengan keberkahannya seluruh makhluk memperoleh rezeki, dan dengan keberadaannya langit serta bumi tetap tegak”
Ungkapan ini tentu tidak dimaksudkan untuk menempatkan Imam Mahdi a.s sebagai sumber kekuasaan yang berdiri sendiri. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa Allah menjalankan kehendak-Nya melalui sebab-sebab yang dipilih-Nya. Sebagaimana hujan menjadi sebab tumbuhnya tanaman, matahari menjadi sebab hadirnya kehidupan, dan ilmu menjadi sebab terbukanya peradaban, demikian pula para hujjah Allah menjadi sebab mengalirnya rahmat dan terpeliharanya keteraturan ciptaan.
Pandangan semacam ini melahirkan rasa optimisme yang khas. Dunia tidak pernah dibiarkan kosong dari bimbingan Ilahi. Sekalipun manusia tidak melihat secara langsung sosok Imam Mahdi a.s, keyakinan bahwa bumi selalu memiliki hujjah Allah membuat harapan tidak pernah benar-benar padam.
Di tengah dunia modern yang dipenuhi perang, ketidakadilan, dan krisis moral, harapan seperti inilah yang sering kali hilang. Banyak orang kehilangan kepercayaan bahwa sejarah masih memiliki arah. Mereka melihat kehidupan sebagai rangkaian kebetulan tanpa tujuan. Padahal, keyakinan kepada Imam Mahdi a.s justru mengajarkan sebaliknya: sejarah sedang bergerak menuju penyempurnaan, meskipun jalannya panjang dan penuh ujian.
Karena itu, memperingati kelahiran beliau bukan hanya mengenang seseorang yang lahir berabad-abad lalu. Yang lebih penting adalah memperbarui komitmen untuk menjadi manusia yang lebih dekat kepada Allah, lebih adil kepada sesama, dan lebih bertanggung jawab terhadap dunia yang dititipkan kepada kita.
Pada akhirnya, Imam Mahdi a.s mengajarkan satu pelajaran yang sederhana tetapi sering terlupakan: seluruh perjalanan spiritual manusia harus berakhir di hadapan Allah. Para nabi, para imam, dan seluruh orang saleh hanyalah penunjuk arah. Mereka mengulurkan tangan agar manusia tidak tersesat dalam perjalanan, tetapi tidak pernah meminta dirinya dijadikan tujuan.
Barangkali di situlah makna terdalam dari penantian. Menunggu Imam Mahdi a.s bukan hanya menunggu beliau datang, melainkan memastikan bahwa ketika saat itu tiba, hati kita telah lebih dahulu sampai kepada Allah.







