Iran Adalah Tanah Sebuah Bangsa yang Menolak Berlutut 

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika sebuah bangsa tidak hanya kehilangan wilayah, tetapi juga kehilangan keyakinan bahwa dirinya masih mampu menentukan nasib sendiri. Kekuasaan asing datang bukan selalu dengan tank dan serdadu. Ia bisa hadir melalui ekonomi, politik, kebudayaan, bahkan melalui keyakinan bahwa hanya mereka yang kuat yang berhak menentukan arah dunia.

Di tengah keadaan semacam itu, perlawanan sering kali bermula dari sesuatu yang sederhana: keberanian untuk berkata tidak.

Bagi Republik Islam Iran, perlawanan bukan sekadar strategi menghadapi tekanan luar negeri. Ia dipandang sebagai cara mempertahankan kedaulatan sekaligus harga diri sebuah bangsa. Dari pengalaman itu lahir sebuah keyakinan yang terus diulang: sebuah bangsa yang berani bertahan dapat mengubah cara bangsa-bangsa lain memandang kekuasaan.

Dunia kemudian menyaksikan sesuatu yang dahulu mungkin sulit dibayangkan. Di sejumlah negeri, terutama di kawasan Asia Barat, muncul demonstrasi yang membawa slogan anti-Amerika, bahkan pembakaran bendera Amerika. Fenomena itu, dalam pandangan Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs, tidak semata-mata lahir dari kebencian kepada sebuah negara. Ia merupakan gema dari pengalaman sebuah bangsa yang pernah menunjukkan bahwa dominasi tidak selalu harus diterima sebagai takdir.

Di titik ini, makna perlawanan menjadi lebih luas. Ia bukan hanya soal senjata atau medan perang. Perlawanan adalah keberanian mempertahankan hak untuk menentukan masa depan sendiri.

Iran melihat pengalaman revolusinya sebagai salah satu pemicu perubahan psikologis di kawasan. Ketika satu bangsa berani menolak tunduk, bangsa lain memperoleh kemungkinan baru dalam imajinasinya: bahwa kekuasaan besar pun dapat dilawan.

Namun jika ditarik lebih jauh, persoalannya tidak sesederhana hubungan antara Iran dan Amerika Serikat. Di balik pertentangan itu terdapat benturan dua cara pandang tentang dunia.

Baca Juga  Menjadi Pengikut Ahlul Bait: Saat Cinta Harus Menjelma Menjadi Perjuangan

Amerika Serikat, menurut pandangan yang disampaikan pada pidato Syahid Ali Khamenei qs, terdapat gagasan tentang Middle East baru kadang disebut “Timur Tengah Baru”, kadang “Timur Tengah Raya”. Di balik istilah yang terdengar administratif dan modern itu terdapat pertarungan kepentingan yang jauh lebih besar: siapa yang menentukan arah politik, ekonomi, dan kebudayaan kawasan yang berada di jantung dunia Islam?

Kawasan itu bukan sekadar peta yang terbentang antara Laut Tengah dan Teluk Persia. Ia adalah wilayah dengan sejarah panjang, sumber energi strategis, konflik berkepanjangan, dan posisi penting dalam politik dunia. Karena itu, setiap proyek untuk mengubah tatanannya selalu memiliki konsekuensi jauh melampaui batas sebuah negara.

Pandangan Iran melihat proyek tersebut sebagai usaha mempertahankan dominasi lama dengan wajah baru. Tetapi sejarah kawasan justru memperlihatkan betapa sulitnya mengendalikan masyarakat yang telah menemukan keberanian politiknya sendiri.

Syria, Yaman, Irak, dan Palestina menjadi contoh dari kerumitan itu. Berbagai kekuatan besar dapat memasuki kawasan dengan armada, senjata, uang, dan jaringan politik. Tetapi semakin dalam mereka masuk, semakin tampak bahwa masyarakat tidak selalu bergerak sesuai rancangan para perancang strategi di luar negeri.

Di sinilah perlawanan memperoleh dimensi lain: ia menjadi persoalan daya tahan.

Sebuah kekuatan mungkin mampu memenangkan satu pertempuran, tetapi belum tentu mampu menguasai kesadaran manusia. Sebuah negara mungkin dapat memaksakan kehendak untuk sementara waktu, tetapi tidak mudah memerintah manusia yang telah merasa memiliki alasan untuk menolak.

Karena itu, permusuhan Amerika terhadap Republik Islam Iran, dalam pandangan pidato tersebut, tidak dipahami sebagai perselisihan biasa. Akar persoalannya dianggap lebih dalam. Republik Islam dipandang sebagai sistem yang lahir dari keyakinan keagamaan dan gerakan politik yang menjadikan agama sebagai salah satu sumber utama dalam membaca persoalan negara dan dunia.

Baca Juga  Doa yang Menyelamatkan: Mengapa Manusia Selalu Membutuhkan Hidayah Allah?

Bagi pandangan ini, benturan dengan kekuatan hegemonik hampir tidak terhindarkan. Sebab persoalannya bukan sekadar kebijakan luar negeri tertentu, bukan pula hanya tentang satu pemerintahan yang tidak menyukai pemerintahan lain. Yang dipertarungkan adalah gagasan tentang siapa yang berhak menentukan nilai, arah, dan masa depan masyarakat.

Maka slogan “Matilah Amerika” yang kerap terdengar dalam demonstrasi politik Iran, tidak dapat dipahami hanya dari permukaannya. Di baliknya terdapat simbol penolakan terhadap apa yang disebut sebagai dominasi: keadaan ketika kekuatan besar merasa memiliki hak untuk menentukan nasib pihak yang lebih lemah.

Tentu, slogan politik selalu membawa problemnya sendiri. Ia dapat menjadi ekspresi kemarahan, tetapi juga mudah kehilangan makna ketika diulang tanpa refleksi. Karena itu, yang lebih penting dari sebuah slogan barangkali adalah pertanyaan yang berada di belakangnya: terhadap apa sebenarnya seseorang sedang melawan?

Pertanyaan itu terasa relevan bahkan jauh dari kawasan Asia Barat.

Dunia modern memperlihatkan bahwa dominasi tidak selalu tampil dalam bentuk pendudukan militer. Ia bisa muncul melalui ketergantungan ekonomi, monopoli informasi, penguasaan teknologi, pembentukan opini, atau bahkan melalui kebiasaan menerima bahwa keputusan tentang kehidupan kita harus selalu datang dari pusat kekuasaan yang lebih besar.

Karena itu, kedaulatan pada akhirnya bukan hanya persoalan batas negara. Ia juga menyangkut kemampuan sebuah masyarakat untuk berpikir dengan kepalanya sendiri.

Bangsa yang kehilangan kemampuan itu mungkin tetap memiliki bendera, pemerintahan, dan wilayah. Tetapi secara perlahan ia dapat kehilangan sesuatu yang lebih penting: kehendak untuk menentukan dirinya sendiri.

Di sinilah pengalaman Iran menawarkan sebuah renungan yang lebih luas daripada sekadar pertentangan geopolitik. Perlawanan, pada tingkat paling mendasar, adalah upaya mempertahankan martabat manusia dari keyakinan bahwa dirinya tidak berdaya.

Baca Juga  Kembali ke Al-Qur’an: Jalan Keluar Umat Islam dari Kegelapan Zaman

Sebuah bangsa tidak selalu menang karena memiliki kekuatan terbesar. Kadang ia bertahan karena masih memiliki alasan untuk berdiri.

Dan mungkin itulah sebabnya perlawanan dapat menular. Bukan karena setiap bangsa harus meniru Iran, melainkan karena keberanian satu masyarakat dapat mengingatkan masyarakat lain pada sesuatu yang pernah mereka lupakan: bahwa masa depan tidak selalu harus diterima sebagai pemberian dari mereka yang paling kuat.

Pada akhirnya, persoalan paling penting bukan siapa yang meneriakkan slogan paling keras. Pertanyaan yang lebih sunyi adalah: apakah sebuah bangsa masih memiliki keberanian untuk menentukan jalan hidupnya sendiri?

Sebab ketika keberanian itu hilang, penjajahan tidak selalu perlu datang dengan pasukan. Cukup dengan membuat manusia percaya bahwa mereka memang tidak punya pilihan.

Bagikan:
Terkait
Komentar