Persatuan dan Kemurnian Iman: Mengapa Kita Tak Perlu Menyingkirkan Semua Orang

KHAMENEI.ID– Ada godaan yang selalu muncul ketika sebuah kelompok merasa sedang berada dalam masa perubahan: menyaring orang. Yang dianggap kurang teguh disisihkan, yang berbeda dicurigai, yang pernah keliru ditempatkan di luar lingkaran. Atas nama kemurnian, batas-batas diperketat. Atas nama perjuangan, jumlah orang justru diperkecil.

Di titik itulah pertanyaan tentang persatuan dan kemurnian iman menjadi penting. Apakah sebuah masyarakat harus menjadi semakin kecil agar semakin murni? Ataukah kemurnian justru dapat tumbuh dengan memperluas lingkaran orang-orang yang terus memperbaiki dirinya?

Gagasan itu terasa sederhana, tetapi konsekuensinya jauh. Sebab sejarah menunjukkan bahwa tidak ada komunitas manusia yang dihuni hanya oleh orang-orang tanpa kelemahan.

Dalam masyarakat awal Islam pun demikian. Di sekitar Nabi Muhammad saw terdapat sahabat-sahabat dengan tingkat keimanan, keteguhan, dan kematangan yang berbeda. Ada Salman al-Farisi, Abu Dzar, Ubay bin Ka’ab, Ammar bin Yasir, dan banyak lainnya yang dikenal karena kedalaman pengabdian mereka. Namun di sisi lain ada pula orang-orang yang pernah melakukan kesalahan, ditegur, terlambat menjalankan kewajiban, atau mengambil keputusan yang kurang tepat.

Jika setiap kesalahan dijadikan alasan untuk mengeluarkan seseorang dari lingkaran, barangkali yang tersisa bukan sebuah masyarakat, melainkan sebuah ruang yang nyaris kosong.

Manusia memang tidak lahir dalam keadaan selesai. Ia tumbuh melalui kesalahan, teguran, pengalaman, dan kesempatan kedua. Karena itu, kemurnian sebuah komunitas tidak terutama ditentukan oleh seberapa cepat ia mengeluarkan orang yang dianggap tidak sempurna, melainkan oleh seberapa kuat ia membantu orang-orang di dalamnya menjadi lebih baik.

Namun jika ditarik lebih jauh, persoalannya bukan berarti semua perbedaan harus dihapus. Ada garis yang tetap diperlukan. Persatuan tidak sama dengan mencampurkan segala sesuatu tanpa prinsip. Persatuan yang sehat membutuhkan dasar bersama.

Baca Juga  Menjadi Merakyat: Ketika Kesederhanaan Nabi Lebih Nyata daripada Sekadar Slogan

Di sinilah makna persatuan menjadi lebih jernih: bersatu bukan berarti setiap orang harus memiliki tingkat keyakinan, pengalaman, atau kemampuan yang sama. Persatuan berarti memiliki prinsip yang menjadi titik temu. Selama prinsip-prinsip dasar itu diterima, perbedaan kadar, pengalaman, dan kelemahan tidak dengan sendirinya menjadi alasan untuk saling meniadakan.

Dengan kata lain, persatuan tidak harus dibangun dengan mengorbankan prinsip. Sebaliknya, prinsiplah yang menjadi fondasinya.

Dalam kehidupan sosial, gagasan ini sebenarnya sangat relevan. Sebuah organisasi mahasiswa, komunitas keagamaan, lembaga pendidikan, bahkan sebuah bangsa, hampir selalu terdiri atas manusia dengan kualitas yang beragam. Ada yang idealis, ada yang pragmatis. Ada yang disiplin, ada yang masih belajar. Ada yang cepat memahami persoalan, ada yang membutuhkan waktu. Ada yang kuat dalam keyakinan, ada pula yang sedang mencari bentuk.

Membayangkan semuanya harus langsung berada pada tingkat yang sama adalah ilusi.

Yang lebih masuk akal ialah memperbesar jumlah orang yang terus bergerak menuju kualitas yang lebih baik.

Karena itu, kemurnian tidak semestinya dipahami sebagai proyek pembersihan manusia. Ia lebih dekat dengan proyek pembentukan manusia. Daripada sibuk mencari siapa yang harus dikeluarkan, pertanyaan yang lebih penting adalah: bagaimana membuat orang-orang di sekitar kita menjadi lebih jujur, lebih bertanggung jawab, lebih teguh, dan lebih berguna?

Perubahan semacam itu dimulai dari lingkaran yang paling dekat. Dari diri sendiri, kemudian keluarga, sahabat, komunitas, dan lingkungan sosial. Kemurnian yang tumbuh dari dalam perlahan akan menemukan bentuknya dalam kehidupan bersama.

Di sinilah persatuan dan kemurnian iman bertemu. Persatuan tanpa prinsip dapat berubah menjadi kompromi yang kehilangan arah. Tetapi kemurnian tanpa keluasan hati dapat berubah menjadi fanatisme yang gemar mencari musuh.

Baca Juga  Ketika Ketakutan Gagal Menguasai: Rahasia Keteguhan Hati dalam Doa Sahifah Sajadiyah

Keduanya membutuhkan keseimbangan.

Kita membutuhkan prinsip agar persatuan tidak menjadi sekadar kerumunan. Kita membutuhkan keluasan hati agar prinsip tidak berubah menjadi alasan untuk merasa paling suci.

Masalahnya, dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering lebih mudah menilai orang lain daripada memperbaiki dirinya sendiri. Menunjuk kekurangan orang lain memberi perasaan seolah-olah kita sedang menjaga kemurnian. Padahal bisa jadi yang sedang kita pelihara hanyalah kesombongan.

Seseorang terlambat menjalankan kewajiban, lalu dianggap tidak layak. Seseorang pernah keliru mengambil keputusan, lalu dicap tidak konsisten. Seseorang memiliki kelemahan tertentu, lalu seluruh dirinya dinilai dari kelemahan itu. Perlahan, komunitas berubah menjadi ruang penghakiman.

Padahal manusia tidak sesederhana label yang kita tempelkan kepadanya.

Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang lebih besar: bagaimana sebuah masyarakat bertahan tanpa kehilangan arah? Jawabannya bukan dengan menjadikan keseragaman sebagai ukuran. Masyarakat yang kuat justru mampu mempertahankan prinsip sambil memberi ruang bagi proses pertumbuhan manusia.

Sebab kemurnian yang sejati bukanlah keadaan ketika tidak ada lagi orang yang lemah. Kemurnian adalah keadaan ketika semakin banyak orang memiliki kehendak untuk memperbaiki kelemahannya.

Maka, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan, “Siapa yang harus kita keluarkan?” Melainkan, “Berapa banyak orang yang bisa kita bantu untuk tumbuh?”

Perbedaan dua pertanyaan itu tampak kecil, tetapi menghasilkan watak sosial yang sama sekali berbeda. Pertanyaan pertama melahirkan pagar. Pertanyaan kedua membangun jalan.

Pada akhirnya, persatuan bukan pekerjaan mengumpulkan orang-orang yang sempurna. Ia adalah usaha mempertemukan manusia yang beragam di atas prinsip yang diyakini bersama. Sedangkan kemurnian bukan obsesi untuk memiliki komunitas tanpa cacat. Ia adalah perjalanan panjang untuk membuat diri dan lingkungan semakin jujur terhadap nilai yang mereka yakini.

Baca Juga  Generasi Muda Iran dan Pertarungan Narasi: Benarkah Mereka Kehilangan Harapan?

Mungkin karena itu, sebuah komunitas tidak menjadi kuat ketika hanya menyisakan mereka yang dianggap paling murni. Ia menjadi kuat ketika orang-orang yang masih memiliki kekurangan tetap diberi kesempatan untuk tumbuh, dan mereka yang sudah lebih matang memilih membantu, bukan menghakimi.

Sebab manusia yang hari ini dianggap lemah bisa saja menjadi orang yang paling teguh esok hari. Dan masyarakat yang hari ini sibuk mencari siapa yang tidak layak berada di dalamnya, bisa jadi sedang kehilangan kesempatan untuk membentuk manusia-manusia terbaiknya sendiri.

Bagikan:
Terkait
Komentar