KHAMENEI.ID– Ada pekerjaan yang selesai setelah tenaga dicurahkan. Ada pula pekerjaan yang menuntut sesuatu yang lebih sulit: bertahan setelah tenaga hampir habis, ketika hasil belum tampak dan jalan di depan masih dipenuhi ketidakpastian. Di titik semacam itu, manusia tidak hanya membutuhkan kemampuan bekerja. Ia membutuhkan kesabaran untuk terus berjalan dan tawakal untuk menerima bahwa hasil akhir tidak seluruhnya berada dalam genggamannya.
Gagasan itu menjadi penting terutama bagi mereka yang memikul tanggung jawab publik. Seorang pejabat, pemimpin, atau siapa pun yang diberi amanah mengurus kepentingan banyak orang, sesungguhnya tidak hanya sedang mengerjakan urusan dunia. Setiap keputusan dapat memperbaiki atau merusak kehidupan orang lain. Karena itu, kerja yang tampak administratif di permukaan dapat memiliki dimensi moral yang jauh lebih dalam.
Dalam pandangan keagamaan, membangun kehidupan tidak berhenti pada pembangunan yang kasatmata. Memperbaiki masyarakat, mengurus negara, menyelesaikan pekerjaan, atau menjaga amanah juga merupakan cara membangun diri sendiri. Dunia dibenahi, tetapi pada saat yang sama batin manusia sedang diuji: untuk apa ia bekerja, seberapa lama ia mampu bertahan, dan kepada siapa ia menyerahkan hasilnya.
Di sinilah sabar memperoleh makna yang lebih luas daripada sekadar menahan emosi.
Al-Qur’an menggambarkan orang-orang yang memperoleh ganjaran baik sebagai mereka yang bersabar dan bertawakal kepada Tuhan:
نِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sebaik-baik ganjaran bagi orang-orang yang bekerja adalah bagi mereka yang bersabar dan kepada Tuhan mereka bertawakal” (QS. Al-’Ankabut: 59)
Sabar dalam pengertian ini bukan sikap pasif. Ia bukan duduk diam sambil menunggu keadaan berubah. Sabar adalah kemampuan mempertahankan arah ketika keadaan justru mendorong seseorang untuk menyerah. Ia berarti keteguhan, ketahanan, dan keberanian untuk tidak melupakan tujuan hanya karena perjalanan menjadi lebih berat dari yang diperkirakan.
Karena itu, kesabaran memiliki hubungan erat dengan kehendak manusia. Dalam banyak pertarungan, yang menentukan kemenangan bukan semata-mata siapa yang memiliki kekuatan lebih besar, melainkan siapa yang lebih lama mampu menjaga kehendaknya tetap utuh.
Al-Qur’an bahkan memberikan gambaran yang keras tentang daya tahan itu: ketika jumlah orang beriman jauh lebih sedikit daripada lawannya, kesabaran dapat menjadi sumber kekuatan yang memungkinkan mereka menghadapi lawan yang berlipat ganda.
Dalam kehidupan modern, medan pertempuran tentu tidak selalu berupa perang. Ia dapat berupa birokrasi yang lamban, persoalan ekonomi, konflik kepentingan, tekanan politik, kegagalan sebuah program, atau sekadar pekerjaan sehari-hari yang tidak kunjung menunjukkan hasil. Banyak perjuangan berlangsung tanpa suara senjata. Namun wataknya tetap sama: pertarungan kehendak.
Pihak yang lebih dahulu kehilangan keyakinan terhadap tujuannya sering kali telah kalah sebelum pertarungan benar-benar selesai.
Di titik ini, sabar dan tawakal bertemu. Sabar menjaga manusia agar tidak berhenti. Tawakal menjaga manusia agar tidak menganggap dirinya sebagai penguasa mutlak atas hasil.
Perbedaan ini penting. Sebab manusia modern mudah terjebak pada dua kutub yang sama-sama menyesatkan. Di satu sisi, ia dapat merasa bahwa seluruh keberhasilan bergantung pada dirinya. Jika berhasil, ia menganggap dirinya sumber segala sesuatu; jika gagal, ia tenggelam dalam rasa bersalah atau keputusasaan. Di sisi lain, ia dapat menggunakan tawakal sebagai alasan untuk tidak melakukan apa-apa.
Padahal tawakal bukanlah menunggu keajaiban sambil meninggalkan ikhtiar.
Tawakal justru dimulai setelah seseorang bekerja.
Kerjakan apa yang menjadi tanggung jawab. Susun rencana. Ambil keputusan. Hadapi risiko. Gunakan pengetahuan dan kemampuan yang tersedia. Setelah itu, serahkan hasil akhirnya kepada Tuhan.
Ada ketenangan tertentu dalam cara pandang semacam ini. Manusia tetap dituntut serius terhadap proses, tetapi tidak dibebani ilusi bahwa ia mampu mengendalikan seluruh akibat dari tindakannya.
Gagasan ini menjadi semakin relevan di tengah zaman yang mengukur keberhasilan dengan hasil yang serba cepat. Kita terbiasa dengan angka, target, tenggat, dan ukuran kinerja. Kegagalan sedikit saja dapat membuat seseorang merasa seluruh usahanya sia-sia. Padahal sebagian pekerjaan penting memang membutuhkan waktu sebelum hasilnya terlihat.
Pohon tidak tumbuh karena seseorang terus-menerus menarik batangnya ke atas. Ia tumbuh karena akar bekerja dalam gelap, jauh dari pandangan manusia.
Begitu pula banyak perubahan sosial. Ia sering dimulai dari pekerjaan yang tampak kecil, berulang, bahkan membosankan. Orang yang membangun institusi yang sehat, mendidik generasi, memperbaiki pelayanan publik, atau menjaga kepercayaan masyarakat mungkin tidak segera melihat buah pekerjaannya. Namun ketiadaan hasil yang cepat bukan berarti ketiadaan makna.
Dalam konteks yang lebih luas, kesabaran juga menjadi ukuran moral bagi mereka yang memegang kekuasaan. Kekuasaan selalu menawarkan godaan untuk mengejar hasil instan. Padahal masyarakat tidak selalu membutuhkan pemimpin yang paling cepat bergerak. Mereka membutuhkan orang yang mampu menjaga arah ketika tekanan datang dari berbagai sisi.
Sebab ada perbedaan besar antara bergerak cepat dan bergerak benar.
Di sinilah tawakal memberikan batas pada ambisi. Ia mengingatkan bahwa manusia bertugas mengusahakan yang terbaik, bukan menguasai segala sesuatu. Ada wilayah yang menjadi tanggung jawab manusia dan ada wilayah yang akhirnya berada di luar kendalinya.
Mungkin karena itu, sabar dan tawakal bukan dua ajaran untuk membuat manusia menerima keadaan begitu saja. Keduanya justru dapat menjadi tenaga untuk menghadapi keadaan. Sabar berkata: jangan berhenti hanya karena jalan panjang. Tawakal berkata: jangan mengira seluruh dunia berada dalam genggamanmu.
Di antara keduanya, manusia belajar bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa menjadi sombong, dan menerima hasil tanpa kehilangan harapan.
Pada akhirnya, barangkali kualitas seseorang tidak hanya terlihat dari seberapa banyak pekerjaan yang berhasil ia selesaikan. Ia juga terlihat dari bagaimana ia bertahan ketika hasil belum datang, bagaimana ia menjaga niat ketika pujian tidak terdengar, dan bagaimana ia tetap bekerja ketika masa depan belum memberikan kepastian.
Sebab hidup tidak selalu meminta manusia untuk menang hari ini. Kadang-kadang ia hanya meminta satu hal yang lebih sederhana sekaligus lebih sulit: tetap berdiri, tetap bekerja, dan tidak kehilangan arah.







