Setelah Diperalat, Dibuang: Pelajaran tentang Persahabatan dengan “Setan” dalam Politik dan Kehidupan

KHAMENEI.ID– Ada pola yang berulang dalam sejarah. Seorang penguasa merasa kuat karena memiliki pelindung besar. Ia yakin dukungan itu akan menyelamatkannya dalam keadaan apa pun. Namun ketika badai datang dan kekuasaan runtuh, sahabat yang selama ini dipuja justru menutup pintu. Yang tersisa hanyalah kesepian, penyesalan, dan kehinaan.

Fenomena itulah yang disinggung dalam sebuah pidato politik Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs yang mengaitkan hubungan negara-negara lemah dengan kekuatan adidaya sebagai hubungan yang menyerupai relasi manusia dengan setan. Analogi itu terdengar keras, tetapi sesungguhnya menyimpan pelajaran yang jauh melampaui urusan politik. Ia berbicara tentang watak ketergantungan, tentang ilusi perlindungan, dan tentang nasib mereka yang menggantungkan harga dirinya kepada pihak yang hanya mengejar kepentingan.

Ketika gelombang revolusi mengguncang Mesir pada 2011, nama Husni Mubarak menjadi simbol dari seorang pemimpin yang kehilangan pijakan. Selama bertahun-tahun ia dikenal sebagai sekutu penting Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Namun saat rakyat turun ke jalan dan kekuasaannya mulai runtuh, dukungan yang selama ini tampak kokoh perlahan menghilang. Dalam pidato tersebut disebutkan bahwa nasib Mubarak tidak berbeda dengan sejumlah tokoh lain yang pernah menjadi sekutu Barat: ketika mereka tidak lagi berguna, pintu yang dulu terbuka lebar mendadak tertutup.

Pesan utamanya sederhana: hubungan yang dibangun semata-mata atas dasar kepentingan tidak mengenal kesetiaan. Selama seseorang berguna, ia dirangkul. Ketika manfaatnya habis, ia ditinggalkan.

Untuk menjelaskan gambaran itu, dalam pidato Sayyid Ali Khamenei qs tersebut merujuk pada Doa ke-10 dari Sahifah Sajjadiyah, kumpulan doa yang dinisbatkan kepada Imam Ali Zainal Abidin a.s. Di dalam doa itu terdapat pengakuan yang sangat manusiawi tentang kelemahan manusia di hadapan godaan.

Baca Juga  Saat Dunia Tak Lagi Stabil, Kita Belajar Menopang Diri dari Dalam 

Salah satu bagian doanya berbunyi:

اللَّهُمَّ إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ شَمِتَ بِنَا إِذْ شَايَعْنَاهُ عَلَى مَعْصِيَتِكَ، فَصَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِهِ، وَلَا تُشْمِتْهُ بِنَا بَعْدَ تَرْكِنَا إِيَّاهُ لَكَ، وَرَغْبَتِنَا عَنْهُ إِلَيْكَ

Artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya setan telah mengejek kami ketika kami mengikutinya dalam bermaksiat kepada-Mu. Maka limpahkanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarganya, dan jangan biarkan setan kembali mencemooh kami setelah kami meninggalkannya demi taat kepada-Mu dan kembali kepada-Mu”

Kalimat ini mengandung gambaran yang tajam. Setan menggoda manusia untuk melakukan kesalahan. Namun setelah manusia terjerumus, setan tidak menolongnya. Ia justru mencemooh dan menertawakannya. Dalam bahasa yang lebih sederhana: setan adalah provokator yang tidak pernah mau menanggung akibat dari provokasi yang ia lakukan.

Di sinilah letak hubungan antara doa tersebut dan kritik terhadap ketergantungan politik. Kekuatan besar sering kali mendukung pihak lain bukan karena cinta, persahabatan, atau komitmen moral, melainkan karena kepentingan. Ketika kepentingan itu selesai, hubungan pun berakhir. Persis seperti setan yang mengajak manusia melangkah ke jurang lalu berdiri di tepi jurang sambil menyaksikan korbannya jatuh.

Namun pelajaran ini sesungguhnya tidak hanya berlaku dalam geopolitik.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang terjebak dalam bentuk-bentuk “persahabatan setan” yang lebih halus. Ada yang mengorbankan prinsip demi diterima lingkungan tertentu. Ada yang rela kehilangan integritas demi mempertahankan dukungan kelompok. Ada pula yang bergantung sepenuhnya pada kekuasaan, jabatan, atau jaringan tertentu, seolah-olah semua itu akan menjadi penyelamat permanen.

Padahal sejarah menunjukkan bahwa tidak ada kekuatan dunia yang benar-benar abadi. Jabatan berubah. Pengaruh memudar. Aliansi bergeser. Orang-orang yang hari ini bertepuk tangan bisa menjadi pihak pertama yang meninggalkan kita ketika keadaan berubah.

Baca Juga   Menghitung Luka kepada Tuhan: Makna Sabar dan Pahala dalam Kehilangan Syuhada

Karena itu, doa dalam Sahifah Sajjadiyah tidak sekadar berbicara tentang godaan spiritual. Ia juga berbicara tentang kemerdekaan batin. Manusia diajak untuk tidak menyerahkan nasibnya kepada sesuatu yang rapuh. Ketika seseorang menggantungkan seluruh harapan kepada kekuatan selain Tuhan, ia sedang menempatkan dirinya pada posisi yang rentan. Ia dapat diperalat, dimanfaatkan, lalu ditinggalkan.

Di bagian lain doa tersebut, terdapat pengakuan mendalam tentang ketergantungan manusia kepada Allah semata. Manusia digambarkan sebagai makhluk yang miskin, lemah, dan membutuhkan pertolongan. Namun justru kesadaran akan kelemahan itulah yang menjadi sumber kemuliaan. Sebab ia tidak lagi menggantungkan harga dirinya kepada makhluk lain.

Inilah pesan yang tetap relevan di tengah dunia modern yang dipenuhi relasi transaksional. Kita hidup pada zaman ketika loyalitas sering kali ditentukan oleh keuntungan. Persahabatan berubah menjadi kontrak. Dukungan berubah menjadi investasi. Bahkan nilai-nilai moral kadang dipertukarkan dengan kenyamanan sesaat.

Dalam situasi seperti itu, doa ini mengingatkan bahwa kehinaan sering kali bermula ketika seseorang mencari kekuatan dari tempat yang salah. Sebaliknya, kemuliaan lahir ketika manusia memiliki keberanian untuk berdiri di atas prinsip, meski harus kehilangan dukungan yang tampak menguntungkan.

Sejarah para penguasa yang ditinggalkan sekutunya hanyalah cermin besar dari kenyataan yang lebih dekat dengan kehidupan kita. Setiap kali kita menggadaikan prinsip demi keuntungan sesaat, kita sedang mengambil risiko yang sama: diperalat ketika dibutuhkan dan ditinggalkan ketika tidak lagi berguna.

Mungkin itulah makna terdalam dari peringatan dalam doa tersebut. Setan bukan hanya sosok yang menggoda manusia untuk berbuat salah. Ia adalah simbol dari setiap kekuatan yang mengajak kita meninggalkan kebenaran, lalu membiarkan kita menanggung akibatnya sendirian. Dan sejarah, berulang kali, menunjukkan bahwa nasib orang yang mengikuti jalan itu hampir selalu sama: kehilangan kemerdekaan, kehilangan kehormatan, dan akhirnya kehilangan tempat untuk kembali.

Baca Juga  Imam Ali Khamenei qs, Kemandirian Nasional dan Mitos Isolasi
Bagikan:
Terkait
Komentar