Islam dan Kebebasan Manusia: Pesan Abadi yang Tak Pernah Usang

KHAMENEI.ID– Kata “kebebasan” hari ini terdengar akrab. Ia hadir dalam pidato politik, slogan media sosial, hingga iklan-iklan yang menjual gaya hidup. Namun semakin sering diucapkan, semakin kabur pula maknanya. Manusia merasa bebas memilih, tetapi tetap terbelenggu oleh ketakutan, hawa nafsu, propaganda, dan kekuasaan yang tak selalu tampak. Di tengah paradoks itu, Islam sejak awal sebenarnya membawa sebuah pesan yang jauh melampaui sekadar pembebasan politik. Ia datang untuk membebaskan manusia, pertama-tama, dari penjara yang ada di dalam dirinya sendiri.

Ketika Nabi Muhammad saw diutus, dunia bukan hanya dipenuhi kerajaan-kerajaan besar, tetapi juga dipenuhi manusia yang kehilangan kemerdekaannya. Jazirah Arab memang tenggelam dalam konflik antarsuku, ketimpangan, dan penyembahan berhala. Namun keadaan serupa juga melanda pusat-pusat peradaban besar seperti Kekaisaran Romawi dan Persia Sasaniyah. Di balik kemegahan istana dan kekuatan militer, kehidupan rakyat kecil dipenuhi penindasan, perang demi ambisi para penguasa, serta hilangnya martabat manusia.

Dalam pandangan Islam, persoalan terbesar saat itu bukan sekadar siapa yang berkuasa, melainkan cara manusia memandang dirinya sendiri. Ketika manusia kehilangan arah, ia mudah tunduk kepada siapa saja yang menjanjikan keamanan, kekayaan, atau kekuasaan. Kebebasan pun berubah menjadi ilusi.

Imam Ali bin Abi Thalib a.s menggambarkan keadaan masyarakat sebelum cahaya Islam menyinari dunia dengan bahasa yang sangat kuat. Beliau berkata:

فِي فِتَنٍ دَاسَتْهُمْ بِأَخْفَافِهَا وَوَطِئَتْهُمْ بِأَظْلَافِهَا

“Mereka hidup di tengah berbagai fitnah yang menginjak mereka dengan telapak dan kuku-kukunya”

Dalam khutbah panjangnya di Nahjul Balaghah, Imam Ali a.s melukiskan sebuah zaman ketika tali agama terputus, keyakinan terguncang, jalan keluar terasa sempit, dan manusia kehilangan kemampuan membedakan mana jalan yang benar dan mana yang menyesatkan. Petunjuk menjadi redup, sementara kebutaan moral justru menyelimuti kehidupan. Manusia mengikuti langkah setan tanpa menyadarinya hingga akhirnya tersesat dalam kebingungan yang mereka anggap sebagai kewajaran.

Baca Juga  Membangun Generasi Revolusioner, Jalan Menuju Peradaban Islam Modern 

Gambaran itu terasa mengejutkan karena begitu dekat dengan kehidupan modern. Fitnah yang dimaksud bukan sekadar tuduhan atau berita bohong, melainkan suasana penuh debu yang menghalangi pandangan. Ketika debu beterbangan, mata masih terbuka, tetapi tak lagi mampu melihat dengan jernih. Orang tetap berjalan, namun kehilangan arah.

Di titik inilah Islam menawarkan bentuk kebebasan yang lebih mendasar. Sebelum membebaskan masyarakat dari tirani politik, Islam terlebih dahulu membebaskan jiwa manusia dari tirani pikiran, prasangka, ketakutan, dan berbagai ilusi yang menguasai hidupnya. Sebab seseorang yang masih diperbudak oleh hawa nafsu, keserakahan, atau rasa takut sesungguhnya belum merdeka, meskipun hidup di negeri yang menjunjung tinggi kebebasan.

Gagasan ini kemudian menyentuh inti ajaran tauhid. Ketika seorang Muslim mengucapkan la ilaha illallah, ia tidak sekadar mengakui keberadaan Tuhan. Ia juga menolak segala bentuk “tuhan-tuhan kecil” yang selama ini mengendalikan hidup manusia: kekuasaan, uang, popularitas, bahkan ego diri sendiri. Tauhid adalah deklarasi pembebasan paling radikal karena ia memutus seluruh rantai ketergantungan selain kepada Allah.

Dalam khutbah yang sama, Imam Ali a.s membuka dengan kesaksian tauhid yang sarat makna. Beliau mengingatkan bahwa iman bukan sekadar ucapan, melainkan pegangan hidup yang menjaga manusia ketika menghadapi berbagai kengerian zaman. Tauhid menjadi sumber kekuatan yang mengusir keraguan, menghidupkan harapan, sekaligus menghancurkan dominasi kebatilan.

Karena itu, kebebasan dalam Islam selalu berawal dari hati. Revolusi terbesar bukanlah pergantian rezim, melainkan perubahan kesadaran. Ketika manusia mulai menyadari bahwa dirinya diciptakan sebagai makhluk yang mulia, ia akan menolak diperlakukan sebagai budak oleh siapa pun. Dari kesadaran batin itulah lahir keberanian untuk melawan ketidakadilan dalam kehidupan nyata.

Baca Juga  Bukan Karena Salah, Tetapi Karena Terlalu Adil: Tragedi Pemerintahan Imam Ali 

Sejarah Islam memperlihatkan bahwa perubahan besar memang selalu dimulai dari sana. Masyarakat yang sebelumnya terpecah oleh kesukuan perlahan dipersatukan oleh keyakinan bahwa semua manusia memiliki martabat yang sama di hadapan Allah. Budak dapat menjadi pemimpin, orang miskin memperoleh haknya, sementara kekuasaan tidak lagi dipandang sebagai hak istimewa segelintir elite, melainkan amanah yang harus ditegakkan dengan keadilan.

Namun jika ditarik lebih jauh, pesan itu ternyata tidak pernah kehilangan relevansinya. Dunia modern memang menawarkan lebih banyak pilihan dibanding masa lampau, tetapi belum tentu menghadirkan manusia yang lebih bebas. Algoritma menentukan apa yang kita baca, pasar membentuk apa yang kita inginkan, opini publik mengarahkan apa yang harus kita pikirkan. Tanpa disadari, manusia bisa kembali hidup dalam “kabut fitnah” seperti yang digambarkan Imam Ali a.s berabad-abad silam.

Karena itu, kebebasan sejati bukanlah kemampuan melakukan apa saja yang diinginkan. Kebebasan adalah kemampuan menentukan jalan hidup dengan kesadaran yang jernih, tanpa diperbudak oleh tekanan luar maupun dorongan batin yang menyesatkan. Inilah kemerdekaan yang ingin dibangun Islam: manusia yang mampu berpikir merdeka, beriman secara sadar, dan bertindak berdasarkan keadilan.

Pesan itu tidak pernah usang. Ia tetap hidup setiap kali manusia berani mempertanyakan belenggu yang selama ini dianggap sebagai bagian alami dari kehidupan. Islam mengingatkan bahwa setiap zaman memiliki bentuk penindasannya sendiri, tetapi juga selalu membuka jalan menuju pembebasan. Jalan itu dimulai bukan dari perubahan dunia, melainkan dari keberanian membebaskan hati. Sebab hanya manusia yang merdeka di dalam dirinya yang mampu menghadirkan kebebasan bagi dunia di sekitarnya.

Bagikan:
Terkait
Komentar